jpnn.com, JAKARTA - Peneliti Senior Citra Institute Efriza menilai penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dalam survei SMRC berpotensi mencerminkan akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Menurut Efriza, persoalan ekonomi, harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, hingga efektivitas program prioritas pemerintah dapat memengaruhi penilaian publik terhadap kepemimpinan Prabowo.
BACA JUGA: Tanggapi Hasil Survei SMRC, Efriza Minta Prabowo Evaluasi Kinerja Menteri
“Dalam politik, penurunan elektabilitas petahana tentunya dipengaruhi oleh persepsi terhadap kinerja pemerintah, terutama akumulasi kekecewaan terhadap persoalan ekonomi, harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, serta efektivitas program prioritas pemerintah,” kata Efriza kepada JPNN, Minggu (18/10).
Dia menilai penurunan elektabilitas yang signifikan semestinya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperbaiki kinerja.
BACA JUGA: Menjelang HGN 2026, PGRI Berharap Presiden Prabowo Beri Kabar Baik untuk Guru
Namun, Efriza mengingatkan bahwa angka elektabilitas dalam survei tetap perlu dibaca secara cermat dengan memperhatikan pertanyaan, waktu pengambilan data, dan indikator yang digunakan.
“Penurunan elektabilitas tidak selalu berarti penolakan total terhadap kepemimpinan presiden, melainkan dapat menjadi bentuk peringatan dari masyarakat agar pemerintah lebih responsif terhadap aspirasi dan kebutuhan publik,” ujarnya.
BACA JUGA: Acara di Istana Bogor Bukan Perayaan HUT Prabowo, Ini Faktanya
Efriza menegaskan, pemerintah perlu membuktikan keberhasilan kebijakan melalui hasil konkret yang dirasakan masyarakat.
Dia juga mengingatkan bahwa penurunan dukungan publik berpotensi memengaruhi kalkulasi politik partai-partai yang telah menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk Pilpres 2029.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut, partai-partai pendukung bisa mempertimbangkan kembali strategi politik mereka menjelang kontestasi mendatang.
Diketahui, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) membeberkan survei terbaru berjudul Elektabilitas Presiden Prabowo yang dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026.
Lembaga itu mengukur tren elektabilitas bebeberapa tokoh potensial untuk maju pada Pilpres 2029.
Satu di antaranya, SMRC menghitung tren elektabilitas Presiden RI Prabowo Subianto yang mengalami penurunan tajam.
"Elektabilitas Prabowo menurun," demikian pernyataan lembaga tersebut dalam survei teranyar mereka yang diumumkan Sabtu (17/10).
Eks Menhan RI itu tercatat memiliki elektabilitas sebesar 34,9 persen dalam temuan SMRC pada November 2025 dengan survei melalui telepon.
Elektabilitas Prabowo kemudian turun sedikit dalam survei SMRC yang dilaksanakan periode Februari-Maret 2026 dengan 33,3 persenTren penurunan makin terlihat dalam temuan SMRC pada Juli 2026. Prabowo tercatat memiliki elektabilitas 14,5 persen.
Elektabilitas Prabowo tak kunjung membaik berdasarkan temuan SMRC, karena kembali merosot ke angka 9,8 persen berdasarkan survei Oktober 2026. (kkp/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Kenny Kurnia Putra





Komentar (0)