Jepang Sukses Luncurkan Wahana Antariksa untuk Ambil Sampel dari Bulan Mars

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Tokyo: Para ilmuwan Jepang pada Selasa 20 Oktober sukses meluncurkan wahana antariksa yang dirancang untuk menjadi yang pertama mengambil sampel dari salah satu bulan Mars.

Misi ini berpotensi membantu mengungkap asal-usul tata surya serta kehidupan di Bumi.

Roket andalan H3 yang membawa wahana nirawak Martian Moons eXploration (MMX) meluncur ke langit gelap dari Pusat Antariksa Tanegashima pada pukul 04.41 pagi waktu Jepang, sebagaimana ditayangkan dalam siaran langsung oleh Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA).

Baca Juga :

Jepang Luncurkan Misi MMX untuk Bawa Sampel Bulan Mars Phobos ke Bumi
Lebih dari satu jam kemudian, JAXA mengumumkan melalui siaran langsung tersebut bahwa wahana itu telah berhasil memisahkan diri dari roket H3 dan "memulai perjalanannya menuju sistem Mars".

"Saya telah memimpikan hari ini, jadi saya sangat bahagia," ujar ilmuwan JAXA, Mari Aida, seperti dikutip dari Channel News Asia.

"Saat ini, saya merasa sangat lega,” ujar Aida.

Meskipun saat itu masih sangat pagi di Jepang, ribuan orang menyaksikan siaran langsung tersebut dan mengirimkan pesan-pesan dukungan.

Wahana antariksa ini diperkirakan akan tiba di dekat Mars sekitar Agustus tahun depan, di mana ia akan mengorbit salah satu bulan Mars, yaitu Phobos.

Sebuah wahana penjelajah rover hasil kerja sama Prancis-Jerman yang diberi nama IDEFIX yang diambil dari nama anjing milik tokoh komik Asterix, akan menjadi kendaraan pertama yang melintasi permukaan Phobos, melakukan pengamatan untuk memastikan pendaratan yang aman.

Setelah tiba di Phobos, MMX akan mengumpulkan setidaknya 10 gram material dari permukaannya selama masa tugas yang direncanakan selama tiga tahun di sekitar Planet Merah tersebut.

Misi ini -,yang ditargetkan menjadi perjalanan pulang-pergi pertama ke wilayah Mars,- merupakan kolaborasi dengan badan antariksa Amerika Serikat dan Eropa, serta berbagai universitas dan perusahaan teknologi.

Para ilmuwan berharap misi ini dapat membantu meletakkan dasar bagi eksplorasi manusia di masa depan.

"Sampel dari MMX akan menghadirkan terobosan ilmiah yang mengubah paradigma mengenai sistem Mars untuk generasi mendatang, terutama saat NASA bersiap mengirim manusia pertama ke Mars," ujar Nicky Fox, administrator Direktorat Misi Sains NASA, dalam pesan penyemangat yang disiarkan melalui siaran langsung JAXA.

JAXA berharap misi ini akan mengungkap bagaimana Mars dan kedua bulannya terbentuk, sebuah pengetahuan kunci untuk memahami asal-usul tata surya kita.

Salah satu teori mengenai asal-usul bulan-bulan tersebut -,hipotesis tabrakan raksasa atau giant impact,- menyatakan bahwa bulan-bulan itu terbentuk setelah sebuah benda langit menabrak Mars.

Sementara itu, hipotesis "penangkapan" atau capture menduga bahwa bulan-bulan tersebut adalah asteroid yang tertarik oleh gravitasi Mars.

Menentukan teori mana yang benar akan membantu mengungkap "bagaimana lingkungan yang layak huni bagi kehidupan bisa muncul di planet-planet terestrial" dan merujuk pada empat planet berbatu yang paling dekat dengan Matahari, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Stasiun luar angkasa alami JAXA menyatakan bahwa misi ini juga akan menjajaki kemungkinan penggunaan Phobos sebagai "stasiun luar angkasa alami" dengan menetapkan persyaratan untuk perjalanan pulang-pergi ,sesuatu yang "sangat penting bagi eksplorasi Mars berawak".

Misi ini juga akan mengamati bulan Mars lainnya, Deimos, meskipun tidak akan mendarat di sana.

Badan antariksa Amerika Serikat dan Tiongkok juga tengah bersaing untuk menjadi yang pertama membawa pulang sampel batuan dari permukaan Mars ke Bumi.

Wahana penjelajah rover Perseverance milik NASA, yang telah menjelajahi Mars sejak 2021, telah berhasil mengumpulkan sampel.

Namun, misi pengembalian sampel tersebut secara efektif dibatalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump menyusul pemungutan suara di Kongres pada bulan Januari.

Wahana antariksa Tianwen-3 milik Tiongkok dijadwalkan untuk diluncurkan sekitar tahun 2028, dengan harapan dapat membawa pulang sampel Mars ke Bumi paling cepat pada 2031, kemungkinan lebih awal daripada waktu kepulangan misi Jepang tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dendam Kesumat di Balik Penembakan Bharatu Valdo di Tangsel: Pelaku Luapkan Amarah kepada Sosok yang Salah?
• 11 jam lalu
0
thumb
Soal Temuan BPK pada Proyek Tol Palembang-Betung, Waskita Buka Suara
• 3 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Perbaiki Distribusi BBM Subsidi ke Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera
• 26 menit lalu
0
thumb
Hanif Dorong Biodiesel B50 dan Kendaraan Listrik di Jabodetabek untuk Tekan Polusi Udara
• 17 jam lalu
0
thumb
Mainan Squishy Dumpling Ditarik di 3 Negara karena Membahayakan Anak
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.