Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,16% atau naik 208,02 poin ke level 5.204,63 pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (20/10/2026).
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 4.980,16 atau sedikit di bawah penutupan sehari sebelumnya.
Setelah dibuka, IHSG bergerak naik cukup tajam, namun sempat terkoreksi sebelum pukul 10.00 WIB.
Menjelang pukul 11.00 WIB, IHSG kembali menanjak dan bertahan menguat hingga akhir sesi dengan level tertinggi intraday di 5.210,80.
Sebelumnya, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memprediksi IHSG berpotensi menguat seiring pelaku pasar merespons kebijakan otoritas pasar modal Indonesia yang menindaklanjuti evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, maka IHSG berpotensi untuk menguat di atas level 5.000," kata Ratna dalam kajiannya, Selasa (20/10/2026).
Dari dalam negeri, setelah beberapa emiten mengumumkan buyback saham, otoritas pasar modal Indonesia mengubah batas Auto Reject Bawah (ARB) menjadi 7 persen.
Di samping itu, BEI turut mengumumkan dua inisiatif baru yaitu penambahan keterangan status afiliasi atau non-afiliasi pada publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen serta mengeluarkan seluruh saham High Shareholding Concentration (HSC) dari IHSG.
Saat ini saham-saham kategori HSC tercatat sebanyak 80 saham atau memiliki bobot sebesar 18 persen dari IHSG.
Kedua kebijakan itu, kata Ratna, diharapkan dapat mendukung pemenuhan standar MSCI, meskipun bukan jaminan bahwa MSCI akan merespons positif langkah tersebut.
Meski demikian, menurut dia IHSG berpotensi mengalami penyesuaian dalam jangka pendek dalam pelaksanaannya mengingat beberapa saham HSC memiliki bobot yang cukup besar.
“Proses penyesuaian ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, namun diharapkan mendukung pembentukan indeks yang lebih mencerminkan kondisi pasar dan likuiditas saham secara representatif,” ujarnya.
Dari mancanegara, mayoritas saham-saham di AS ditutup menguat pada Senin (19/10/2026) setelah aksi jual tajam pada sektor AI yang menyebabkan kinerja mingguan terburuk di Wall Street sejak akhir Juni 2026 pekan lalu.
Saat ini, para investor mengalihkan perhatian pada laporan laba kuartalan yang akan mulai dirilis pekan ini.





Komentar (0)