Perangi Pernikahan Anak Lewat Seni, Proyek Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak Angkat Suara Perempuan Muda di Lae-Lae

harianfajar
1 bulan lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Pernikahan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, di mana hampir 30% perempuan menikah sebelum usia 19 tahun. Realitas ini diperparah oleh tekanan ekonomi, rendahnya akses pendidikan, dan budaya patriarki yang kuat di Pulau Lae-Lae, menjadikan pernikahan usia muda sebagai jebakan bagi masa depan anak perempuan.

Berdasarkan laman The Child Marriage Data Portal, sekitar 16% perempuan Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun, angka yang meski menurun, tetap menunjukkan praktik pernikahan anak sebagai persoalan nasional yang belum tuntas. Data resmi Badan Pusat Statistik memperlihatkan angka lebih tinggi di Sulawesi Selatan, hampir 30% perempuan menikah sebelum usia 19 tahun.

Fenomena ini bukan sekadar statistik, melainkan realitas yang mencabut hak dan otonomi anak perempuan untuk menggapai mimpi mereka. Tekanan ekonomi dan budaya patriarki menjadi faktor utama yang memperkuat praktik ini di Pulau Lae-Lae.

Dalam upaya memperjuangkan hak-hak anak perempuan dan ibu agar bebas dari belenggu budaya patriarki, proyek “Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak” hadir sebagai ruang kesadaran kolektif. Melalui medium seni pertunjukan, proyek ini mengajak masyarakat mempertanyakan ulang alasan merenggut hak anak untuk hidup dan bermimpi.

Fatmawati Hamzading, inisiator sekaligus aktor tunggal dalam pertunjukan teater monolog ini, menjelaskan bahwa karya tersebut membongkar narasi kelam dengan menghadirkan suara perempuan muda melalui fragmen-fragmen kesaksian berbasis pengalaman nyata perempuan di Pulau Lae-Lae.

“Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak adalah sebuah pertunjukan teater monolog yang membongkar narasi-narasi kelam dengan menghadirkan suara perempuan muda dalam tubuh aktor tunggal,” kata Fatmawati.

Rangkaian kegiatan proyek ini melibatkan kolaborasi antara warga, seniman, dan pemerintah setempat melalui pertunjukan monolog dan sesi diskusi. Kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna Pulau Lae-Lae pada Senin, 24 Agustus 2026, dengan pertunjukan “Sore di Balai-Balai” pukul 10.00 Wita dan diskusi pukul 11.00 Wita.

Sukarno Hatta, manajer produksi, menegaskan bahwa pendekatan artistik dan partisipatif ini bertujuan memperkuat suara perempuan dan melawan dominasi narasi arus utama yang sering mengabaikan pengalaman ketubuhan mereka.

“Proyek Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak berupaya memperkuat suara dan narasi perempuan melalui seni pertunjukan, sebagai upaya melawan dominasi narasi arus utama yang sering mengabaikan pengalaman ketubuhan mereka,” jelas Sukarno Hatta. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Bertemu Sekjen PBB Guterres di Hambalang, Bahas Masalah Global
• 4 jam lalu
0
thumb
Tanggapi Hasil Survei SMRC, Efriza Minta Prabowo Evaluasi Kinerja Menteri
• 1 jam lalu
0
thumb
Demo Tingginya Biaya Hidup di Belgia Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
• 3 jam lalu
0
thumb
Putusan Pengadilan Paris tentang Fitur yang Telah Dihentikan Hanya Akan Berdampak Minimal terhadap Pelanggan Angelalign
• 6 jam lalu
0
thumb
Terungkap! Alasan Jokowi Berubah Sikap ke Prabowo, Kasus Ijazah Gibran Jadi Sorotan!
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.