JAKARTA — Kekuatan militer Indonesia diperkuat oleh sejumlah pasukan elite yang memiliki kemampuan khusus. Salah satunya adalah Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), pasukan khusus antiteror milik TNI Angkatan Laut yang dijuluki “Hantu Laut”.
Denjaka merupakan satuan yang terdiri atas personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib). Kemampuan pasukan ini disebut-sebut membuat angkatan laut negara lain, termasuk Amerika Serikat, cukup segan. Lantas, mengapa satuan ini dijuluki Hantu Laut dan bagaimana sejarah pembentukannya? Simak enam fakta menarik tentang Denjaka berikut ini:
Satuan ini dibentuk atas instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir melalui surat bernomor Isn. 01/P/IV/1984 pada 13 November 1984. Denjaka mengemban tugas utama membangun kemampuan di bidang antiteror, antisabotase, serta berbagai operasi klandestin atau operasi rahasia.
Baca Juga:Pria Penendang Wanita di Sency Pengangguran, Ditahan di Rutan Polda MetroMerujuk Peraturan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Nomor 30 Tahun 2020 tentang Penataan Organisasi Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir, Denjaka berada di bawah tiga pihak. Untuk pembinaan kemampuan dan kekuatan yang bersifat umum, Denjaka bertanggung jawab kepada Komandan Korps Marinir (Dankormar).
Sementara pembinaan kemampuan khusus berada di bawah Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI. Adapun penggunaan kekuatan dan kesiapan operasional satuan ini menjadi tanggung jawab Panglima TNI.
1. Dijuluki Hantu Laut
Julukan “Hantu Laut” melekat pada Denjaka berkat kemampuan personelnya dalam menjaga perairan Indonesia dari berbagai ancaman. Tugas pokok satuan ini mencakup operasi antiteror, antisabotase, dan operasi klandestin aspek laut yang tidak terdeteksi musuh.
Dalam sejumlah operasi, personel Denjaka bahkan harus menyamar untuk menggagalkan sabotase maupun pembajakan kapal. Untuk mencapai kemampuan tersebut, calon anggota menjalani pendidikan Penanggulangan Teror Aspek Laut (PTAL) selama empat bulan di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Mereka juga dituntut memiliki kondisi fisik prima dan IQ tinggi.
Bahkan, kemampuan seorang prajurit Denjaka kerap disetarakan dengan 120 prajurit TNI biasa. Kemampuan tersebut tercermin dalam rekam jejak operasinya.
Baca Juga:KRL Tangerang-Duri dan Basoetta Mengalami Keterlambatan Imbas Vandalisme PersinyalanDi antaranya, Denjaka berhasil dalam Operasi Aru Jaya pada 1992, ketika kapal feri berbendera Portugal, Lusitania Expresso, diusir dari perjalanannya menuju Dili. Pada 2011, Denjaka juga terlibat bersama satuan elite TNI lainnya dalam pembebasan awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia.
Kesiapsiagaan personel terus diasah, antara lain melalui latihan penanggulangan pembajakan kapal tanker di perairan Balikpapan pada November 2023. Latihan yang melibatkan 274 personel tersebut mencakup skenario penyerangan dari bawah air menggunakan Sea Rider.
2. Dibekali Senjata Mematikan
Mengingat operasi yang dijalankan bersifat rahasia, prajurit Denjaka dilengkapi beragam senjata khusus. Mengutip militer.id, sejumlah senjata yang digunakan antara lain submachine gun MP5, CZ-58, HK PSG1, pistol Beretta, Daewoo K7, HK416, M4, SIG Sauer 9 mm, senapan mesin Minimi dan M60, Daewoo K3, senapan serbu G36, HK P30, serta Pindad SS1.
3. Latihan Superkeras dan Ketat
Baca Juga:UWKS Kenalkan AI, Digital Marketing, dan Teknologi Riset kepada Para GuruMerujuk informasi dari Pusat Pendidikan Mabes TNI pada 28 Februari 2014, setiap personel Denjaka wajib menuntaskan pendidikan selama empat bulan yang dikenal sebagai PTAL. Materi pelatihan yang digelar di Kawah Candradimuka, Situbondo, tergolong berat dan ketat.
Para calon prajurit harus menghadapi terpaan ombak laut yang ganas. Dalam simulasi misi penyelamatan, mereka bahkan kerap berlatih dengan kondisi tangan dan kaki terikat.
4. Prajurit Denjaka Harus Ber-IQ Tinggi
Selain memiliki fisik prima, calon anggota Denjaka juga dituntut mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Persyaratan ini diberlakukan karena pasukan elite tersebut kerap menjalankan operasi penyusupan.
Personelnya harus mampu menyerap materi dengan cepat dan menerapkannya langsung di lapangan. Dalam proses pendidikan, porsi teori di dalam kelas hanya sekitar 20 persen. Sisanya berupa praktik langsung di medan hutan, laut, dan udara. Dengan demikian, setiap prajurit dituntut menguasai kemampuan di ketiga medan tersebut.
5. Penugasan Denjaka
Baca Juga:Bubarkan Tawuran Warga dengan Geng Motor di Makassar, Polisi Lepaskan Tembakan ke UdaraStruktur organisasi Denjaka terdiri atas satu tim markas (HQ), satu tim teknis, dan empat elemen operasional. Mengutip buku Elite: Pasukan Khusus Indonesia (1950–2008), masing-masing elemen operasional memiliki tugas berbeda.
Detasemen I menangani operasi antiteror dan antipembajakan, sedangkan Detasemen II bertugas dalam serangan maritim dan misi pengumpulan intelijen. Detasemen III mengemban misi pencarian dan penyelamatan, sementara Detasemen IV bertanggung jawab atas pembongkaran bawah air.
Lewat seleksi ketat, latihan berat, dan struktur organisasi yang terbagi sesuai spesialisasi, Denjaka menjadi salah satu satuan yang berperan dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Sejak dibentuk pada 13 November 1984, kesiapsiagaan pasukan berjuluk “Hantu Laut” ini terus diasah untuk menghadapi berbagai ancaman di perairan Nusantara.
#nasional





Komentar (0)