Sumur Minyak RI Banyak yang Sudah Tua, Begini Solusi dari Kontraktor

cnbcindonesia.com
17 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pompa angguk Wilayah Kerja (WK) Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). (CNBC Indonesia/Pratama Guitarra)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat mayoritas lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia saat ini sudah memasuki fase tua (mature) hingga fase akhir produksi.

Untuk mengatasi penurunan produksi alamiah dari lapangan tua tersebut, PHE mendorong penggelontoran investasi pada kegiatan eksplorasi cekungan baru serta penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Direktur Keuangan Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto memaparkan pengelolaan lapangan migas tua memerlukan komitmen investasi jangka panjang serta koordinasi yang ketat di seluruh rantai operasional. Pihaknya bersama para kontraktor hulu migas menyiapkan skema solusi melalui penggarapan potensi cekungan migas baru yang belum tersentuh di berbagai wilayah Indonesia.


"Sedangkan untuk yang sekarang ini sedang kita kelola, seperti tadi Bu Desti saya highlight, bahwa banyak dari lapangan-lapangan kita itu yang sudah late life, sudah mature, beberapa bahkan very late life untuk ukuran produksi migas," ungkap Bayu dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Pihaknya menilai solusi utama untuk mengompensasi penurunan produksi dari lapangan tua adalah mengeksplorasi potensi cekungan hidrokarbon baru guna menutupi celah antara kebutuhan minyak nasional sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) dan tingkat produksi yang baru mencapai kisaran 600 ribu bph.

"Jadi kalau datanya, dari 128 cekungan itu baru 20 yang kita kerjakan dari operator-operator hulu migas. Artinya apa, Bapak, Ibu? Sebagian besar potensi di Indonesia ini menunggu untuk dikerjakan," tambahnya.

Penggarapan cekungan baru membutuhkan dukungan modal bernilai tinggi yang pada tahun lalu mencapai US$ 15 miliar atau setara Rp 269,66 triliun (asumsi kurs Rp 17.977/US$) dari kontraktor hulu migas.

Belum lagi, jika kegiatan eksplorasi dilakukan pada cekungan baru hari ini, maka produksi minyak pertama (first oil) baru dapat terealisasi dalam jangka waktu 5 hingga 7 tahun mendatang.

"Kalau hari ini kita melakukan eksplorasi, maka 5 atau 7 tahun lagi baru akan kita lihat first oil-nya, baru akan kita lihat produksi minyaknya. Horizon waktunya cukup panjang, sehingga risikonya juga menjadi panjang," katanya.

Selain eksplorasi cekungan baru, solusi penanganan ketahanan energi dilakukan melalui percepatan proyek-proyek skala besar seperti Abadi Blok Masela dengan perkiraan investasi mencapai US$ 20 miliar. Langkah tersebut didukung sinergi antar pemangku kepentingan untuk mempermudah perizinan lahan, izin usaha, hingga skema pembiayaan.

"Tentu saja ini akan butuh dukungan yang luar biasa dari SKK Migas terutama, kemudian juga dari pihak-pihak lain yang berhubungan, perbankan, investor, kemudian pemangku kepentingan yang lain dari pajak, dari SDM, dan sebagainya," tandasnya.

Baca: Hulu Migas Berharap Harga Minyak Justru Naik, Ini Alasannya

(wia)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Bahlil Ungkap DIM RUU Migas Hampir Final

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lestari Moerdijat Ajak Warga Kudus Senam Sehat Bersama di Situs Patiayam
• 4 jam lalu
0
thumb
SpaceX dan Tesla Lagi Kaji Kemungkinan Merger, Komite Khusus Dibentuk
• 4 jam lalu
0
thumb
Anti Ribet, Transfer Makin Cepat Pakai QRIS dan BI-FAST-Melek Teknologi
• 7 jam lalu
0
thumb
Bantu Penanganan Karhutla Kalsel, Senator DPD Kirim Obat hingga Masker
• 13 jam lalu
0
thumb
DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Capai USD 50 Miliar hingga Akhir 2026
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.