jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menyebut partainya memiliki sejarah panjang dalam pembangunan nasional, tetapi kebanggaan itu tidak boleh membuat pihaknya berhenti berinovasi.
Idrus Marham menyampaikan hal itu saat refleksi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar pada Selasa (20/10) ini.
BACA JUGA: Ingin Bermanfaat Buat Rakyat, Golkar Gelar Donor Darah di Jakarta
"Sampai kapan akan berdiam dalam sejarah," ujar Idrus.
Idrus menyebut Golkar perlu melampaui kejayaan masa lalu melalui gagasan dan karya nyata yang relevan terhadap kebutuhan bangsa.
BACA JUGA: Bawa Pesan Bahlil, Misbakhun Ajak Kader Golkar Terus Sukseskan Program Prabowo
Idrus menilai Ketum dan Sekjen Golkar, yakni Bahlil Lahadalia serta Muhammad Sarmuji menjadi bagian penting untuk mendorong transformasi partai berkelir kuning.
Eks Menteri Sosial (Mensos) itu menilai duet Bahlil-Sarmuji juga bisa membawa Golkar menjadi partai yang menawarkan pemikiran untuk menjawab tantangan masa depan.
BACA JUGA: Sindir Eks Ketua KPU RI Hasyim Asyari, Doli Golkar: Dapat Komisaris Hadiah dari Siapa?
"Duet Kepimpinan Bahlil dan Sarmuji mampu merubah wajah Golkar menjadi partai masa depan," kata Idrus.
Dia melanjutkan peran partai dalam sistem demokrasi tidak cukup hanya mengumpulkan suara dan memperoleh kursi di parlemen.
Idrus mengingatkan bahwa Golkar harus mampu melahirkan gagasan yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta menentukan arah kebijakan bangsa.
“Partai yang hanya dihitung suaranya tetapi tidak diperhitungkan pemikirannya, hanya akan dibutuhkan untuk meraih kekuasaan, namun tak pernah dilibatkan dalam menentukan arah dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Idrus menuturkan dinamika demokrasi saat ini menuntut partai bisa memperkuat kualitas argumentasi, menawarkan solusi, dan menghasilkan pemikiran yang bisa diuji terbuka.
Dengan demikian, ujar dia, kontribusi partai dapst dirasakan tidak hanya saat pemilihan umum, melainkan saat proses perumusan kebijakan publik.
Idrus mengingatkan besarnya jumlah kursi di parlemen tidak otomatis menjamin pengaruh sebuah partai dalam menentukan arah pembangunan.
Dia melanjutkan partai berisiko kehilangan relevansi dalam menjawab persoalan masyarakat tanpa kontribusi pemikiran yang kuat.
Selain itu, Idrus menegaskan Golkar perlu memperkuat kembali doktrin kekaryaan sebagai landasan perjuangan politik.
Idrus menganggap doktrin tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata, pencapaian terukur, dan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.
Dia menekankan pentingnya membedakan pencitraan dengan hasil kerja. Citra positif lahir dari karya nyata, bukan semata-mata dibangun melalui persepsi publik.
Memasuki usia ke-62, Idrus berharap Golkar makin memperkuat posisi sebagai rumah gagasan yang mampu melahirkan solusi bagi berbagai persoalan nasional.
“Menuju Indonesia Emas 2045, yang dibutuhkan Partai Golkar dan bangsa hari ini, bukan lagi citra, bukan omon-omon, bukan pula janji, tetapi karya," katanya. (ast/jpnn)
Jangan Lewatkan Video Terbaru:
Redaktur : Friederich Batari
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)