REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong investor China mengembangkan potensi durian di Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan pasar negara tersebut. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mendorong investasi dan industri pengolahan di daerah.
Iftitah mengatakan, China memiliki kebutuhan durian yang besar. Kondisi itu dinilai membuka peluang bagi investor untuk mengembangkan perkebunan durian di Indonesia, termasuk di Sulawesi.
- Kantor Imigrasi Denpasar Deportasi Dua WN China Pelaku Praktik Kedokteran Ilegal
- Perdagangan Kacang Hijau dan Rumput Laut RI-China Tembus Rp326 Miliar
- WN China Ditolak Masuk Indonesia karena Curi Barang Pesawat
"China membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama," kata Iftitah dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (18/10/2026).
Menurut Iftitah, peluang tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama ekonomi Indonesia dan China, khususnya melalui pengembangan komoditas unggulan. Dia telah berdiskusi dengan Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengenai peluang kerja sama di bidang pertanian di Papua dan sektor lain, termasuk pariwisata.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata," ujarnya.
Iftitah berharap, investasi asing dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Karena itu, pengembangan komoditas pertanian perlu disertai industri pengolahan, fasilitas penyimpanan, dan jaringan pemasaran agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada penjualan hasil panen.
Dia juga menekankan, pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi serta peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal. Dengan pendekatan tersebut, kata Iftitah, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan.
Dorongan pengembangan pertanian modern tersebut sejalan dengan pembelajaran Iftitah saat mengunjungi Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS) di Chongqing, China, Rabu (14/10/2026). Dalam kunjungan itu, dia mempelajari pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Salah satu inovasi yang dipelajari adalah sistem akuaponik yang mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran. Air dari kolam ikan diolah untuk dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tanaman, kemudian disirkulasikan kembali sehingga penggunaan air dan sumber daya lebih efisien.





Komentar (0)