Gorontalo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berinovasi memanfaatkan tulang Sotong (Sepia sp) menjadi bahan baku produk kebersihan tangan (hand sanitizer).
"Kami memanfaatkan tulang Sotong yang diolah menjadi kitosan atau senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan," kata Mahasiswa Fakultas Urusan Maritim dan Teknologi Perikanan UNG Febriyanti Rasyid di Gorontalo, Selasa.
Febryanti bersama Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile memanfaatkan hasil sampingan perikanan yang belum dimanfaatkan optimal itu menjadi bahan baku bernilai tambah
Kitosan dari tulang sotong digunakan sebagai bahan aktif dalam semprotan hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli (E. coli).
Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.
Baca juga: Mahasiswa KKN UNG kenalkan silase pakan komplit kembangkan ternak sapi
Tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi, untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi produk pembersih tangan.
Kitosan tersebut diformulasikan dalam tiga konsentrasi yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas anti-bakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan.
Pihaknya berharap penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan.
Menurutnya, pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea, seperti Sotong, juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi.
Baca juga: Mahasiswa UNG kembangkan adsorben ramah lingkungan atasi limbah cair
Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, lanjutnya, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.
Penelitian ini, kata Febriyanti, menunjukkan tulang Sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas anti-bakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium.
Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, lanjutnya, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah.
"Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang Sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan," ucap Febriyanti.
Baca juga: Pakar UNG kembangkan model NIAR guna tekan risiko depresi mahasiswa
"Kami memanfaatkan tulang Sotong yang diolah menjadi kitosan atau senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan," kata Mahasiswa Fakultas Urusan Maritim dan Teknologi Perikanan UNG Febriyanti Rasyid di Gorontalo, Selasa.
Febryanti bersama Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile memanfaatkan hasil sampingan perikanan yang belum dimanfaatkan optimal itu menjadi bahan baku bernilai tambah
Kitosan dari tulang sotong digunakan sebagai bahan aktif dalam semprotan hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli (E. coli).
Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.
Baca juga: Mahasiswa KKN UNG kenalkan silase pakan komplit kembangkan ternak sapi
Tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi, untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi produk pembersih tangan.
Kitosan tersebut diformulasikan dalam tiga konsentrasi yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakteri terhadap E. coli. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas anti-bakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan.
Pihaknya berharap penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan.
Menurutnya, pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea, seperti Sotong, juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi.
Baca juga: Mahasiswa UNG kembangkan adsorben ramah lingkungan atasi limbah cair
Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, lanjutnya, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.
Penelitian ini, kata Febriyanti, menunjukkan tulang Sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas anti-bakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium.
Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, lanjutnya, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah.
"Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang Sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan," ucap Febriyanti.
Baca juga: Pakar UNG kembangkan model NIAR guna tekan risiko depresi mahasiswa






Komentar (0)