Sosok Kuntilanak resmi melangkah ke panggung sinema internasional lewat waralaba horor terlaris asal Taiwan, The Rope Curse 4: Kuntilanak. Disutradarai Liao Shih-han, film kolaborasi lintas negara ini siap meneror bioskop Indonesia mulai 23 Oktober.
Langkah ini jadi lompatan berani bagi waralaba The Rope Curse, yang setelah sebelumnya mengangkat folklore Thailand, kini membidik mitologi Nusantara.
Film ini mengisahkan perjalanan pria asal Taiwan yang bertolak ke Pontianak untuk mengantarkan abu jenazah adiknya sekaligus mencari keberadaan ayah kandungnya. Sialnya, misi keluarga tersebut justru berujung pada pusaran kutukan gaib.
Jajaran pemain memadukan talenta kedua negara secara seimbang. Aktor Indonesia seperti Ferry Salim, Andovi Da Lopez, Audi Marissa, dan Yessica Tamara beradu peran dengan bintang-bintang Taiwan, yakni Wilson Hsu, Travis Hu, dan Liu Kuo-Shao.
Ditemui kumparan di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (19/10), Liao menceritakan awal mula ketertarikannya pada mitos lokal Indonesia.
"Di dua film sebelumnya, kami banyak mengangkat hal-hal gaib yang berkaitan dengan Thailand. Menjelang seri keempat, tim penulis menyarankan, 'Di Indonesia ada hantu yang sangat kuat dan populer, namanya Kuntilanak.' Begitu kami pelajari, karakternya terasa sangat pas dengan poros cerita yang ingin kami bangun," kata Liao.
Produksi film ini memakan waktu syuting selama satu setengah bulan di kawasan Cibubur. Liao membawa sekitar 40 kru dari Taiwan untuk melebur bersama 150 kru lokal Jakarta.
Di awal proyek, perbedaan bahasa dan kebiasaan sempat menjadi rintangan tersendiri bagi sang sutradara.
"Tantangan terberat di awal jelas komunikasi dan adaptasi budaya. Kami sempat cemas karena ini pertama kalinya tim Taiwan syuting film horor di Indonesia," ujar Liao.
Namun, Liao juga memuji kinerja talenta lokal Indonesia. "Kru Indonesia benar-benar all in, mereka mencurahkan seluruh energi dan dedikasi. Melihat mereka bekerja begitu profesional, kekhawatiran saya langsung hilang. Apalagi makanannya enak, saya sangat suka sate dan jus alpukat," kelakar Liao.
Pengalaman MistisPengalaman mistis selama proses syuting pun tak kalah mencekam. Liao sempat bertemu seorang praktisi spiritual lokal yang terbiasa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.
"Waktu pertama kali datang, saya sempat bertanya ke teman-teman di sini. Menariknya, dari sepuluh orang yang saya tanya, lima di antaranya mengaku pernah melihat Kuntilanak," ungkap Liao.
"Lewat bantuan orang pintar itu, saya baru tahu Kuntilanak terbagi dalam beberapa wujud warna: putih, hitam, abu-abu, dan merah. Dan Kuntilanak merah inilah yang paling buas dan berbahaya," lanjutnya.
Kejadian yang paling membuat bulu kuduknya berdiri adalah ketika sang praktisi kerasukan sosok penunggu tersebut di hadapannya.
"Saat dia memperagakan bagaimana Kuntilanak bersuara dan tertawa, hawanya berubah dingin. Katanya, saat itu ada lima sampai enam kuntilanak di sekitar kami. Suara tawa asli saat dia kerasukan itulah yang akhirnya kami rekam dan masukkan langsung ke dalam adegan film," jelas Liao.
Menutup perbincangan, Liao Shih-han menaruh harapan besar pada penayangan The Rope Curse 4: Kuntilanak.
Baginya, film ini bukan sekadar tontonan horor, melainkan pintu pembuka diplomasi budaya yang lebih erat antara kedua negara.
"Secara budaya, masyarakat Indonesia dan Taiwan memiliki banyak benang merah yang dekat. Terlebih, ada ratusan ribu warga Indonesia yang tinggal di Taiwan," ucap Liao.
"Saya sangat puas dengan hasil kolaborasi ini, dan saya sangat berharap ke depannya bisa kembali ke Indonesia untuk menggarap proyek proyek internasional berikutnya," tutupnya.






Komentar (0)