IHSG Anjlok 4,31 Persen ke 4.961, Efek MSCI Berlanjut

kompas.tv
1 jam lalu
Cover Berita
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. (Sumber: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026).

Hal itu terjadi setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

IHSG dibuka melemah 223,23 poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke level 480,50.

Tekanan terhadap IHSG berlanjut setelah MSCI pada Jumat (16/10/2026) mengumumkan konsultasi dengan pelaku pasar global terkait usulan reklasifikasi Indonesia. Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal domestik.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada kemampuan indeks menembus level teknikal tertentu di tengah tekanan jual yang masih berlangsung.

Baca Juga: CEO Danantara Rosan saat IHSG Anjlok: Siap Masuk, Ini Adalah Momentum Sangat Baik

"Selama mampu kembali menembus area 5.326-5.332, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.631. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus support 4.999, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.471," ujar Liza dalam kajiannya dikutip dari Antara.

MSCI Soroti Transparansi Pasar Modal Indonesia

MSCI membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran signifikan mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia. Persoalan tersebut mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi.

MSCI menilai pengumuman reformasi oleh otoritas pasar modal Indonesia belum cukup tanpa implementasi yang konsisten dan bukti adanya perbaikan material yang berkelanjutan.

MSCI menerima masukan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.

Selama proses tersebut, MSCI mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks terkait saham Indonesia.

Kebijakan ini mencakup pembatasan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), penambahan jumlah saham dalam penghitungan indeks, penambahan saham ke MSCI Indonesia Investable Market Index, serta perpindahan ke segmen indeks berukuran lebih besar.

Baca Juga: Kapolri Jenderal Suyudi Usut Dugaan Pelanggaran Pasar Modal Pasca IHSG Anjlok

Rupiah dan Suku Bunga BI Jadi Perhatian

Selain perkembangan MSCI, pelaku pasar juga mencermati potensi perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026.

Liza menyebut peluang kenaikan suku bunga sebesar 25-50 basis poin hingga akhir tahun masih terbuka, terutama jika tekanan terhadap rupiah meningkat. Proyeksi tersebut merupakan pandangan analis, bukan keputusan resmi Bank Indonesia.

Ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), tingginya harga minyak dunia, dan risiko pelemahan nilai tukar menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Kombinasi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi impor (imported inflation) dan menambah tekanan terhadap stabilitas harga domestik.

"Kondisi tersebut menempatkan BI pada tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Liza.

Sementara itu, Bank Indonesia mendorong penguatan kerja sama internasional melalui perluasan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang negara ketiga dan meminimalkan dampak volatilitas nilai tukar global.

Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok 11,57 Persen ke 5.185, Saham HRTA dan ESSA Ambles 15 Persen

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian pertemuan IMF-World Bank dan G20 Finance Ministers and Central Bank Governors pada 12-18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.

Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Global

Dari mancanegara, data inflasi Amerika Serikat (AS) turut menjadi perhatian investor. Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) dilaporkan berada di atas perkiraan pasar.

Menurut Liza, kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember diperkirakan mendekati 77 persen.

Dalam pertemuan puncak IMF, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal pasti mengenai arah suku bunga berikutnya. Namun, ia menyatakan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tidak mengubah penilaiannya.

Risiko pasokan energi global juga meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz disebut mengurangi arus minyak harian menjadi rata-rata 11,62 juta barel pada pekan hingga 13 Oktober, dibandingkan tingkat dasar 17,15 juta barel.

Gangguan tersebut meningkatkan biaya pengiriman dan premi risiko bagi produsen yang mengangkut minyak melalui kawasan itu. Di sisi lain, serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut membatasi ketersediaan bahan bakar di pasar global.

Baca Juga: IHSG Anjlok hingga Sentuh 11%! BEI Sempat ‘Trading Halt’ Bursa Saham

"Kombinasi gangguan distribusi di Timur Tengah dan Rusia memperbesar risiko kelangkaan pasokan energi, sehingga pasar minyak semakin sensitif terhadap perkembangan konflik dan keamanan jalur pelayaran internasional," ujar Liza.

Bursa Asia Kompak Melemah

Pergerakan bursa saham global menunjukkan tren yang beragam pada akhir pekan lalu. Bursa Eropa kompak menguat pada Jumat (16/10/2026), dengan Euro Stoxx 50 naik 0,58 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,38 persen, DAX Jerman naik 0,95 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,28 persen.

Sebaliknya, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 1,10 persen, Nasdaq Composite merosot 2,50 persen, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,34 persen.

Pada perdagangan Senin pagi, bursa saham Asia juga bergerak di zona merah. Nikkei Jepang turun 1,12 persen ke 64.594,00, Shanghai Composite melemah 0,49 persen ke 3.698,96, Kospi Korea Selatan turun 0,22 persen ke 5.655,17, dan Straits Times Singapura melemah 0,10 persen ke 5.409,95.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong tidak diperdagangkan karena libur bursa.

Pergerakan tersebut menambah tekanan eksternal yang perlu dicermati investor di tengah ketidakpastian mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia dan arah kebijakan moneter global.

Baca Juga: Bursa Asia Mayoritas Menguat, Hanya IHSG yang Anjlok Lebih dari 10 Persen

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV/Antara

Tag
  • IHSG
  • MSCI
  • Bursa Efek Indonesia
  • LQ45
  • Bank Indonesia
  • saham
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
5 Camilan Sehat Sebelum Tidur
• 3 jam lalu
0
thumb
Menhaj Dorong UMKM Sulsel Manfaatkan Potensi Ekonomi Haji Rp4 Triliun
• 15 jam lalu
0
thumb
Presiden Mesir Siap Ambil Langkah Pertahanan untuk Lindungi Arab Saudi dari Ancaman Serangan Houthi
• 5 jam lalu
0
thumb
Sebelum Meninggal, Bocah Difabel di Surabaya Ditemukan dengan Bekas Tamparan dan Pasir di Tubuh
• 6 jam lalu
0
thumb
Ada Tamu Negara Penting, Cek Daftar Jalan Ditutup Sementara 19 Oktober
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.