Terkini, Makassar — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks di tengah perubahan tatanan dunia.
Ia menyebut tantangan tersebut sebagai *“gempa tektonik geopolitik”* yang akan menguji kemampuan bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan dan ketahanan nasional.
Hal itu disampaikan Anis Matta saat memberikan pengarahan pada *Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026*.
Anis berharap Muktamar V Wahdah Islamiyah dapat melahirkan pemikiran dan rekomendasi yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, kehadiran organisasi kemasyarakatan dalam kehidupan bangsa memiliki dua dimensi utama, yakni *shina’atul mujtama’* atau membentuk masyarakat dan *idaaratud daulah* atau mengelola negara.
“Shina’atul mujtama’ lebih penting, karena pada dasarnya negara adalah organisasi yang dibentuk di mana masyarakat itu tumbuh,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sistem politik dan bentuk negara dapat mengalami perubahan, namun masyarakat, umat, dan bangsa akan terus ada. Karena itu, kekuatan masyarakat menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan sebuah negara.
Anis kemudian mengajak peserta melihat kembali perubahan besar dunia pada awal abad ke-20. Perang Dunia I pada 1914–1918 berujung pada runtuhnya sejumlah imperium. Revolusi Bolshevik pada 1917 turut mengubah Rusia secara fundamental, sementara pada 1924 kekhalifahan Turki Utsmani berakhir dan wilayahnya kemudian terfragmentasi ke dalam sejumlah negara bangsa.
Dalam konteks itu, Anis melihat Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang berbeda. Jika sejumlah kawasan mengalami fragmentasi dari imperium besar menjadi negara-negara yang lebih kecil, Indonesia justru lahir melalui proses penyatuan berbagai kerajaan, daerah, suku, bahasa, dan kelompok masyarakat ke dalam satu Republik.
Karena itu, menurutnya, “menjadi Indonesia” merupakan pekerjaan besar yang harus terus dirawat dari generasi ke generasi.
Tantangan tersebut menjadi semakin berat di tengah perubahan geopolitik global. Anis menyebut peperangan yang terjadi saat ini memiliki sejumlah karakteristik, yakni bersifat hybrid dengan menggunakan berbagai instrumen mulai dari militer, ekonomi hingga politik; berlangsung berlarut-larut untuk menguras sumber daya lawan; berkembang secara regional; serta mengalami eskalasi secara bertahap.
Situasi itu, lanjutnya, pada akhirnya akan memberi dampak terhadap perekonomian dunia dan berpotensi menyeret banyak negara ke dalam krisis.
Di tengah kondisi tersebut, Anis mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam, untuk memikirkan bagaimana Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi negeri yang memperoleh keberkahan di tengah konflik global.
“Bagaimana caranya menjadikan semua kebaikan ada di Indonesia di tengah konflik geopolitik,” ungkapnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran ormas dalam membangun kekuatan masyarakat, memperkokoh persatuan, serta menjaga Indonesia agar tetap stabil di tengah perubahan besar tatanan dunia.





Komentar (0)