BNPB Uji Coba Teknologi Dry Ice untuk Tangani Asap Karhutla, Apa Itu?

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengkaji penerapan teknologi "dry ice" atau es kering untuk mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penerapan teknologi ini tengah diuji coba di Sumatera Selatan.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menjelaskan, teknologi ini telah diuji coba dua kali di Sumsel. Penggunaannya akan terus dievaluasi untuk mengetahui efektivitasnya dalam menangani dampak Karhutla. 

Ia berharap, hasil evaluasi tersebut menjadi pertimbangan untuk penerapan teknologi serupa di daerah lain. "Kalau memang teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu makan banyak biaya, dan bisa kita aplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, ya kenapa tidak," katanya seperti dikutip dari Antara. 

Ia mengingatkan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga perusahaan pemegang konsesi, dalam mencegah karhutla. Upaya pemadaman yang dilakukan petugas akan sulit mencapai hasil optimal jika masih terjadi pembakaran lahan.

"Mari sama-sama, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian masyarakat, swasta, kita sama-sama bersatu padu. Kita atasi kebakaran ini, karena dampaknya itu juga semua yang terkena," kata Kristomei.

Apa Itu Teknologi Dry Ice?

Penggunaan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca diarahkan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan. Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan sehingga menghambat pergerakan udara ke atas dan menyebabkan asap serta polutan terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam OMC secara khusus diarahkan untuk memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi.

“Melalui OMC menggunakan dry ice, kami mencoba memengaruhi kondisi atmosfer agar lapisan tersebut melemah dan pergerakan udara menjadi lebih baik. Dengan demikian, konsentrasi asap di dekat permukaan diharapkan dapat berkurang,” ujar Thomas.

Pada hari pertama operasi, satu sortie penerbangan dilakukan dengan menyemai 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang. Memasuki hari kedua, operasi dilanjutkan dengan rencana dua sortie penerbangan yang pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer.

Berdasarkan pemantauan, kondisi jarak pandang di Palembang pada Sabtu pagi menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya. Perbaikan jarak pandang tersebut membantu pelaksanaan operasi Satgas Udara. Namun, perkembangan ini masih terus dipantau dan dievaluasi bersama kondisi atmosfer selama pelaksanaan OMC.

OMC dilaksanakan secara adaptif mengikuti dinamika atmosfer. Apabila lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan. Penentuan bahan semai dan pelaksanaan penerbangan disesuaikan dengan kondisi atmosfer yang berkembang.

“Apabila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, penyemaian dapat dikombinasikan dengan NaCl. Setiap penerbangan disesuaikan dengan hasil pemantauan dan perkembangan cuaca,”kata Thomas.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Persebaya Masih Punya PR Besar, Dua Kali Tertinggal di Kandang Sendiri
• 3 jam lalu
0
thumb
Kapolres Diadukan soal Penanganan Kasus Dugaan Pencurian, Begini Tanggapan Polres Jakpus
• 3 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Rombongan Suporter PSS di Tol Ngawi-Caruban, Pieter Huistra Sampaikan Duka Mendalam
• 3 jam lalu
0
thumb
Kapolresta Bogor Kota Cek SPBU, Pastikan Pasokan dan Distribusi BBM Aman
• 3 jam lalu
0
thumb
China Usul Pembatasan Ekspor 12 Teknologi Pembuatan Peralatan Panel Surya, Ini Alasannya
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.