REPUBLIKA.CO.ID, RUTENG, – Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), memastikan pembangunan kembali rumah warga lanjut usia (lansia) menjadi prioritas utama dalam program rekonstruksi rumah lansia pascagempa bumi yang melanda pada Agustus 2026. Kebijakan ini diambil mengingat kelompok lansia merupakan pihak yang paling rentan dan kehilangan kemampuan untuk membangun kembali tempat tinggal mereka secara mandiri.
Bupati Manggarai Herybertus Nabit menegaskan bahwa gempa bumi yang terjadi tahun lalu telah menghancurkan rumah-rumah warga lansia. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa mereka sudah tidak memiliki kemampuan fisik maupun finansial untuk bekerja dan mengumpulkan dana pembangunan rumah.
"Gempa Agustus 2026 lalu menghancurkan rumah-rumah mereka, sementara warga lansia itu sudah tidak punya kemampuan lagi untuk bekerja mencari uang untuk membangun kembali rumah mereka," kata Herybertus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, Minggu malam.
Menurut Bupati, dampak psikologis paling berat dirasakan oleh para warga lansia akibat kehilangan tempat tinggal. Oleh karena itu, proses rekonstruksi dinilai bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya memulihkan mental dan harapan hidup mereka. "Membangun rumah mereka kembali berarti menumbuhkan harapan untuk melanjutkan kehidupan mereka," ujarnya.
Konsep Rumah Tahan Gempa
Dalam pelaksanaannya, seluruh proses rekonstruksi akan mengadopsi konsep rumah tahan gempa. Langkah ini diambil untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali menimbulkan kerusakan parah di masa mendatang. Pemerintah daerah tidak hanya menerapkan standar ini pada rumah lansia, tetapi juga pada semua bangunan yang akan direkonstruksi maupun dibangun baru.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemkab Manggarai telah menggandeng sejumlah perguruan tinggi. "Sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Nusa Cendana dan ITN Malang telah membantu kami dalam memberikan modul konsep rumah tahan gempa," jelas Herybertus.
Berdasarkan data resmi Pemkab Manggarai yang dihimpun hingga 18 Oktober 2026, total terdapat 34.622 unit rumah yang terdampak gempa bumi. Bupati merinci, sebanyak 2.220 rumah atau sekitar enam persen mengalami rusak berat, sementara 6.129 unit lainnya mengalami rusak sedang.
Selain kerusakan fisik bangunan, data juga menunjukkan masih banyak warga yang bertahan di pengungsian. Tercatat sebanyak 1.301 warga masih mengungsi di 17 posko yang disediakan pemerintah. Sementara itu, 7.091 warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di dekat rumah mereka yang rusak.
Dari total warga yang mengungsi tersebut, Pemkab mendata terdapat 1.054 jiwa yang termasuk ke dalam kelompok rentan. Rinciannya meliputi 335 anak-anak, 265 warga lansia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas. Data ini semakin menguatkan alasan pemerintah daerah untuk memprioritaskan kelompok lansia dalam tahap awal rekonstruksi.
Komentar (0)