The New York Times Sebut Ekonomi RI Bom Waktu, Airlangga Yakin Fundamental Kuat

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menanggapi laporan media internasional yang menyoroti kondisi perekonomian Indonesia. 

Pada 19 Oktober 2026,  The New York Times menyoroti kondisi ekonomi Indonesia melalui sebuah laporan berjudul ‘A Ticking Time Bomb’: An Economic Crisis Looms in Indonesia’ (‘Bom Waktu yang Berdetik’: Krisis Ekonomi Mengancam Indonesia). Merespons laporan tersebut, Airlangga menilai secara fundamental ekonomi Indonesia masih solid. 

“Di antara berbagai negara pertumbuhan ekonomi kita (5,45%)  juga tertinggi termasuk di G20. Rata-rata dunia di 3%,” kata Airlangga, ditemui di kanto Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (21/10).

Di sisi lain, ia menyampaikan angka inflasi indonesia juga tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Begitu pula dengan cadangan devisa yang dinilainya masih kuat. 

“Inflasi kita juga masih sekitar 3% yang jauh lebih redah dibandingkan berbagai negara lain, cadangan devisa kita juga relatif kuat untuk 5 bulan impor. Jadi Indonesia sih confident,” kata Airlangga.

Adapun, dalam laporannya The New York Times menyebut bahwa adanya ketidakselarasan data pemerintah soal pertumbuhan ekonomi  dengan kondisi di lapangan yang dirasakan masyarakat. 

Capital Economics, sebuah firma riset independen menyatakan, klaim pertumbuhan yang lebih cepat pada kuartal keempat tahun lalu “sulit untuk diselaraskan” dengan data lain yang justru menunjukkan pelemahan ekonomi. Dalam laporannya, media Amerika Serikat itu menyebut kondisi di lapangan menunjukkan banyak masyarakat Indonesia merasa bahwa kondisi ekonomi saat ini sudah seperti berada dalam resesi.

Dalam laporannya itu, New York Times menceritakan kisah dari sejumlah masyarakat dengan latar belakang berbeda.  Salah satunya Novri Putra (28), seorang pengemudi ojek online yang merupakan lulusan perguruan tinggi dengan gelar di bidang teknologi informasi. 

Kepada New York Times, Novri menyampaikan ambisi sederhana alasan ia mengambil studi tersebut, yakni untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil. Ia sendiri masuk kuliah pada 2018. Setelah lusus, ia menjadi pengemudi ojol dengan penghasilan sekitar kurang dari Rp4  juta tiap bulan. Ini di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 5.729.876 per bulan. Novi mengaku dimarahi orang tuanya hampir saban hari lantaran profesinya. 

“Mereka mungkin merasa malu karena anaknya sudah kuliah, tetapi akhirnya malah menjadi pengemudi ojek,” kata Novi, dikutip dari laporan The New York Times, Rabu (21/10). 

Laporan tersebut menuliskan, kondisi yang dialami Novri tersebut mencerminkan masalah perekonomian yang lebih luas di Indonesia, yang mana dulunya dikenal stabil kini menunjukkan tanda-tanda tekanan yang mengkhawatirkan.

Di sisi lain, sama seperti negara-negara tetangga di Asia Tenggara lainnya, Indonesia tengah berjuang menghadapi dampak dari perang di Iran serta kebijakan tarif Amerika Serikat. Belum lagi masalah meningkatnya inflasi dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang mulai meluas di berbagai kota. 

Kritik Kebijakan Prabowo

The New York Times menilai kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto justru memperparah masalah tersebut, melemahkan berbagai institusi, dan menimbulkan keraguan mengenai pengelolaan ekonomi negara.

Sementara itu, stabilitas pasar keuangan domestik juga sempat tergoncang akibat Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi menurunkan status pasar modal Indonesia. 

Satu dekade lalu, Indonesia dianggap sebagai tempat yang aman dan dapat diandalkan, di saat negara-negara berkembang lainnya berjuang menghadapi kejatuhan mata uang dan hiperinflasi. 

Pemerintah kerap mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, namun indikator-indikator lain justru menunjukkan realitas yang berbeda dari klaim pemerintah tersebut.

Jumlah penduduk yang tergolong kelas menengah telah menyusut sekitar 19 persen dari puncaknya. Tingkat tabungan kelompok masyarakat kelas bawah juga disebut merosot tajam. Adapun, angka pengangguran kaum muda berada di kisaran 17 persen dan menjadi salah satu yang tertinggi di Asia. 

Para ahli pun kini memperingatkan bahwa Indonesia tengah menghadapi momen yang paling rentan meledak sejak tahun 1998, saat keruntuhan ekonomi memaksa lengsernya mantan diktator Soeharto.

“Pada tahun 1997, tidak ada yang memprediksi bahwa Soeharto akan jatuh akibat kegagalan ekonomi. Saya yakin, skenario serupa bisa saja terjadi pada pemerintahan saat ini,” kata Ferry Latuhihin, mantan kepala ekonom di Bank International Indonesia yang pernah duduk dalam dewan pakar penasihat Prabowo sebelum pemerintahannya resmi menjabat, kepada The New York Times. 

Para pakar tidak memperkirakan gejolak pasar ini akan merembet ke negara-negara tetangga di kawasan. Kepala riset dan manajemen portofolio di Rayliant, Phillip Wool menyatakan, kekhawatiran MSCI bersifat spesifik terhadap Indonesia, yang porsinya tergolong kecil dalam portofolio sebagian besar investor pasar negara berkembang (emerging markets).

“Risiko ini benar-benar terbatas hanya pada Indonesia,” kata dia.

Namun, ia menuturkan,  dampak ekonomi yang ditimbulkan bisa meluas lebih jauh. Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit, nikel, dan boneka Barbie terbesar di dunia, serta eksportir utama batu bara termal, tembaga, dan gas alam. Keruntuhan ekonomi dapat mengganggu produksi kendaraan listrik dan memicu kenaikan harga pangan, barang konsumsi, serta energi di tingkat global.

Sebuah studi pada Juli yang dipimpin oleh mantan menteri keuangan Indonesia menemukan bahwa penyusutan kelas menengah berkorelasi dengan meningkatnya frekuensi aksi protes. Pada Agustus 2025, dalam kejadian pecahnya massa aksi akibat tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol yang dilindas mobil taktis aparat serta meningkatnya angka pengangguran dan inflasi.

The New York Times menilai gejolak ekonomi di Indonesia telah menyingkap berbagai kelemahan yang belum mampu diatasi secara efektif oleh kebijakan-kebijakan Prabowo.

Tingginya harga minyak dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat telah menyebabkan keluarnya dolar dari Indonesia, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang garuda. 

Indonesia sangat rentan karena ketergantungan yang tinggi pada impor barang-barang kebutuhan pokok. Namun, Prabowo justru semakin gencar menjalankan program-program populis yang membebani anggaran negara Indonesia dan membuat para investor khawatir. Salah satu contohnya adalah program makan gratis dengan anggaran yang tak sedikit.

Di sisi lain, para investor juga mempertanyakan transparansi pemerintahan Prabowo. Sebagai mantan jenderal sekaligus mantan menantu Soeharto, Prabowo telah mengambil langkah untuk menasionalisasi aset dan memanfaatkan dana abadi negara (sovereign wealth fund) yang baru dibentuk demi memuluskan agendanya.

Pada Kamis pekan lalu, MSCI mengeluarkan peringatan dengan alasan “kurangnya penegakan hukum yang berarti” terhadap manipulasi pasar. Penyedia indeks tersebut menyatakan telah memulai konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar Indonesia ke kategori yang sama dengan negara lain. Artinya, Indonesia kini dianggap sebagai tujuan investasi yang tidak dapat diandalkan.

The New York Times juga mewawancarai Muhammad Fajar (21), seorang pedagang kaki lima di Jakarta. Fajar mengaku telah melamar pekerjaan ke lebih dari 100 perusahaan namun tidak mendapatkan satupun panggilan kerja. 

Fajar lulus tiga tahun lalu dari sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan spesialisasi teknik sepeda motor, ia mengatakan bahwa ia bersedia menerima pekerjaan apa pun. 

“Saya merasa kelas ekonomi saya telah turun,” kata Fajar.

Reinita Hariyanti, pendiri sebuah organisasi yang membantu para profesional menghadapi kehilangan pekerjaan mengatakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sebelumnya hanya terjadi di perusahaan rintisan alias startup teknologi kini telah merambah ke sektor-sektor lain. Ia menyebut lapangan kerja formal semakin menyusut, padahal jumlah orang yang mencari pekerjaan justru terus bertambah.

Adapula Cut Erika Ananda Fatimah (52), seorang dosen dengan penghasilan sekitar Rp 14 juta per bulan mengaku telah melepas banyak hal yang dulu ia nikmati seperti konsumsi kopi, traveling, membeli pakaian baru, hingga pergi ke pusat kebugaran. 

“Saya berharap keadaan akan membaik dan kelas menengah bisa kembali merasakan adanya peluang untuk naik kelas,” katanya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ruben Onsu Sudah Kenalkan Thayaka ke Anak Kandung? Begini Katanya
• 18 jam lalu
0
thumb
Cerita Darius Sinathrya Jalani Adegan Ekstrem di Atas Atap di The Doll Ghawiah
• 1 jam lalu
0
thumb
Polisi Bagikan Roti dan Minuman ke Mahasiswa Peserta Aksi di Monas
• 21 jam lalu
0
thumb
jadi akses penting petani, perbaikan jembatan Blang Miro Kumba dikebut
• 16 jam lalu
0
thumb
7 Life Hack iPhone yang Jarang Diketahui, Nomor 7 Bisa Menyelamatkan Teks yang Terhapus!
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.