Inflasi dan suku bunga digadang-gadang akan menjadi tantangan utama perekonomian Indonesia pada 2027.
IDXChannel - Inflasi dan suku bunga digadang-gadang akan menjadi tantangan utama perekonomian Indonesia pada 2027. Tekanan harga energi, kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
PT Kredit Rating Indonesia (KRI) memperkirakan inflasi rata-rata mencapai 3,1 persen pada 2027, masih dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen. Sementara itu, BI-Rate diproyeksikan bertahan di level 6,00 persen hingga semester I-2027 sebelum berpeluang turun menjadi 5,75 persen pada semester II.
"Biaya pinjaman tidak akan turun sebelum semester kedua 2027. Rencana pendanaan sebaiknya disusun dengan asumsi suku bunga tetap tinggi hampir sepanjang tahun," kata Analis Senior KRI Gromy Purba dalam keterangan resminya, Rabu (21/10/2026).
Inflasi September tercatat 3,28 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Agustus sebesar 3,19 persen dan Juli sebesar 2,88 persen. Kelompok makanan menyumbang 1,28 poin persentase terhadap inflasi, sedangkan harga pangan bergejolak naik 5,03 persen.
Sementara itu, inflasi inti pada Agustus mencapai 2,92 persen, tertinggi sejak Maret 2023. Meski masih tergolong moderat, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan harga yang perlu diwaspadai.
Menurut KRI, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi salah satu risiko terbesar terhadap inflasi tahun depan. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi mendekati batas atas sasaran BI.
Di sisi lain, kebijakan moneter AS turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada 16 September 2026 menjadi 3,75-4,00 persen. KRI memperkirakan masih terdapat potensi kenaikan lanjutan pada kuartal IV-2026.
Kondisi tersebut membuat selisih antara BI-Rate dan suku bunga The Fed menyempit menjadi 175 basis poin, dibandingkan 200 basis poin pada Juni 2026. Penyempitan selisih bunga ini disebut berpotensi mengurangi daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing.
Rupiah sendiri tercatat ditutup pada level Rp17.978 per USD pada 28 September 2026. KRI memperkirakan nilai tukar rupiah rata-rata berada di kisaran Rp17.950 per USD sepanjang 2027.
Dalam kondisi tersebut, kata Gromy, BI diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen pada kuartal IV-2026, terutama apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga dan rupiah bertahan di atas Rp18.000 per USD.
Tingginya suku bunga diperkirakan turut menekan aktivitas investasi swasta dan pertumbuhan kredit perbankan. KRI memproyeksikan pertumbuhan kredit melambat dari 12 persen pada 2026 menjadi 9,5 persen pada 2027.
Selain itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross diperkirakan meningkat dari 2,10 persen menjadi sekitar 2,4 persen. Hal ini seiring dampak kenaikan suku bunga yang umumnya baru terasa dalam rentang enam hingga 12 bulan.
"Proyeksi kami merupakan gambaran yang mencerminkan kondisi makroekonomi saat ini," kata Gromy.
Meski menghadapi berbagai tekanan, kata dia, KRI memperkirakan perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh sebesar 5,3 persen pada 2027.
Gromy menilai kemampuan perusahaan dalam menjaga likuiditas, mengelola utang valuta asing, dan mengatur jadwal jatuh tempo utang akan menjadi faktor penting untuk menghadapi kondisi ekonomi tahun depan.
Dia pun menyarankan lembaga keuangan melakukan uji ketahanan portofolio dengan skenario BI-Rate mencapai 6,75 persen dan nilai tukar rupiah melemah melampaui Rp18.800 per USD.
Sementara itu, perusahaan disarankan mempercepat pembiayaan kembali utang dan melakukan lindung nilai terhadap eksposur valuta asing guna mengantisipasi tekanan pasar.
"Kita tidak bisa menebak setiap guncangan, tetapi kita bisa memilih seberapa siap menghadapinya. Tahun 2027 merupakan tahun ujian disiplin," ujar Gromy.
(Dhera Arizona)






Komentar (0)