Partai Golkar menunjukkan stabilitas keterpilihan di tengah dinamika politik nasional. Karakter partai yang sarat pengalaman politik dan memiliki kelengkapan jejaring organisasi tingkat nasional, mampu menjaga tingkat keterpilihan partai ini di tengah karakter pemilih yang semakin cair.
Memotret elektabilitas hasil survei lintang potong (cross sectional) dan profil pemilih Partai Golkar sejak 2022 hingga 2026, tecermin daya tahan partai dalam memulihkan elektabilitas. Dalam survei Litbang Kompas bulan Agustus 2026, elektabilitas Partai Golkar mencapai 9,5 persen, naik dari empat bulan sebelumnya, 7,9 persen.
Hasil survei sebelumnya di bulan Juli 2025 lebih rendah, di mana elektabilitas partai beringin hanya 6,7 persen. Itu merupakan hasil terendah dalam survei berkala Litbang Kompas terhadap parpol. Menilik pemberitaan media saat itu, bulan Juni 2025 didominasi polemik isu pertambangan nikel di Raja Ampat, di mana nama sang Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadila yang menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berada di pusat pemberitaan.
Kondisi demikian terjadi pula saat ini dalam isu antrean panjang bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sejumlah kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Bali. Figur tertinggi pemerintah yang berada tepat di pusat isu adalah Bahlil yang memegang posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus Menteri ESDM, serta Ketum Partai Golkar.
Pemerintah dan Bahlil merespons dengan penjelasan mengenai kondisi stok nasional dan kendala distribusi. Bahlil segera menjawab pertanyaan publik soal ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), meski bukan jawaban itu yang bisa menyelesaikan persoalan antrean BBM.
Catatan survei menunjukkan elektabilitas Golkar kembali menanjak dalam periode berikutnya yang mencerminkan daya lenting partai beringin ini bersama Bahlil. Secara keseluruhan, catatan hasil survei menunjukkan Golkar senantiasa masuk dalam minimal tiga besar peraih suara tertinggi meski mengalami fluktiasi naik turun poin cukup besar.
Profil partai ini memperlihatkan wajah lintas kelompok dengan kekuatan pada pemilih usia produktif, berpendidikan dasar-menengah, dan masyarakat kelas bawah-menengah. Kekuatan Golkar tampaknya bukan pada homogenitas basis sosial melainkan pada dukungan basis pemilih yang terus bergerak. Hal ini tecermin dari komposisi pemilih Golkar yang dapat berubah cukup besar sementara elektabilitas relatif stabil.
Ada fenomena sebagai salah satu ciri catch-all party, di mana Golkar dapat kehilangan sebagian pemilih usia tertentu misalnya, lalu memperoleh pemilih dari kelompok lain. Demikian pula partai bisa kehilangan kelas menengah lalu bertambah di kelas bawah, atau turun raihan suara di satu wilayah tetapi mendapat tambahan suara di tempat lain.
Golkar terutama ditopang pemilih usia 24-40 tahun dan usia 41-60 tahun yang jika digabungkan merupakan dua pertiga hingga tiga perempat basis pemilih partai. Kelompok pemilih berusia 23 tahun ke bawah relatif kecil, hanya berkisar seperlima bagian pemilih. Sementara pemilih berusia di atas 60 tahun hanya berkisar 6-7 persen.
Dari segi latar belakang pendidikan, separuh lebih pemilih Golkar berpendidikan dasar dan jika digabung dengan yang menengah maka proporsinya mencapai hampir 90 persen. Hal ini juga mencerminkan sebaran pemilih Golkar yang senada dengan struktur penduduk di Indonesia.
Dimensi geografis juga menunjukkan bahwa Jawa tetap menjadi bagian terbesar pemilih Golkar, mencapai sekitar separuh pemilih. Namun, luar Jawa seperti Sumatera relatif stabil di belasan persen, Sulawesi di peringkat berikutnya dan disusul Kalimantan. Hal ini menunjukkan basis pemilih terdistribusi secara nasional.
Dari segi latar belakang pendidikan, separuh lebih pemilih Golkar berpendidikan dasar dan jika digabung dengan yang menengah, proporsinya mencapai hampir 90 persen.
Indikator lain yang cukup serius adalah merosotnya loyalitas pemilih, di mana tingkat loyalitas pada September 2024 jauh lebih tinggi daripada April 2026. Loyalitas ini merujuk responden pemilih Golkar di pemilu 2024 yang menyatakan akan memilih Golkar kembali di pemilu mendatang. Jadi, selama dua tahun itu terjadi tingkat penurunan sekitar hampir seperlima bagian pemilih.
Sementara itu, angka loyalitas di bawah 50 persen artinya hanya sekitar separuh orang yang sebelumnya mengidentifikasi Golkar akan tetap bertahan dalam pemilihan berikutnya. Pemilih yang “keluar” kemungkinan terus digantikan pemilih baru atau pemilih mengambang.
Secara teoritik, fenomena ini relevan dengan proses dealignment Partai, yaitu kondisi di mana pemilih semakin tidak terikat secara psikologis kepada partai. Melalui konsep partisan dealignment, Russell J Dalton menunjukkan makin melemahnya hubungan psikologis antara pemilih dan partai, di mana pemilih makin mampu menentukan pilihan politik tanpa bergantung pada identitas partai.
Cairnya pemilih Golkar sebagaimana catatan profil di atas, akan semakin tidak menggantungkan diri pada satu kelas, ideologi, atau kelompok sosial tertentu, tetapi berusaha meraih pemilih seluas mungkin. Stabilnya elektabilitas Golkar di tengah merosotnya loyalitas adalah dua sisi mata uang.
Patut diduga, Golkar masih bisa memperoleh suara tinggi karena faktor-faktor normatif, jejaring yang meluas, kandidat yang dikenal publik lokal, pejabat pemerintah dari Golkar serta nama besar Golkar. Namun, keterikatan emosional dan identifikasi partisan tampaknya semakin tergerus.
Fakta lain, tengok pula aspek personalisasi politik yang merambati Golkar saat ini. Keterikatan kepada partai menjadi semakin cair jika proses personalisasi politik terus-menerus dominan tinggi kepada figur ketimbang kepada partai, baik tokoh di dalam maupun di luar partai.
Pada fase awal pemerintahan, sebagian besar basis Golkar sangat kuat berada di barisan belakang Presiden Prabowo. Namun, setelah pemerintahan berjalan, pemilih mulai melakukan pemilahan dan diferensiasi antara penilaian kepada presiden dan pilihan kepada partai. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi kepada figur presiden dan pilihan terhadap partai tak selalu berjalan sama.
Betapapun, tren hasil survei itu juga menunjukkan bahwa Golkar belum mampu menciptakan ekspansi elektoral yang besar seperti masa lalu. Golkar cukup tahan terhadap penurunan, tetapi belum berhasil menciptakan momentum untuk tumbuh melesat.
Kondisi tersebut berpotensi menghadapi persoalan strategis menuju Pemilu 2029. Partai Golkar harus mampu menjawab apakah akan tampil dengan identitasnya sendiri atau tetap menjadi partai pendukung pemerintah dan kembali menjadi kendaraan elite lain untuk menuju kursi kekuasaan tertinggi.
Golkar cukup tahan terhadap penurunan, tetapi belum berhasil menciptakan momentum untuk tumbuh melesat.
Menjelang hajatan 2029, persoalannya bukan apakah Golkar mampu mempertahankan elektabilitas, melainkan apakah mesin organisasi yang selama ini efektif dapat terus mengompensasi melemahnya loyalitas pemilih. Bagaimanapun elektabilitas menjadi rentan ketika konfigurasi koalisi, calon presiden yang didukung atau munculnya partai atau figur baru membuat basis suara golkar berpindah.






Komentar (0)