Terungkap Benda Langit Misterius di Kebun Sawit, BRIN Konfirmasi Teknologi Roket China

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Terkonfirmasi,  serpihan benda langit misterius yang jatuh di kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng), merupakan bekas roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China. Kepastian itu disampaikan Peneliti Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin melalui keterangan di Jakarta, Rabu (21/10).. "Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit. Waktu ini sesuai dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari tersebut," kata Thomas.

Ada kesesuaian waktu kejadian dan lintasan orbit saat  mengidentifikasi asal benda yang ditemukan warga."Data menunjukkan bahwa itu merupakan lintasan orbit terakhir bekas roket tersebut sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi. Kesesuaian antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E," ujarnya.

Baca Juga :
Murka! China Perketat Pengujian Mobil Listrik, Tak Mau Konsumen Jadi Kelinci Percobaan
Prancis-Jerman Kompak Hadang Dominasi Mobil China

Adapun ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace. Roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan membawa sepuluh satelit. Berdasarkan informasi peluncuran yang dipublikasikan Xinhua, roket menggunakan bahan bakar metana cair dan oksigen cair, yang dikenal sebagai teknologi propulsi liquid oxygen–liquid methane atau methalox. 

"Misi peluncuran tersebut dinyatakan berhasil setelah seluruh satelit ditempatkan pada orbit yang telah ditentukan. Setelah menyelesaikan tugasnya, bagian roket yang tidak lagi digunakan dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu. Seiring waktu, hambatan atmosfer secara bertahap menurunkan ketinggian orbit hingga bagian tersebut memasuki kembali atmosfer Bumi," kata Thomas Djamaluddin.

Baca Juga :
Sebelum Belajar, Siswa SMA di China Disebut Wajib Nonton Berita Pemerintah
Mobil Listrik dan Hybrid China Kena Aturan Baru, Berlaku April 2027
Jembatan Baru China-Korut Dibuka, Persaingan Pengaruh dengan Rusia Jadi Sorotan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kebakaran Lahan di Gunung Putri Bogor, Dipicu Pembakaran Sampah
• 4 jam lalu
0
thumb
DEN: Siswa Penerima MBG Rajin Masuk Sekolah Dibandingkan Nonpenerima
• 6 jam lalu
0
thumb
Ustaz di Pandeglang Diduga Dibacok Saat Pelajar Terlibat Tawuran
• 9 jam lalu
0
thumb
Andre Rosiade Minta PBPI Lebih Profesional: Jangan Rugikan Klub Tertentu
• 10 jam lalu
0
thumb
Afni Zulkifli Bupati Siak Protes Video Penanaman Hutan Bekas Karhutla Ditake Down: Apakah Seberbahaya Itukah?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.