Istanbul (ANTARA) - Bahrain dan Prancis pada Selasa (20/10), menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama dalam pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai yang bertujuan guna mengembangkan keterampilan dan keahlian yang diperlukan bagi program nuklir sipil.
Menurut Kantor Berita Bahrain (BNA), perjanjian tersebut ditandatangani di penghujung kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Manama, di mana dia mengadakan pembicaraan dengan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa.
Kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan antara Kementerian Luar Negeri Bahrain dan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis.
Kantor berita tersebut menyatakan perjanjian itu bertujuan untuk mengembangkan dan mempertahankan keahlian serta kapabilitas yang dibutuhkan bagi program nuklir sipil Bahrain melalui inisiatif pelatihan khusus.
Dalam pembicaraan mereka, Raja Hamad dan Macron membahas penguatan kerja sama strategis di bidang investasi, pembangunan ekonomi, pertahanan, pembangunan berkelanjutan, dan teknologi canggih.
Mereka juga bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan internasional, khususnya situasi di Timur Tengah serta upaya untuk mengatasi berbagai tantangan yang sedang berlangsung.
Raja Hamad menyambut baik kemajuan dalam hubungan bilateral, seraya menyoroti perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani saat kunjungannya ke Prancis pada Februari sebagai langkah menuju kerja sama yang lebih luas di bidang keamanan, energi, dan teknologi.
Dia menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara, menjunjung tinggi hukum internasional, dan menyelesaikan krisis melalui dialog.
Menurut BNA, Macron menyerukan perluasan kerja sama dalam kapabilitas pertahanan dan industri militer, sekaligus menekankan penguatan hubungan di sektor energi.
Presiden Prancis tersebut kemudian bertolak dari Manama menuju Doha dan tiba pada Selasa malam, menurut kantor berita resmi Qatar, QNA.
Rangkaian kunjungan Macron ke kawasan Teluk, yang berlangsung pada 19-21 Oktober, juga mencakup kunjungan ke Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Pihak kepresidenan Prancis menyatakan bahwa kunjungan-kunjungan itu bertujuan untuk memperkuat kemitraan strategis dan ekonomi, sekaligus mendorong stabilitas regional, keamanan energi, dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.
Kunjungan itu dilakukan di tengah ketegangan regional menyusul perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Teheran merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) di seluruh kawasan serta menutup Selat Hormuz, sementara Washington kemudian menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Hegseth: AS masih selidiki serangan terhadap sekolah putri di Iran
Menurut Kantor Berita Bahrain (BNA), perjanjian tersebut ditandatangani di penghujung kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Manama, di mana dia mengadakan pembicaraan dengan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa.
Kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan antara Kementerian Luar Negeri Bahrain dan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis.
Kantor berita tersebut menyatakan perjanjian itu bertujuan untuk mengembangkan dan mempertahankan keahlian serta kapabilitas yang dibutuhkan bagi program nuklir sipil Bahrain melalui inisiatif pelatihan khusus.
Dalam pembicaraan mereka, Raja Hamad dan Macron membahas penguatan kerja sama strategis di bidang investasi, pembangunan ekonomi, pertahanan, pembangunan berkelanjutan, dan teknologi canggih.
Mereka juga bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan internasional, khususnya situasi di Timur Tengah serta upaya untuk mengatasi berbagai tantangan yang sedang berlangsung.
Raja Hamad menyambut baik kemajuan dalam hubungan bilateral, seraya menyoroti perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani saat kunjungannya ke Prancis pada Februari sebagai langkah menuju kerja sama yang lebih luas di bidang keamanan, energi, dan teknologi.
Dia menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara, menjunjung tinggi hukum internasional, dan menyelesaikan krisis melalui dialog.
Menurut BNA, Macron menyerukan perluasan kerja sama dalam kapabilitas pertahanan dan industri militer, sekaligus menekankan penguatan hubungan di sektor energi.
Presiden Prancis tersebut kemudian bertolak dari Manama menuju Doha dan tiba pada Selasa malam, menurut kantor berita resmi Qatar, QNA.
Rangkaian kunjungan Macron ke kawasan Teluk, yang berlangsung pada 19-21 Oktober, juga mencakup kunjungan ke Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Pihak kepresidenan Prancis menyatakan bahwa kunjungan-kunjungan itu bertujuan untuk memperkuat kemitraan strategis dan ekonomi, sekaligus mendorong stabilitas regional, keamanan energi, dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.
Kunjungan itu dilakukan di tengah ketegangan regional menyusul perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Teheran merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) di seluruh kawasan serta menutup Selat Hormuz, sementara Washington kemudian menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Hegseth: AS masih selidiki serangan terhadap sekolah putri di Iran






Komentar (0)