Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 678,67 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,11 pada akhir perdagangan Jumat (16/10), lalu setelah MSCI mengusulkan Indonesia turun ke Standalone Market. Pelaku pasar masih mencermati respons lanjutan dari usulan MSCI tersebut.
Dengan kondisi demikian, analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan kondisi perdagangan besok (19/10) masih rawan koreksi.
“Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5092 dan resist 5295. Kami perkirakan dipengaruhi oleh respons lanjutan terhadap proposal MSCI,” kata Herditya kepada kumparan, Minggu (18/10).
Di sisi lain, posisi rupiah yang saat ini cenderung tertekan terhadap USD juga akan dipertimbangkan pasar. Selain itu, pasar juga akan mencermati PDB China.
“Apabila menguat maka implikasinya ke Indonesia dapat dikatakan positif bagi komoditas,” ujarnya.
Lebih lanjut, analis dari Republik Investor, Hendra Wardana menjelaskan bahwa pasar saham Indonesia saat ini memang sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih serius daripada koreksi teknikal biasa.
Usulan MSCI untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market menurutnya telah memicu kekhawatiran investor terhadap kredibilitas, transparansi, dan tata kelola pasar modal nasional
“Menurut saya, kondisi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemulihan harga saham. Investor kini tidak hanya mempertimbangkan apakah valuasi saham sudah murah, tetapi juga menilai apakah risiko berinvestasi di Indonesia masih sebanding dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan,” kata Hendra.
Meski demikian, usulan MSCI belum merupakan keputusan final. Pemerintah dan otoritas pasar modal menurutnya masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa pembenahan dilakukan secara nyata melalui peningkatan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, penguatan klasifikasi investor, pengawasan konsentrasi kepemilikan, pemenuhan ketentuan free float, serta penegakan aturan terhadap transaksi yang tidak wajar.
“Pasar membutuhkan bukti implementasi yang konsisten, bukan sekadar pengumuman kebijakan. Selain itu, konsistensi kebijakan fiskal juga perlu diperhatikan, terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan program-program besar pemerintah,” ujarnya.
Adapun ia memproyeksi dari sisi teknikal, IHSG masih berisiko melanjutkan pelemahan apabila belum muncul sentimen positif yang kuat dan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar.
“Level psikologis 5.000 menjadi support penting yang perlu dicermati. Apabila level tersebut ditembus secara meyakinkan, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju 4.880. Sebaliknya, jika pemerintah dan otoritas pasar modal mampu menunjukkan langkah pembenahan yang kredibel, tekanan jual mulai mereda, dan investor kembali melakukan akumulasi, IHSG berpeluang mengalami pemulihan menuju 5.280, dengan resistance berikutnya di 5.400,” kata Hendra.






Komentar (0)