Jelang Hari Santri, Alissa Wahid Dorong Pesantren Ramah Anak dan Disiplin Tanpa Kekerasan

disway.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID – Alissa Wahid mendorong penguatan pesantren ramah anak menjelang Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026. Kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama dinilai menjadi momentum untuk membenahi tata kelola, memperkuat perlindungan santri, dan mengembangkan kedisiplinan tanpa kekerasan.

Tim Penasihat Ahli Menteri Agama sekaligus Direktur Jaringan Gusdurian itu menekankan bahwa keberhasilan pesantren tidak cukup diukur dari penguasaan ilmu agama. Keselamatan, penghormatan terhadap martabat, dan pemenuhan hak santri juga harus menjadi perhatian dalam pendidikan maupun pengasuhan.

“Pesantren ramah anak menempatkan anak sebagai fokus dan menyesuaikan semua mekanisme itu dengan kebutuhan untuk kemaslahatan anak tersebut,” kata Alissa dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.

Menurutnya, pendekatan tersebut melampaui upaya menghentikan kekerasan. Kesiapan fasilitas, hubungan antara pendidik dan santri, serta pengawasan kehidupan sehari-hari perlu ditata berdasarkan kebutuhan anak.

BACA JUGA: Jelang Hari Santri 2026, Baru 54 Persen Pesantren Punya Akses Air Bersih Layak

Perubahan lingkungan sosial dan perkembangan teknologi turut menuntut penyesuaian. Santri kini mengenal beragam informasi dari luar pesantren sehingga metode pembelajaran dan komunikasi perlu mengikuti perkembangan mereka.

Penyesuaian itu dapat dilakukan dengan tetap merawat nilai agama dan tradisi pesantren yang baik. Pada saat bersamaan, praktik pengasuhan yang berisiko membahayakan anak perlu dievaluasi.

Alissa menyebut Indonesia memiliki sekitar 42.000 pesantren dengan jutaan santri. Besarnya jangkauan tersebut membuat pemahaman mengenai risiko perundungan, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual menjadi penting bagi seluruh pengelola.

“Kalau di pesantren ada persoalan, ya kita harus menyelesaikan itu,” ujarnya.

BACA JUGA: BAZNAS dan Kemenag Salurkan Rp17,5 Miliar untuk Program Pesantren Nyaman Belajar

Ia menilai pesantren memiliki modal kuat untuk membangun pencegahan karena menjalankan fungsi pendidikan sekaligus pengasuhan. Interaksi yang berlangsung sepanjang hari memberi kesempatan bagi pengasuh untuk mengenali kondisi santri dan mengawasi lingkungan mereka.

Namun, pengawasan membutuhkan keterbukaan untuk mengakui adanya risiko. Pengasuh dan pendidik perlu memahami bahwa pelanggaran dapat terjadi di lingkungan pendidikan berasrama.

Kehadiran Ditjen Pesantren diharapkan memperkuat dukungan pemerintah terhadap pembenahan tersebut. Pelaksanaannya tetap memerlukan keterlibatan pengasuh, guru, dan seluruh unsur pesantren.

Salah satu tantangan yang disoroti Alissa ialah anggapan bahwa hukuman fisik diperlukan untuk membentuk kepatuhan. Sebagian pendidik masih mengkhawatirkan santri akan kehilangan kedisiplinan atau penghormatan kepada guru apabila pendekatan itu ditinggalkan.

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, pihaknya selama setahun terakhir memberikan pelatihan disiplin positif kepada guru, ustaz, serta musyrif dan musyrifah.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tekanan Jual Berpotensi Mereda, IHSG Masih Dibayangi Volatilitas Tinggi
• 8 jam lalu
0
thumb
Usai Kapolri dan KSAD Digeser, Posisi Jaksa Agung Disebut Perlu Segera Diganti Prabowo
• 21 jam lalu
0
thumb
Jadi Saksi, Verlita Evelyn Beberkan Perjuangan Marsha Aruan di Tengah Kondisi Ibunda yang Sakit
• 9 jam lalu
0
thumb
Kebijakan HSC Jadi Perhatian Investor, IHSG Dibayangi Koreksi ke 4.785
• 9 jam lalu
0
thumb
Mantan KSAD Subagyo HS Meninggal Dunia
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.