Seberapa Ampuh Dry Ice Atasi Kabut Asap Karhutla? Ini Kata BRIN

kompas.tv
2 jam lalu
Cover Berita
Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Boven Digoel, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: Antara/Dokumentasi)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Penggunaan dry ice untuk mengatasi kabut asap menjadi perhatian di tengah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Namun, seberapa efektif metode tersebut dalam mengatasi asap yang menyelimuti suatu wilayah?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, teknologi tersebut kini sedang diuji dan dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dry ice dalam memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan asap dan pembentukan awan hujan.

Sebab, tebalnya kabut asap akibat karhutla tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya kebakaran hutan, tapi juga kondisi atmosfer yang membuat asap tertahan di dekat permukaan Bumi. 

Seberapa Ampuh Dry Ice Atasi Kabut Asap Karhutla?

Mengutip laman resmi BRIN pada Selasa (20/10/2026), inversi suhu atmosfer menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kabut asap karhutla, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca.

Kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan awan yang dibutuhkan untuk menghasilkan hujan sekaligus membuat asap lebih sulit menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi.

Baca Juga: BNPB Sebut Prabowo Sebenarnya Terbuka untuk Bantuan Penanganan Karhutla dari Negara Lain

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca di wilayah terdampak karhutla.

"Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan," kata Heru dikutip dari laman BRIN.

Dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Perbedaan suhu tersebut memungkinkan udara hangat di dekat permukaan bergerak naik melalui proses konveksi sehingga mendukung pertumbuhan awan.

Sebaliknya, inversi suhu terjadi ketika terdapat lapisan udara yang lebih hangat di atas udara yang lebih dingin. Lapisan ini menghambat pergerakan udara ke atas, sehingga asap berpotensi terakumulasi di dekat permukaan dan pertumbuhan awan menjadi lebih sulit.

Cara Kerja Dry Ice untuk Mengatasi Kabut Asap

Berbeda dari penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan dry ice dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

Dry ice atau es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. 

Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan ini mengalami sublimasi, yakni perubahan langsung dari fase padat menjadi gas, dengan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

Secara konseptual, pendinginan lokal tersebut diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang terjadinya pencampuran udara secara vertikal. 

Jika kondisi atmosfer berubah, hambatan yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan berpotensi berkurang. Meski demikian, mekanisme tersebut belum cukup untuk memastikan keberhasilan metode dry ice. 

Heru mengingatkan lapisan inversi dapat mencakup wilayah yang luas dengan tingkat kestabilan berbeda-beda. Karena itu, perubahan suhu di satu lokasi belum tentu mampu mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.

Untuk mendukung evaluasi operasi, BRIN dapat menganalisis data pengamatan yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana dan BMKG. Data yang diperlukan meliputi profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer. 

Baca Juga: WALHI Kritik Mitigasi Karhutla Pemerintah: Kita Pernah Punya Skema Pemulihan Gambut, tapi Dibubarkan

Informasi tersebut membantu peneliti menilai karakteristik lapisan inversi dan mengamati kemungkinan perubahan kondisi atmosfer setelah penyemaian dilakukan.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Karhutla
  • Dry ice
  • Brin
  • kabut asap karhutla
  • inversi suhu
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sektor Pariwisata Serap 25,91 Juta Tenaga Kerja, Tertinggi dalam 10 Tahun
• 2 jam lalu
0
thumb
Prabowo Koordinasikan Upaya Stabilitas Rupiah hingga Pengedalian Inflasi Pangan
• 11 jam lalu
0
thumb
Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp18.023 per USD
• 8 jam lalu
0
thumb
Tegas! Komdigi Perangi Judi Online lewat Pemblokiran Situs dan Penelusuran Dana | SAPA MALAM
• 22 jam lalu
0
thumb
Film Oki & Nirmala Rilis Teaser, Tissa Biani Hidupkan Karakter Ikonik Majalah Bobo
• 24 menit lalu
0
Berhasil disimpan.