196 Hektar TN Babul Hangus Terbakar, Satwa Hingga Situs Warisan Dunia Terancam

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 196 hektar kawasan di dalam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, telah hangus terbakar. Kebakaran terjadi di zona rimba hingga zona inti kawasan. Tidak hanya mengancam satwa endemik dan tata air kawasan karst, kebakaran juga mengancam situs prasejarah bernilai tinggi yang berada di dalam taman nasional.

Hingga Senin (19/10/2026), berdasarkan data Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sebanyak 196 hektar kawasan telah terbakar. Kebakaran yang berlangsung sejak akhir September itu menghanguskan kawasan penyangga hingga kawasan inti.

”Sejak kemarin sore, api di dalam kawasan telah padam. Tapi di luar kawasan masih ada titik api dan tidak menutup kemungkinan api bisa merambat kembali ke dalam kawasan,” kata Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Abdul Rajab di Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Rajab, luas kebakaran kali ini merupakan yang terbesar selama ini. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, kebakaran di kawasan tersebut biasanya hanya mencapai puluhan hektar. Kali ini, api melahap sejumlah lokasi hampir bersamaan hingga mencapai ratusan hektar.

Akibatnya, dampak kebakaran juga meluas. Satwa endemik terdampak dan terancam. Yaki atau Macaca Sulawesi terlihat berlarian mencari tempat aman. Rangkong, elang, dan burung lainnya beterbangan. Tarsius yang hidup di rumpun bambu juga terancam.

Baca JugaSulawesi Dikepung Asap Kiriman Kalimantan dan Papua

”Yang tim temukan di lapangan itu ada bunglon, ular, hingga burung yang hangus. Kami masih mendata dan mencari dampak terhadap satwa dalam kebakaran ini, termasuk kerugian vegetasi, karbon, dan kekayaan lainnya,” ucap Rajab.

Pemadaman sulit dilakukan karena medan karst yang menjulang tinggi dan curam. Sumber air yang mengering akibat kemarau panjang juga menambah kesulitan petugas di lapangan.

Karena itu, Rajab mengatakan pihaknya berencana menyelidiki sumber api. Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas pengambilan madu di dalam kawasan sedang marak. Aktivitas tersebut diduga berpotensi meninggalkan api yang kemudian memicu kebakaran.

Selain itu, Balai TN Bantimurung Bulusaraung juga memperoleh informasi mengenai kemungkinan pembukaan lahan di dalam dan sekitar kawasan.

”Tapi ini semua masih dugaan yang sedang kami kumpulkan informasinya. Yang jelas, kebakaran ini telah menimbulkan dampak besar beserta berbagai rentetannya,” tambah Rajab.

Baca JugaJejak “Candu” dari Sulawesi, Peramu Purba Mengisap Pinang 25.000 Tahun Lalu

Salah satu kekayaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) adalah bentang bukit karst dengan gua-gua di dalamnya. Kawasan karst tersebut tercatat sebagai salah satu yang terluas di dunia. Luas TN Babul mencapai sekitar 43.750 hektar dan sebagian besar berupa bentang karst dengan ratusan gua.

Di gua-gua tersebut, para arkeolog dan peneliti terus berupaya menyingkap jejak migrasi dan diaspora manusia, perkembangan kebudayaan, serta kearifan masyarakat masa lalu (Kompas, 30 September 2019).

Dihubungi secara terpisah, arkeolog dari Griffith University, Basran Burhan, mengatakan kebakaran di kawasan tersebut tidak hanya mengancam penduduk, satwa, dan kekayaan alam lainnya, tetapi juga situs prasejarah bernilai tinggi yang tersebar di dalam taman nasional.

”Ada total 734 gua di TN Babul, di mana 400 di antaranya terdapat lukisan yang berusia puluhan ribu tahun. Kebakaran ini bisa mengancam kelestarian karya seni cadas manusia prasejarah,” jelas Basran, yang juga tergabung dalam pusat kolaborasi riset arkeologi Sulawesi bersama Universitas Hasanuddin dan Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Baca JugaJalan Panjang Menemukan Besse, Manusia Sulawesi Berusia 7.200 Tahun

Menurut Basran, kobaran api yang menyentuh situs dapat memengaruhi permukaan batuan hingga menyebabkan pengelupasan. Kondisi tersebut berpotensi merusak atau bahkan menghilangkan lukisan dan peninggalan yang ada di dalam gua.

Bahkan, asap kebakaran saja dapat menimbulkan jelaga yang menempel pada pigmen lukisan prasejarah. Situasi tersebut berpotensi merusak nilai keilmuan dan estetika situs secara permanen.

”Perubahan suhu di dalam situs sendiri juga berpotensi besar mempercepat proses pelapukan. Jadi, kalau kita bilang, dampak kebakaran sangatlah besar pada warisan yang ada di kawasan tersebut,” tambahnya.

Karena itu, menurut Basran, langkah utama yang perlu dilakukan adalah mempercepat proses pemadaman, baik di dalam maupun di luar kawasan. Timnya juga sedang melakukan pemetaan untuk mengetahui dampak kebakaran terhadap situs-situs prasejarah yang ada di kawasan tersebut.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Lewat PRJ Surabaya 2026, Biskuit Kokola Kenalkan Kukis Black ke Gen Z
• 17 jam lalu
0
thumb
BP BUMN Dorong Kesiapan KDKMP melalui Kolaborasi Lintas Sektor
• 1 jam lalu
0
thumb
Kapolda dan Gubernur Sulut Turun Tangan, Imbau Warga Tak Khawatir soal BBM
• 11 jam lalu
0
thumb
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jakarta Hari ini 19 Oktober 2026, Ibu Kota Terik Seharian!
• 9 jam lalu
0
thumb
Gaya Sederhana dan Jenaka ala AKBP Candra Sasongko Kapolresta Surakarta
• 52 menit lalu
0
Berhasil disimpan.