JAKARTA, KOMPAS – Sejumlah mahasiswa dari 9 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat atau Sadar, melakukan unjuk rasa di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Unjuk rasa itu berkaitan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Mereka menuntut pemerintah untuk segera menuntaskan persoalan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatera, dan Papua, kemudian mendesak untuk mengatasi masalah sulitnya mencari kerja, korupsi yang merajalela, dan ketimpangan sarana pendidikan di pelosok Indonesia.
Komite Sadar ini juga memberikan evaluasi kinerja pemerintah dalam sektor ekonomi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi, hukum dan tata kelola negara, serta pendidikan. “Kami memilih Tugu Proklamasi, sebagai pengingat para founding fathers (bapak bangsa Indonesia) ketika membentuk Indonesia, tapi ujung-ujungnya Indonesia jauh dari yang dipikirkan oleh mereka,” ujar Koordinator Sosial dan Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Hafidz Hernanda.
Sembilan universitas yang tergabung dalam Komite Sadar tersebut terdiri dari perwakilan melalui BEM UI, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB), BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran, BEM Universitas Diponegoro, BEM Universitas Negeri Semarang, Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Sema UGM), BEM Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, BEM Universitas Airlangga, dan Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya.
Sesaat usai berkumpul, mereka membacakan tuntutan secara bergantian. Persoalan yang disoroti disampaikan melalui narasi peristiwa hilangnya hutan dan semerbaknya abu karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, kemudian kesenjangan masyarakat antarkelas ekonomi, sulitnya mencari kerja karena minimnya lapangan pekerjaan, korupsi yang merajalela, dan ketimpangan sarana pendidikan di pelosok Indonesia.
Di antara topik tersebut, tuntutan yang paling mengemuka adalah desakan agar pemerintah menangani karhutla. Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat, Satria Bina Agatha, turut mengungkapkan, kondisi Kalimantan yang saat ini belum pulih dari selimut kabut asap.
Satria datang dengan membawa pesan keresahan dari masyarakat di Kalimantan mengenai progres penanganan kebakaran hutan yang dinilai jauh dari selesai. Selain itu, penanganan koordinasi antar pihak pula dirasa berantakan. Seluruh hal tersebut dirangkum, dan dituangkan pada aksi ini.
“Setiap jamnya mau pagi, mau malam, terus menerus terbakar,” tutur Satria.
Selain masalah karhutla, sejumlah perwakilan mahasiswa lain menyoroti mengenai persoalan ketimpangan ekonomi serta situasi susahnya mencari pekerjaan. Minimnya ketersediaan lapangan kerja dan persoalan ekonomi ini merupakan keluhan dari ribuan sarjana yang hingga kini masih berjuang mendapatkan pekerjaan.
Menurut para pengunjuk rasa, timbal balik dari pajak yang dipungut pemerintah belum mencerminkan dukungan bagi kesejahteraan masyarakat secara luas. Sebagai gambaran, sulitnya para pelamar mendapat pekerjaan yang kerap kali diwarnai penolakan bukan karena kompetensi melainkan situasi pasar ketenagakerjaan saat ini.
Belum lagi, persoalan ketimpangan ekonomi antara masyarakat kelas atas dengan masyarakat kelas menengah dan bawah yang saat ini kian tercekik dengan situasi ekonomi saat ini. “Sebegitu timpangnya, keadaan Indonesia saat ini, teman-teman,” ujar Ketua BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang Septia Linasari saat memberikan orasi.
Orasi yang dilakukan di Tugu Proklamasi akan menjadi pembuka menuju aksi lanjutan yang hendak dilakukan di Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa pukul 15.00 WIB. Selanjutnya, secara bersama-sama, para mahasiswa akan berkumpul untuk melanjutkan aksi massa, menuntut pemerintah untuk segera mengatasi sejumlah persoalan tersebut.
Terkait dengan unjuk rasa yang digelar di Tugu Proklamasi, Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta membuat berbagai skema jalur alternatif guna memperlancar mobilitas kendaraan saat demo sedang berlangsung. Terdapat 4 zona dalam pengaturan jalan alternatif yang disediakan.
Zona 1 meliputi kawasan Monas dan Tugu Tani, Zona 2 mencakup kawasan DPR atau MPR dan Bundaran Senayan, Zona 3 berupa kawasan seputar Uiversitas Kristen Cawang, dan Zona 4 di kawasan Rawamangun.
“Diimbau kepada pengguna jalan untuk menghindari titik kegiatan, dengan menggunakan rute alternatif,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Budi Awaluddin.
Selain itu, Budi juga mengimbau para pengguna transportasi umum agar menghindari jalur-jalur yang berpotensi macet dan menggunakan alternatif jalan. Seluruh jalur perjalanan angkutan umum tersebut meliputi LRT, MRT, dan Transjakarta. Namun, apabila terdapat pengalihan arus lalu lintas, layanan Transjakarta menyesuaikan pengaturan lalu lintas.
Adapun bagi penumpang pengguna kereta jarak jauh, terkhusus bagi penumpang Stasiun Gambir dianjurkan untuk mengikuti situasi dan memantau perkembangan kemacetan. Para penumpang hendaknya memilih lajur alternatif yang telah disediakan.






Komentar (0)