Iran Tawarkan Kesepakatan untuk AS, Bisa Buka Selat Hormuz dalam Waktu Seminggu

okezone.com
1 jam lalu
Cover Berita

TEHERAN — Iran menawarkan untuk memulihkan pelayaran normal melalui Selat Hormuz dalam waktu satu minggu jika Washington menerima rencana perdamaian yang diusulkan Teheran bulan lalu, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ketentuan tersebut sebelumnya telah ditolak oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Republik Islam Iran tetap "berkomitmen terhadap navigasi yang aman dan terjamin di Selat Hormuz," kata Araghchi dalam pertemuan tingkat menteri Organisasi Kerja Sama Islam pada Sabtu (17/10/2026). Ia menyalahkan "tindakan agresif" AS dan Israel sebagai penyebab terganggunya pelayaran di jalur air vital tersebut.

"Melalui Qatar, kami telah menyampaikan rencana konkret tujuh hari: jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, Selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari," ujar Araghchi, sebagaimana dilansir RT. "Pilihan kini ada di tangan Amerika Serikat."

Baca Juga :
Trump Tolak Usulan Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Teheran Siap Kembali Perang

"Masalah ini tidak akan terselesaikan di medan perang. Perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman pemusnahan," tambah Araghchi.

Teheran menawarkan untuk memulihkan navigasi melalui jalur pelayaran minyak yang krusial tersebut dengan imbalan Washington mencabut blokade angkatan lautnya, melonggarkan pembatasan ekspor minyak Iran, serta melepas sejumlah aset Iran yang dibekukan. Iran juga menuntut diakhirinya permusuhan "di semua lini," termasuk operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon.

Bulan lalu, Trump menolak persyaratan Iran dengan menyebutnya "tidak dapat diterima." Ia berpendapat bahwa AS memegang kendali penuh atas selat tersebut dan memiliki posisi tawar yang lebih kuat, sementara Iran sangat ingin mencapai kesepakatan karena mereka sedang "kalah telak."

Baca Juga :
Presiden Iran Tegaskan Krisis Hormuz Tak Perlu Kekerasan, Ini Syaratnya!

Presiden AS telah mengisyaratkan kemungkinan untuk melanjutkan kembali serangan, sementara sejumlah media Amerika melaporkan bahwa para pejabat Pentagon dan penasihat keamanan nasional telah memberikan penjelasan kepadanya mengenai opsi-opsi yang mencakup penggunaan bahan peledak konvensional berdaya ledak dahsyat yang dijuluki "Mother of All Bombs" (Ibu dari Segala Bom). Meski demikian, Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mengesampingkan kemungkinan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November dan pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Berita Duka! Brigjen TNI Andi Gunawan Tutup Usia, Putra Jenderal Kopassus Legendaris Edi Sudrajat
• 46 menit lalu
0
thumb
Pencatatan Keuangan Akurat Dinilai Penting untuk Kurangi Risiko Bisnis
• 8 jam lalu
0
thumb
Pemkab Agam Targetkan Rehabilitasi 67 Sekolah Terdampak Bencana Rampung Akhir 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Rest Area Pertama Tol Cisumdawu Ditargetkan Beroperasi Saat Natal 2026, Progres Pembangunan Capai 66,92 Persen
• 10 jam lalu
0
thumb
5 Makanan Viral TikTok yang Bisa Menjadi Ide Jualan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.