Liputan6.com, Jakarta - Menjalani dua pekerjaan atau double job menjadi pilihan bagi sebagian orang guna memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi. Bagi kaum tengah, penghasilan dari pekerjaan utama yang belum cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari membuat pekerjaan sampingan menjadi salah satu cara agar keuangan keluarga tetap berjalan.
Dalam Voice of Middle Class, realitas ini memperlihatkan bahwa bertahan di tengah tekanan ekonomi bukan hanya soal mengatur pengeluaran. Sebagian pekerja juga harus mengorbankan waktu istirahat, kebersamaan dengan keluarga, hingga kesempatan menikmati kehidupan pribadi demi mendapatkan penghasilan tambahan.
Advertisement
Jamilah, 40 tahun, merasakan kondisi tersebut. Setiap hari, dia bekerja sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Setelah mengajar, dia masih harus menyiapkan makanan, mengurus anak-anak, dan menjemput anak sulungnya pulang sekolah.
Kesibukannya tidak berhenti sampai di situ. Setelah menyelesaikan urusan rumah tangga, Jamilah kembali bekerja sebagai buruh cuci di dua rumah. Pekerjaan tambahan itu dijalaninya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bersama suaminya yang bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) sekaligus mengajar mengaji, Jamilah harus mencukupi kebutuhan tiga anak mereka.
Dari pekerjaan mencuci pakaian, dia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan. "Yang penting halal," kata Jamilah kepada Journal Kaum Tengah Liputan6.com melalui sambungan telepon.
Bagi Jamilah, rasa lelah harus dikesampingkan karena kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu. Ketiga anaknya masih bersekolah, termasuk seorang anak yang akan masuk SMP. Biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari membuatnya harus terus bekerja.
"Kalau saya mah dijalanin aja. Namanya juga punya anak tiga, kebutuhan banyak. Kadang capek juga. Pagi ngajar, pulang ngurus anak, habis itu masih nyuci di rumah orang. Tapi ya mau gimana lagi, kalau nggak begitu, kebutuhan anak-anak gimana?," ujarnya.
Double Job demi Memenuhi Kebutuhan KeluargaCerita serupa dialami Tia, karyawan di salah satu perusahaan rintisan (startup) terkemuka di Jakarta. Selain bekerja pada hari kerja, dia menerima pekerjaan tambahan sebagai perias pengantin setiap akhir pekan.
Sejak bercerai dua tahun lalu, Tia harus memenuhi kebutuhan dirinya dan kedua anak laki-lakinya. Saat dia bekerja, sang ibu membantu merawat anak-anaknya.
Penghasilan dari pekerjaan utama perlu ditambah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak. Pengeluaran sekolah tidak hanya muncul saat tahun ajaran baru, tapi juga mencakup uang saku, perlengkapan belajar, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Oleh sebab itu, Tia tetap menerima pelanggan rias pengantin meskipun waktu istirahatnya semakin terbatas. "Capek rasanya, tapi hidup terus berjalan," ujar Tia.
Di balik keputusannya menjalani double job, ada pengorbanan yang tidak selalu terlihat. Tia kerap merasa sedih karena tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anaknya.
Keinginannya untuk menemani mereka tumbuh besar harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab mencari nafkah. Sebagai orang tua tunggal, ia perlu memastikan kebutuhan kedua anaknya tetap terpenuhi.
Tekanan Ekonomi Membuat Pekerja Sulit BerhentiKisah Jamilah dan Tia menggambarkan bahwa double job tidak selalu dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup atau memenuhi keinginan pribadi. Bagi sebagian pekerja, pekerjaan tambahan menjadi cara untuk mempertahankan kehidupan keluarga di tengah kebutuhan yang terus berjalan.
Tekanan tersebut juga perlu dilihat dalam konteks kondisi kelas menengah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS), dalam publikasi Kelas Menengah Indonesia Krusial sebagai Bantalan Ekonomi Nasional, mencatat bahwa kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk Indonesia pada 2024. Kedua kelompok tersebut menyumbang 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya daya beli masyarakat bagi perekonomian. Namun, kondisi keuangan setiap keluarga berbeda, bergantung pada penghasilan, jumlah tanggungan, dan kebutuhan rumah tangga.
Bagi keluarga dengan anak usia sekolah, misalnya, biaya pendidikan menjadi pengeluaran yang harus disiapkan secara berkelanjutan.
Berdasarkan publikasi BPS Statistik Penunjang Pendidikan 2024, rata-rata total pengeluaran pendidikan per siswa pada tahun ajaran 2023/2024 mencapai Rp 4,56 juta per tahun untuk jenjang SD, Rp 7,34 juta untuk SMP, serta Rp 10,19 juta untuk SMA/SMK.
Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan pendidikan, seperti uang pendaftaran, uang saku, transportasi, seragam, buku, alat tulis, dan biaya operasional pendidikan. Dengan demikian, angka tersebut tidak semata-mata menggambarkan biaya yang dibayarkan kepada sekolah.
Dalam situasi seperti ini, mengambil pekerjaan tambahan bisa menjadi pilihan yang masuk akal secara finansial. Namun, semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, semakin sedikit pula kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.





Komentar (0)