Udara Jakarta Tidak Sehat, Warga Keluhkan Sesak Napas Saat Olahraga

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pukul 05.00 WIB, Mohammad Solehin (26) sudah berangkat dari rumahnya di daerah Matraman, Jakarta Timur, menuju Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2026). Dia hendak ikut salah satu ajang lari. Ia memang rutin melakukan olahraga lari di akhir pekan.

Namun, menurut pria yang akrab disapa Lehin ini, pengalaman lari hari ini cukup berbeda. Ia merasa napasnya terasa lebih berat. Dadanya lebih sesak ketika berlari dibandingkan hari-hari sebelumnya.

”Heart rate (denyut jantung) saya enggak pernah menyentuh angka 180 (denyut per menit). Namun, tadi pas lari bisa tembus sampai 198. Memang agak sesak juga,” ujarnya saat ditemui seusai acara.

Lehin belum tahu pasti apa penyebabnya. Namun, ia menduga itu adalah dampak buruk akibat kualitas udara di Jakarta akhir-akhir ini. Sebagai penderita asma, Lehin mengaku tubuhnya relatif sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Meski begitu, denyut nadi yang melonjak tinggi dan dugaan kualitas udara yang buruk tidak lantas membuatnya kapok berolahraga di Jakarta. Dia tak punya pilihan lain.

”Saya tetap olahraga lari karena memang kebutuhan tubuh untuk bergerak. Namun, bukan berarti ini hal yang baik untuk dilakukan. Buruknya kualitas udara di Jakarta sangat perlu diatasi,” tegasnya.

Keluhan serupa juga dikatakan Farizka Fani (24), yang lari pagi di kawasan car free day (CFD) Jalan Rasuna Said. Mulai pukul 07.00, ia berangkat dari indekosnya di Pancoran, Jakarta Selatan. Ia memang rutin melakukan olahraga lari dan beberapa kali menjadi finisher di acara maraton.

Namun, hari ini ia mengeluhkan udara Jakarta yang kurang baik. Fani bahkan memangkas jarak lari rutinnya dari 10 kilometer menjadi hanya 8 kilometer.

”Udaranya memang terasa enggak enak. Pernapasan jadi berat. Kalau lari kita memang dianjurkan buat bernapas hanya lewat hidung, tetapi tadi dapat 5 km udah buang napas lewat mulut karena sesak,” ujarnya.

Tidak hanya udara yang buruk, Fani juga mengeluhkan suhu yang panas. Kondisi ini membuat olahraga lari yang ia lakukan tidak seideal biasanya. Rasa sesak dan kekhawatiran akan terkena heatstroke (sengatan panas) membuatnya memilih untuk berjalan kaki di menit-menit terakhir olahraga.

Baca JugaPekerja di Jakarta Keluhkan Cuaca Panas yang Kian Menyengat

Perempuan asal Bandung ini mengaku sempat ragu untuk berangkat olahraga pagi setelah melihat indeks kualitas udara yang ia cek melalui laman IQAir menunjukkan kategori Tidak Sehat. Namun, ia tetap memilih keluar rumah karena menganggap lari sebagai kebutuhan rutin.

”Waktu berita abu Krakatau masuk Jakarta, aku memilih buat enggak lari dulu. Kalau sekarang aku tetap lari karena merasa masih bisa aku toleransi. Ternyata berdampak juga ke tubuh,” tuturnya.

Keluhan yang dialami oleh Lehin dan Fani ini sejalan dengan kualitas udara di Jakarta. Berdasarkan pemantauan pada Minggu (18/10/2026) pada laman IQAir, indeks kualitas udara Jakarta pada pukul 06.00 hingga pukul 10.00 fluktuatif, yaitu pada kisaran 157-171. Angka ini termasuk dalam kategori Tidak Sehat.

Secara umum, IQ Air mengevaluasi kualitas udara menggunakan standar resmi WHO. Terdapat enam polutan utama yang dikaji, yaitu partikulat kasar (PM 10), partikulat halus (PM 2,5), ozon (O3), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). Indeks menggunakan skala bernilai 0 hingga 500+ untuk menggambarkan tingkat konsentrasi polutan udara mulai dari Baik hingga Berbahaya.

PM 2,5 menjadi polutan utama yang mendominasi udara Jakarta. Pada pukul pukul 07.00, indeks kualitas udara di Jakarta adalah 175 dengan PM 2,5 sebesar 89,6 mikrogram per meter kubik.

Angka ini menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 di Jakarta enam kali lebih besar dibandingkan batas minimal harian yang ditetapkan WHO, yakni 15 mikrogram per meter kubik.

Baca JugaBerlari di Tengah Udara Jakarta, Amankah?
Citra BMKG

Di sisi lain, publik sempat diselimuti kekhawatiran terkait potensi dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jakarta. Pada Jumat (16/10/2026), asap karhutla memang terdeteksi berada di lapisan atmosfer Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Namun, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto dalam siaran pers resmi BMKG pada Sabtu (17/10/2026) mengatakan, citra satelit saat itu hanya menunjukkan keberadaan asap di atmosfer lapisan atas dan tidak serta-merta berdampak langsung pada tingkat konsentrasi polutan di permukaan.

Sebaran asap karhutla yang sempat melintas tersebut tidak berlangsung lama. Sejak Sabtu (17/10/2026), sebaran asap karhutla di wilayah Jawa bagian barat termasuk Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi terpantau bergerak menjauh secara bertahap.

Baca JugaAsap Karhutla Terdeteksi di Jabodetabek, BMKG Pantau Dampaknya ke Kualitas Udara

Meskipun demikian, BMKG masih mendeteksi sisa sebaran asap di pesisir barat Banten pada ketinggian 10.000–18.000 kaki (3-5,4 kilometer). Perubahan arah dan pelemahan kecepatan angin pada ketinggian tersebut memengaruhi pergeseran asap dari wilayah Jawa.

Guswanto menegaskan, keberadaan asap di atmosfer atas tidak selalu berarti lonjakan polutan di permukaan sehingga masyarakat diimbau untuk tidak perlu panik.

”BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Menurut Guswanto, penurunan kualitas udara di Jakarta lebih dipicu pada kombinasi emisi tinggi, musim kemarau, angin lemah, dan inversi suhu. Musim kemarau yang terjadi saat ini berkontribusi pada menurunnya kualitas udara akibat berkurangnya hujan sebagai pencuci polutan (Kompas.id, 15/10/2026).

Baca JugaLangit Jabodetabek Abu-abu, Benarkah Asap Karhutla Sudah Sampai?

Apa pun alasan dari menurunnya kualitas udara di Jakarta, kondisi ini dikeluhkan oleh warga. Omar (23), warga yang jalan pagi di CFD Jalan Jenderal Sudirman, merasa lebih sesak ketika berjalan tak hanya ketika CFD, tetapi juga sepekan terakhir.

Sebagai pekerja yang sehari-hari menggunakan transportasi umum, penurunan kualitas udara di Jakarta sangat ia rasakan.

”Kalau naik transportasi umum pasti banyak jalan, itu rasanya jadi lebih ngos-ngosan,” ujarnya.

Meski mengetahui kualitas udara yang buruk, ia tetap melakukan jalan pagi saat CFD lantaran kebutuhan tubuhnya akan olahraga. Menurut dia, tidak berolahraga justru akan membuat fisiknya lebih rentan terkena penyakit.

”Ya enggak ada pilihan lain, memang tinggal di sini. Jadi lebih baik olahraga (dengan kondisi kualitas udara buruk) daripada enggak sama sekali,” tambahnya.

Baca JugaDua Sisi Perbaikan Kualitas Udara Jakarta
Baca JugaPolusi Udara Jakarta Kronis, Revisi Perda Harus Sesuai Kondisi Terkini


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polres Jakpus Hentikan Penyidikan Salah Satu Kasus Pencurian, Ini Penjelasan Resminya
• 6 jam lalu
0
thumb
Pemprov Jakarta Buka Balai Kota untuk Umum, Warga Bisa Tur hingga Menonton Film
• 1 jam lalu
0
thumb
Tongkat Komando Pangdam Diponegoro Berganti, Mayjen Sudaryanto Gantikan Mayjen Achiruddin
• 52 menit lalu
0
thumb
Menjelang Apel HSN di Pekanbaru, Mafirion PKB Dorong Aksi Nyata Peduli Karhutla
• 4 jam lalu
0
thumb
Wamendagri Bima Dorong Penguatan Peran Humas Jembatani Pemerintah-Masyarakat
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.