JAKARTA, KOMPAS - Saat ini, puluhan satelit telah mengitari permukaan bumi dan merekam setiap jengkal lahan Indonesia. Namun, tanpa dukungan data dan kemampuan interpretasi yang memadai, citra tersebut hanya akan menjadi “piksel bisu” yang sulit menjawab persoalan pengelolaan lahan. Melalui Epistem, pemetaan lahan berupaya melibatkan sebanyak mungkin pihak, termasuk masyarakat lokal, untuk terlibat dalam pembuatan peta yang dapat membantu menjawab kebutuhan pengelolaan lanskap.
Dalam upaya ini, Epistem menyelenggarakan lokakarya Rembuk Peta: Solusi Gotong Royong Data Penggunaan Lahan dan Tutupan Lahan dengan mekanisme pemetaan kolaboratif di Hotel Hilton, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Lokakarya ini menghubungkan praktisi, perwakilan pemerintah, dan komunitas lokal melalui interpretasi bersama penggunaan dan tutupan lahan.
Epistem (Evolving Participatory Information System for Nature-based Climate Solutions) merupakan inisiatif kolaborasi International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Landscape Alliance, dan World Resources Institute (WRI) Indonesia.
Proyek ini mendapat dukungan dari BRIN serta berbagai mitra di Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur dalam uji cobanya. Epistem mengembangkan ekosistem inovasi untuk memperluas akses terhadap teknologi dan pengetahuan pemetaan yang tepat guna.
Direktur ICRAF Program Indonesia Landscape Alliance Andree Ekadinata menyatakan, proses rembuk peta ini perlu melibatkan kolaborasi masyarakat lokal sebab mereka memiliki pengetahuan lokal atas wilayahnya. Proses kolaboratif ini juga harapannya dapat memetakan wilayah bencana yang bisa digunakan untuk pembuatan kebijakan.
Lebih lanjut, Andree menyatakan, harapannya masyarakat sipil dapat terlibat dalam fungsi pengawasan dan dukungan pembangunan wilayah melalui proses kolaborasi. Begitu pula dengan kalangan pendidik yang turut serta dilibatkan dalam proses pembelajaran kepada muridnya. Pada proses uji oba, Epistem telah melibatkan guru dan murid Sekolah Menengah Kejuruan jurusan geografi dalam memberikan pemahaman mengenai permukaan bumi.
“Epistem ini tidak bertujuan untuk menghasilkan peta sebanyak mungkin, tapi bagaimana sebanyak mungkin orang bisa membuat peta sendiri,” ujarnya.
Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat menyatakan, semangat yang dibangun dalam gotong royong ini adalah mengupayakan relefansi ekologis, kredibilitas ilmiah, dan kolaborasi berkelanjutan.
Dengan dukungan strategis BRIN dan mitra di Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, Epistem memperkenalkan sebuah ekosistem inovasi yang mencakup; Luma (perangkat pemetaan partisipatif berbasis daring), Rembuk Peta (mapathon), (mekanisme untuk menganalisis penggunaan dan tutupan lahan secara kolaboratif), dan Pustaka (metode pemetaan sumber terbuka dan data referensi, sebagai bahan acuan bersama dalam proses pemetaan).
Tantangan di beberapa daerah
Dalam praktik uji coba Episten di Kecamatan Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Adine Sopiani, perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT menyatakan, medan yang ditempuh cukup curam dan menantang. Ia dan timnya perlu berjalan kaki 3 sampai 5 jam menuju titik lokasi yang merupakan lahan pertanian.
Adine berharap dalam penerapannya ke depan, sistem Epistem tidak hanya berjalan bersama Dinas Pertanian saja, tetapi harus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kebijakan. Hal ini mempertimbangkan medan ekstrem yang terletak di banyak kabupaten lainnya di NTT.
“Ke depannya kita perlu kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga lain, terutama penyuluh pertanian karena mereka berada di desa-desa dan lebih menguasai medan. Kita harus saling berkolaborasi untuk mendapatkan titik koordinat yang lebih akurat,” ungkapnya.
Heni Martini, perwakilan dari HaKi Institute Sumatera Selatan, telah melakukan uji coba Epistem melalui pemetaan wilayah perkebunan kopi. Ia menyatakan, tantangan terbesarnya selama melakukan pemetaan adalah kondisi iklim yang ekstrem yang memerlukan ketahanan fisik.
Heni menegaskan, pemetaan wilayah penting, terutama untuk menganalisis kebijakan inklusif penting untuk pemetaan sumber daya alam. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga. Ke depannya, pemetaan penggunaan dan tutupan lahan ini penting untuk menjawab bencana yang terjadi seara berulang di Indonesia seperti Karhutla dan banjir Sumatera.
Rencana ke depan
Uji coba Epistem di ketiga wilayah masih melalui proses panjang. Andree menyatakan, baru wilayah Sumatera Selatan yang telah menyelesaikan proses kajian. Sementara itu, studi kasus di dua provinsi lainnya masih berlangsung karena proses pemetaan dilakukan secara mandiri oleh para mitra di daerah.
Setelah seluruh studi kasus rampung, Epistem berharap dapat menghimpun pengalaman dari ketiga provinsi tersebut untuk mendorong pemanfaatan hasil kajian dalam perumusan kebijakan.
Harapannya, tahun depan, kumpulan pengalaman itu dapat dibagikan kepada provinsi lain yang belum terlibat, sehingga praktik pemetaan kolaboratif dapat direplikasi berdasarkan pembelajaran langsung dari para pelaku di lapangan.
“Kami berharap tahun depan kumpulan cerita ini sudah bisa disampaikan ke provinsi lain yang mungkin belum belum sempat kita dampingi. Dari situ mungkin replikasi-replikasi lain bisa terbentuk karena pengaplikasian Epistem ini dapat dibagikan dari mitra secara langsung.”






Komentar (0)