Pemerintah mendorong pengembangan ekonomi perak atau silver economy seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk menjawab tantangan demografi sekaligus membuka peluang ekonomi baru, mulai dari sektor kesehatan hingga teknologi.
Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, mengatakan Indonesia telah memasuki era penuaan penduduk atau aging population sejak 2021.
Pada 2024, sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas. Proporsi tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai satu dari lima penduduk pada 2045.
“Diperkirakan pada tahun 2045 proporsi penduduk lanjut usianya akan mencapai satu dari lima penduduk Indonesia,” kata Maliki dalam agenda Peluncuran Buku Muda Menata, Tua Berdaya dan Kick off pengembangan desain ekonomi perak Indonesia di Jakarta, Rabu (21/10).
Menurut Maliki, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan berupaya mengantisipasi perubahan struktur demografi tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan.
Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan angka harapan hidup, tetapi juga pada kualitas hidup lansia serta kesiapan masyarakat dalam memasuki usia lanjut. Upaya tersebut perlu dilakukan sejak dini melalui pendekatan siklus hidup dan kolaborasi lintas sektor.
“Jadi dengan demikian peningkatan kualitas hidup yang sehat ini harus menjadi perhatian perlu kepada kita semua sepanjang siklus hidup sehingga penguatan layanan untuk lansia ini bisa kita terus kembangkan,” ujarnya.
Maliki menambahkan, jumlah lansia yang semakin besar perlu diiringi dengan perubahan cara pandang. Lansia tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai kelompok yang memiliki potensi untuk berkontribusi terhadap pembangunan.
Potensi tersebut dikenal sebagai ekonomi perak, yakni aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan kebutuhan, produk, layanan, serta kontribusi penduduk lanjut usia.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, mengatakan penuaan penduduk tidak semata-mata menjadi tantangan bagi perekonomian. Perubahan demografi tersebut juga dapat menciptakan kebutuhan baru yang mendorong pertumbuhan berbagai sektor usaha.
Ia mencontohkan pengalaman Jepang yang lebih dahulu menghadapi peningkatan populasi lansia. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya industri kesehatan, teknologi untuk mendukung kemandirian lansia, layanan perawatan profesional, serta produk dan jasa yang dirancang sesuai kebutuhan kelompok usia lanjut.
“Perubahan demografi yang semula dipandang sebagai beban ternyata juga membuka peluang ekonomi,” ujar Febrian.
Meski membuka peluang ekonomi, peningkatan jumlah lansia juga menghadirkan sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan finansial dan perlindungan sosial pada masa tua.
Febrian mengatakan sebagian besar lansia di Indonesia belum memiliki tabungan pensiun. Selain itu, lebih dari separuh lansia masih bekerja, terutama di sektor informal yang memiliki perlindungan terbatas.
Di sisi lain, kebutuhan perawatan jangka panjang bagi lansia terus meningkat. Selama ini, tanggung jawab perawatan masih banyak ditanggung oleh keluarga.
Karena itu, menurut Febrian, kebijakan kelanjutusiaan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial. Perlindungan bagi lansia miskin dan rentan tetap diperlukan, tetapi pemerintah juga perlu membuka kesempatan bagi lansia yang masih mampu dan ingin bekerja, berwirausaha, maupun berkontribusi melalui pengalaman dan keterampilan yang dimiliki.
“Lansia ada yang membutuhkan perlindungan penuh, ada yang masih mampu bekerja, ada yang ingin berwirausaha, dan banyak pula yang memiliki pengalaman, pengetahuan, serta keterampilan yang berharga bagi masyarakat,” ujarnya.
Febrian menilai peningkatan populasi lansia dapat mendorong pertumbuhan berbagai sektor usaha, termasuk kesehatan, perawatan, teknologi digital, jasa keuangan, hunian, pariwisata, hingga industri yang mendukung gaya hidup sehat.
Di sektor kesehatan dan perawatan, misalnya, meningkatnya kebutuhan pendampingan lansia berpotensi mendorong permintaan terhadap tenaga perawat, pendamping lansia, serta layanan perawatan profesional.
Sementara itu, di sektor teknologi, kebutuhan untuk mendukung lansia agar tetap mandiri dapat membuka peluang pengembangan perangkat dan layanan digital yang memudahkan aktivitas sehari-hari.
Peluang juga muncul pada sektor perumahan, transportasi, dan pariwisata melalui penyediaan fasilitas yang lebih ramah lansia.
Menurut Febrian, pengembangan sektor-sektor tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan kesejahteraan lansia, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru.
“Ekonomi perak harus kita pandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional, dan bukan sekadar perluasan program kesejahteraan sosial,” katanya.
Ia menambahkan, agenda Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang generasi muda yang produktif dan ekonomi yang maju. Namun perlu mencakup upaya memastikan seluruh kelompok usia dapat menikmati kehidupan yang sejahtera dan bermartabat.
“Indonesia yang memberikan kesempatan bagi setiap warga negaranya untuk menikmati usia lanjut dengan sejahtera dan berpatah, bermartabat. Karena bangsa yang benar-benar maju, bukan hanya bangsa yang mampu memberikan masa depan bagi generasi mudanya, tapi juga bangsa yang mampu memberikan kehidupan yang bermartabat bagi generasi tuanya,” ujar Febrian.






Komentar (0)