Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (20/10/2026), dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini terjadi setelah mata uang Garuda ditutup melemah pada perdagangan sehari sebelumnya di tengah kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, rupiah menguat 31 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.015 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, rupiah berada di level Rp18.046 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah melemah 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.027 per dolar AS. Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi potensi pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut.
“Pernyataan terkini dari para pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa mereka tetap terbuka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum ada sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 27–28 Oktober,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral tersebut terhadap stabilitas harga. Namun, ia tidak memberikan sinyal mengenai keputusan kebijakan yang akan diambil dalam pertemuan-pertemuan yang tersisa tahun ini.
Dalam perbincangan dengan Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Warsh menyatakan bahwa The Fed telah menarik sebagian akomodasi moneternya sekitar satu bulan yang lalu.
Warsh menuturkan bahwa perkembangan sejak pertemuan September secara umum sesuai dengan ekspektasi. Para pengambil kebijakan akan mengevaluasi data mengenai output, ketenagakerjaan, dan inflasi sebelum menentukan langkah kebijakan pada pertemuan Oktober dan Desember mendatang.
Ia memilih untuk tidak mendahului keputusan dalam pertemuan-pertemuan tersebut dan menyebut pendekatannya sebagai bagian dari babak baru di The Fed.
Selain kebijakan moneter AS, sentimen eksternal juga berasal dari pembicaraan antara AS dan Iran yang masih menemui jalan buntu. Pada saat yang sama, ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah di Yaman terus meningkat.






Komentar (0)