Cerita Bisnis Mount Vera Sejati, Gandeng Ratusan Petani Gunungkidul, Budidayakan Lidah Buaya

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Gagasan budidaya lidah buaya ini berawal dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat setempat, yang sering kali kesulitan mendapatkan pemasukan memadai.

Cerita Bisnis Mount Vera Sejati, Gandeng Ratusan Petani Gunungkidul, Budidayakan Lidah Buaya. (Foto:

IDXChannel—Sebuah unit usaha, PT Mount Vera Sejati, sukses memberdayakan ratusan petani di Gunungkidul, Yogyakarta, untuk membudidayakan lidah buaya hingga bernilai ekonomis. Perusahaan ini berhasil terpilih untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2026. 

Gagasan budidaya lidah buaya ini berawal dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat setempat, yang sering kali kesulitan mendapatkan pemasukan memadai saat musim kemarau panjang melanda. 

Baca Juga:
Cerita Bisnis UMKM Cokelat, Gandeng Petani hingga Perkenalkan Produk ke Konsumen Mancanegara

“Saya mencoba riset mandiri untuk mencari dan memilih tanaman yang tangguh dan sanggup berkembang optimal saat kemarau sekaligus memiliki nilai ekonomi. Lidah buaya jadi jawaban yang potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut,” ucap sang founder, Alan Efendhi, dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan (21/10/2026).

Seperti diketahui, Kabupaten Gunungkidul dikenal dengan kontur lahannya yang dipenuhi bebatuan karst, cuaca yang terik, dan minim sumber air. Sehingga sulit untuk dijadikan lahan pertanian. 

Baca Juga:
Kisah Sukses dan Perjalanan Martha Tilaar, Pendiri Merek Kosmetik Legendaris Indonesia

Di sinilah langkah kaki PT Mount Vera Sejati berpijak sejak 2014. Merajut asa untuk membuktikan bahwa kearifan lokal mampu diolah sedemikian rupa untuk hadir dengan ragam bentuk: dari isian sehat minuman dan mangkuk camilan hingga menjadi bagian dari rantai produksi industri obat dan kecantikan yang jauh lebih kompleks.

Keindahan dari jenama Rasane Vera ini terletak pada jalinan kemitraan yang hangat bersama masyarakat lokal. Tidak berjalan sendirian, PT Mount Vera Sejati merangkul lebih dari 125 petani kecil di atas lahan yang membentang sekitar dua hektare. 

Baca Juga:
Program Rempah Indonesia Sukses Cetak Transaksi Rp560 Miliar di Trade Expo 2026

Dari tangan terampil para petani mitra inilah, pelepah-pelepah lidah buaya segar dipanen dengan penuh kepedulian, menghubungkan sumber daya alam perdesaan dengan rantai nilai bernilai tinggi. Pemberdayaan masyarakat ini bergerak lebih jauh. 

“Rasane Vera membentuk kelompok perempuan tani dan kami latih untuk mengolah dan menciptakan produk bernilai tambah lain, seperti dodol lidah buaya. Hasil karya tangan mereka kemudian kami serap untuk dijual di Aloe Land, sebuah kawasan agrowisata di bawah naungan PT yang sama. Ini menjadi penyemangat bagi warga untuk berkreasi menghasilkan produk unik dan inovatif hasil dari lidah buaya,” tutur Alan. 

Setiap jengkal proses pengolahan lidah buaya di sini dirawat dengan standar dedikasi yang tinggi. Dimulai dari tahap persiapan melalui pemilahan pelepah secara teliti untuk mendapatkan grade terbaik, dilanjutkan dengan proses higienis yang menjaga standar dan nutrisi tanaman. 

Seluruh operasionalnya turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular, misalnya dengan mengolah bagian pelepah lidah buaya yang tidak terpakai menjadi pupuk organik dan eco-enzyme guna mengembalikan kebaikan ke tanah tempatnya tumbuh.

Tahapan kontrol kualitas yang ketat serta pengemasan yang aman memastikan kebaikan alam Gunungkidul tetap terjaga utuh hingga sampai ke tangan konsumen dan mitra bisnis. Mount Vera Sejati menyasar konsumen dengan skema B2C dan B2B. 

“Untuk konsumen akhir, kami hadirkan aneka produk siap santap yang penuh serat dan menyehatkan, seperti Nata de Aloe Vera dan Aloe Vera Cube Drink. Di segmen B2B, kami tambahkan pilihan berupa Pure Aloe Vera Slice dan Liquid Gel yang menjadi bahan baku strategis bagi industri makanan, minuman, kosmetik, hingga farmasi,” jelas Alan.

Kualitas produk dan kapasitas produksi yang tinggi ini lantas memikat perhatian pengunjung asing selama gelaran Trade Expo Indonesia 2026, salah satunya ketika calon buyer asal Swedia menaruh ketertarikan besar untuk membeli produk mereka, lengkap dengan permintaan khusus berupa potongan lidah buaya dalam ukuran yang lebih kecil. 

Pengalaman ini makin menegaskan bahwa fleksibilitas Rasane Vera dalam memenuhi preferensi mitra bisnis menjadi keunggulan tersendiri. 

Melalui positioning yang strategis, penerapan ekonomi sirkular serta pemberdayaan masyarakat, fleksibilitas dalam suplai, dan penguasaan seluk-beluk lidah buaya membawa Rasane Vera pada sederet penghargaan, salah satunya terpilih menjadi Young Ambassador Agriculture 2023. 

Dengan semangat "Local Strength. Flexible B2B Potential", Rasane Vera kini memiliki target ekspor ke sejumlah negara tujuan, antara lain Persatuan Emirat Arab (PEA), Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. 

Kebaikan alam Gunungkidul ini siap melangkah lebih jauh, menembus pasar internasional dan menginspirasi dunia bahwa di tempat yang terkesan gersang sekalipun, potensi ekonomi tetap dapat diciptakan.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kardinal Suharyo Tinjau IKN: Gereja Berwajah Inkulturasi Disiapkan Menjadi Basilika Pertama Indonesia
• 4 jam lalu
0
thumb
KPK Telusuri Asal-usul Rp250 Juta dari PCNU Nias dalam Penyidikan Kasus ATR/BPN
• 10 jam lalu
0
thumb
Viral Video Ajudan Gubernur Kaltim Diduga Arogan ke Mahasiswa, Terancam Ditarik ke Kesatuan
• 14 jam lalu
0
thumb
Ricuh, Massa Pendukung Sudewo Merangsek Masuk Pagar Pembatas 
• 2 jam lalu
0
thumb
Buka Rapat 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Seskab Teddy Pamerkan Capaian Kabinet
• 2 menit lalu
0
Berhasil disimpan.