Rumor Kim Jong Un Meninggal, Kim Yo Jong Ambil Alih Kekuasaan?

kompas.tv
9 jam lalu
Cover Berita
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyampaikan pidato dalam pertemuan nasional melawan virus corona di Pyongyang, Korea Utara, pada 10 Agustus 2022. (Sumber: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP, Berkas)

PYONGYANG, KOMPAS.TV - Rumor mengenai kematian pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mencuat setelah seorang tokoh oposisi China mengklaim Kim Jong Un meninggal dunia akibat pendarahan otak. Di tengah kabar yang belum terverifikasi tersebut, adik Kim, Kim Yo Jong, juga menjadi sorotan karena ancamannya terhadap Korea Selatan.

Wanjun Xie, Ketua China Democracy Party (CDP), mengklaim Kim Jong Un mengalami pendarahan otak parah hingga koma sebelum akhirnya meninggal dunia setelah menjalani penanganan medis darurat.

Xie juga menyebut Kim Yo Jong telah mengambil alih kendali pemerintahan Korea Utara, alih-alih Kim Ju Ae, putri Kim Jong Un yang kerap disorot sebagai calon penerus kepemimpinan.

Baca Juga: Kim Jong Un Resmikan Museum Militer, Pamerkan Rudal Balistik Antarbenua

Namun, hingga informasi dalam laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini, belum ada konfirmasi resmi yang membuktikan Kim Jong Un meninggal dunia ataupun Kim Yo Jong telah mengambil alih kekuasaan.

Rumor tersebut turut berkembang setelah Daily Star melaporkan situs berita berbahasa Inggris Korea Utara, Pyongyang Times, tidak dapat diakses ketika diperiksa pada 19 Oktober 2026.

Meski demikian, gangguan situs tersebut tidak membuktikan adanya kematian Kim Jong Un maupun rencana pengumuman resmi dari pemerintah Korea Utara.

Kim Jong Un Diklaim Meninggal, Kim Yo Jong Disebut Ambil Alih Kekuasaan

Dalam unggahannya di media sosial yang dilansir dari The Economic Times, Xie mengklaim Kim Jong Un mengalami pendarahan otak mendadak hingga jatuh koma.

Ia menyebut tim ahli medis dari Peking Union Medical College Hospital di China dikirim untuk membantu penanganan Kim Jong Un. Menurut klaim tersebut, kondisi medis di Korea Utara tidak memadai sehingga Kim dipindahkan ke Beijing untuk menjalani operasi darurat.

Namun, Xie menyatakan upaya tersebut gagal menyelamatkan Kim Jong Un karena kondisinya terlalu parah dan waktu penanganan kritis telah terlewati.

Baca Juga: Kecam! Trump Tegur Reporter Tanya Kim Jong-Un, Sebut Berita Palsu soal Latihan Militer AS-Korsel

Ia juga mengklaim jenazah Kim telah dikembalikan ke Korea Utara dan kabar kematiannya sengaja dirahasiakan.

Xie selanjutnya menyebut Kim Yo Jong mengambil alih kendali pemerintahan di tengah ketidakpastian suksesi kepemimpinan.

Sebelumnya, Kim Ju Ae, putri Kim Jong Un, kerap muncul mendampingi ayahnya dalam sejumlah kegiatan resmi. Kemunculan tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan dirinya dipersiapkan sebagai penerus.

Meski demikian, kemunculan Kim Ju Ae di hadapan publik tidak dengan sendirinya memastikan statusnya sebagai calon penerus resmi. Begitu pula dengan klaim mengenai pengambilalihan kekuasaan oleh Kim Yo Jong yang belum terverifikasi.

Xie juga mengklaim China telah mengerahkan 9.000 tentara ke Pyongyang untuk membantu Kim Ju Ae menghadapi kemungkinan krisis suksesi atau perang saudara.

Ia menyebut Komando Teater Utara Tentara Pembebasan Rakyat China meningkatkan kesiagaan militer dan membatasi aktivitas personel.

Namun, klaim pengerahan pasukan tersebut juga belum disertai konfirmasi independen dalam laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini.

Baca Juga: Korea Selatan Berharap Hubungan Trump-Kim Jong Un Buka Jalan Dialog

Kim Yo Jong Ancam Aktifkan Lagi Siaran Propaganda ke Korea Selatan

Di tengah rumor mengenai kondisi Kim Jong Un, Kim Yo Jong sebelumnya mengeluarkan pernyataan keras terhadap Korea Selatan.

Dalam laporan Associated Press, Senin (19/10/2026), Kim Yo Jong mengancam Korea Utara dapat kembali mengaktifkan siaran propaganda melalui pengeras suara di perbatasan serta menempatkan lebih banyak persenjataan di kawasan tersebut.

Ancaman itu muncul ketika kedua Korea terlibat ketegangan menyusul ledakan ranjau pada 21 September yang melukai tiga tentara Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan menyalahkan Korea Utara atas pemasangan ranjau tersebut dan mendesak Pyongyang meminta maaf serta menyingkirkan ranjau lainnya. Namun, Korea Utara membantah bertanggung jawab atas ledakan itu dan memperingatkan akan melakukan pembalasan jika diprovokasi.

Kim Yo Jong menuduh militer Korea Selatan melakukan provokasi melalui tembakan peringatan dan siaran peringatan sejak Agustus.

Ia menyatakan tindakan tersebut telah melewati batas setelah insiden ledakan ranjau.

Baca Juga: Trump Kurangi Latihan Militer AS-Korea Selatan, Singgung Hubungan Baiknya dengan Kim Jong Un

"Situasi genting sedang terjadi di sepanjang perbatasan selatan akibat perilaku sembrono para gangster militer ROK," kata Kim Yo Jong, merujuk Korea Selatan dengan nama resminya.

Kim Yo Jong mengatakan militer Korea Utara sedang mempertimbangkan penempatan tambahan persenjataan serangan taktis di sepanjang perbatasan sebagai langkah pencegahan dan untuk menghadapi kemungkinan konflik.

Korea Utara juga mempertimbangkan untuk kembali menyiarkan propaganda melalui pengeras suara yang diarahkan ke wilayah Korea Selatan.

Ketegangan Perbatasan Korea Utara-Korea Selatan Meningkat

Ketegangan di perbatasan kedua Korea meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring upaya Korea Utara memperkuat pertahanan garis depannya.

Menurut laporan AP, Korea Utara menambah ranjau, pagar kawat berduri, penghalang antitank, serta berbagai benteng pertahanan di sepanjang perbatasan.

Militer Korea Selatan menyatakan tentara Korea Utara telah melanggar garis demarkasi militer sebanyak 50 kali sepanjang tahun itu selama pekerjaan pembangunan pertahanan. Seoul mengaku merespons dengan tembakan peringatan dan siaran peringatan.

Baca Juga: Cerita Prabowo Diminta Presiden Korea Selatan ke Korut, Buka Dialog dengan Kim Jong Un?

Siaran pengeras suara merupakan salah satu metode perang psikologis yang digunakan kedua negara sejak era Perang Dingin. Siaran tersebut biasanya berisi propaganda dan pesan yang ditujukan untuk memengaruhi masyarakat maupun personel militer di seberang perbatasan.

Pada 2015, ledakan ranjau yang dituduhkan kepada Korea Utara melukai dua tentara Korea Selatan dan membawa kedua negara mendekati konflik bersenjata.

Korea Selatan saat itu kembali mengaktifkan siaran propaganda di perbatasan untuk pertama kalinya dalam 11 tahun.

Namun, sejak Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mulai menjabat pada tahun sebelumnya, pemerintahannya menghentikan siaran tersebut sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara. Pyongyang kemudian menghentikan siaran balasannya.

Di sisi lain, Korea Utara belakangan meningkatkan aktivitas uji coba senjata. Langkah tersebut kemungkinan bertujuan menekan Amerika Serikat agar memberikan konsesi lebih besar setelah Presiden Donald Trump kembali mendorong upaya diplomasi dengan Kim Jong Un.

Meski rumor kematian Kim Jong Un dan klaim mengenai perubahan kepemimpinan Korea Utara terus beredar, belum ada bukti terverifikasi dalam laporan tersebut yang memastikan kebenarannya.

Sementara itu, ancaman Kim Yo Jong terhadap Korea Selatan menunjukkan bahwa ketegangan militer di Semenanjung Korea tetap menjadi persoalan tersendiri, terlepas dari spekulasi mengenai kondisi pemimpin Korea Utara tersebut. 

Baca Juga: Kim Jong-Un Kutuk Korupsi di Militer Korea Utara, Disebut Anti-Revolusi dan Anti-Rakyat

 

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada

Sumber : Associated Press/The Economic Times/Daily Star

Tag
  • Kim Jong Un
  • Kim Yo Jong
  • Korea Utara
  • Kim Jong Un meninggal
  • Korea Selatan
  • Kim Ju Ae
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dukung Literasi Anak, MNC Peduli Salurkan Bantuan Buku ke TBM Cahaya Ilmu
• 23 jam lalu
0
thumb
TNI-AU’s NC-212 Aircraft Deployed for Cloud Seeding Against Wildfires
• 2 jam lalu
0
thumb
Liverpool Kehilangan Dua Andalan Jelang Hadapi Villarreal
• 3 jam lalu
0
thumb
Sahroni Minta Polisi Usut Sumber Bahan Baku Pabrik Tramadol di Bandung
• 14 jam lalu
0
thumb
Antisipasi Banjir Bandang Berulang, Menteri PU Dody Minta Hulu Batang Tapan Dicek
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.