Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada awal perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat dibuka menguat.
Pelaku pasar cenderung menahan transaksi sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), terutama terkait arah suku bunga acuan.
Pada pukul 09.15 WIB, IHSG turun 34,79 poin atau 0,66 persen ke level 5.244,10. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan. Indeks tersebut terkoreksi 3,47 poin atau 0,65 persen ke posisi 526,88.
Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan volatilitas pasar saham masih tinggi, dengan IHSG berpotensi menguji level 5.300–5.400.
“Volatilitas pergerakan saham diperkirakan masih akan tinggi dengan IHSG berpotensi menguji level 5.300–5.400,” ujar Ratna dilansir dari Antara.
Menurut Ratna, keputusan BI menjadi perhatian utama investor karena konsensus pasar memperkirakan suku bunga acuan atau BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 6 persen.
Ekspektasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga antisipasi pasar menjelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), pada pekan berikutnya.
BI juga mewaspadai inflasi pangan yang telah mencapai 5 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Kenaikan harga pangan berpotensi mengurangi daya beli masyarakat sekaligus memperbesar tekanan inflasi secara lebih luas.
“Keputusan BI akan menjadi faktor penting bagi pergerakan Rupiah, pasar obligasi, dan IHSG,” kata Ratna.
Kenaikan suku bunga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dengan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi menekan pasar saham dan obligasi karena biaya pendanaan menjadi lebih mahal dan imbal hasil investasi perlu menyesuaikan.
Investor juga akan mencermati sinyal BI mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Pasar menunggu bagaimana bank sentral menyeimbangkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari luar negeri, perkembangan upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi perhatian pasar.
Qatar dan Pakistan disebut berupaya menjembatani kepentingan kedua negara melalui sejumlah usulan, termasuk pelonggaran akses terhadap aset Iran dan inspeksi nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Jika tercapai kesepakatan yang dapat diterapkan, meredanya ketegangan geopolitik berpotensi menekan harga minyak dunia. Sebaliknya, konflik yang berlanjut dapat mempertahankan harga energi pada level tinggi dan memicu tekanan inflasi global.
“Apabila konflik berlanjut, harga minyak berisiko bertahan tinggi dan memicu tekanan inflasi global, yang dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” ujar Ratna.
Pergerakan bursa global sebelumnya menunjukkan kecenderungan beragam. Pada perdagangan Selasa (20/10/2026), mayoritas bursa saham Eropa melemah.
Euro Stoxx 50 turun 0,33 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,29 persen, DAX Jerman turun 0,06 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,38 persen.
Sementara itu, Wall Street bergerak variatif. Indeks S&P 500 menguat 0,28 persen dan Dow Jones Industrial Average naik 1,02 persen, sedangkan Nasdaq Composite melemah tipis 0,02 persen.
Bursa saham Asia pada Rabu pagi juga bergerak beragam. Nikkei Jepang menguat 1,31 persen ke level 64.968,00. Shanghai Composite China melemah 0,04 persen ke 3.733,96, sedangkan Hang Seng Hong Kong naik 0,27 persen ke 23.919,95.
Kospi Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di antara indeks yang dipantau, yakni 4,38 persen ke posisi 5.792,17. Adapun Straits Times Singapura menguat 0,13 persen ke level 5.411,95. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)