Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengenang pengalamannya menjelajahi sejumlah daerah di Indonesia sebagai turis. Ia mengaku memiliki kedekatan dengan Indonesia, negara yang telah dikunjunginya selama bertahun-tahun.
Guterres menceritakan pengalamannya itu dalam pidato di acara Foreign Policy Circle Talks bertajuk "Eight Decades of the United Nations: What's Next?" di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (19/10).
"Hubungan saya dengan negara yang indah ini sudah terjalin selama bertahun-tahun. Indonesia adalah negara yang semakin saya kenal dan sangat saya kagumi," tutur Guterres.
Ia lalu mengenang perjalanannya ke berbagai daerah di Indonesia.
"Bahkan sebagai turis, saya tidak akan pernah melupakan perjalanan dari Danau Toba ke Nias, lalu ke Padang. Dari Jakarta ke Yogyakarta dan Gunung Bromo, serta dari Bali ke Sulawesi hingga Flores. Indonesia benar-benar negara yang saya cintai," ucapnya.
Selain mengenang perjalanannya, Guterres juga menyampaikan kekagumannya pada keberagaman budaya Indonesia. Ia menyebut Indonesia sebagai pusat keberagaman budaya dan peradaban di Asia Tenggara.
Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Indonesia di masa lalu juga turut menginspirasi gerakan serupa di Asia dan Afrika.
"Indonesia menjadi negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaan usai Perang Dunia II. Perjuangan Indonesia ini menginspirasi gerakan serupa di Afrika dan Asia," ujar Guterres.
Sebagai contoh, ia menyebut Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 yang mempertemukan negara-negara yang baru merdeka untuk membangun kemitraan dan kerja sama.
"Lihat saja Konferensi Bandung 1955 yang bersejarah, yang mempertemukan negara-negara merdeka baru dalam semangat kemitraan dan kerja sama. Global South lahir pada hari itu," kata Guterres.
Ia pun menyoroti keberagaman masyarakat Indonesia yang terdiri dari lebih dari 300 kelompok etnis dengan jumlah penduduk sekitar 284 juta jiwa.
"Indonesia adalah contoh nyata Bhinneka Tunggal Ika, persatuan dalam keberagaman," katanya.
Bagi Guterres, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa kerja sama di tengah perbedaan sangat penting, termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan global.
"Pengalaman Indonesia mengingatkan kita bahwa kerja sama di tengah perbedaan bukan sekadar mungkin dilakukan, melainkan sangat penting. Pelajaran itu merupakan inti dari multilateralisme," tandasnya.






Komentar (0)