JAKARTA, KOMPAS – Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di Pulau Kalimantan membuat ribuan sekolah menerapkan skema pembelajaran jarak jauh. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah hingga saat ini sebanyak 3.524 satuan pendidikan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaporkan dialami sebanyak 571.338 murid. Mereka tersebar antara lain di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Kayong Utara (Kalimantan Barat), Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kalimantan Tengah), serta Kota Banjarbaru (Kalimantan Selatan).
Berdasarkan laporan di Kompas.id (22/8/2026), data dari situs Sipongi Kemenhut, jumlah titik panas di Kalimantan pada Jumat (21/8/2026) mencapai 8.638 titik. Titik panas terbanyak terpantau di Kalimantan Barat sebanyak 3.705 titik, disusul Kalimantan Tengah (3.081), Kalimantan Timur (978), Kalimantan Selatan (776), dan Kalimantan Utara (98).
Di Kalbar, ribuan anak terpaksa mengikuti aktivitas belajar-mengajar belajar secara daring selama lebih dari sepekan. Hal ini karena kemunculan kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas dan pernapasan warga.
Berdasarkan Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, tanggal 21 Agustus 2026, Pemerintah Kota Banjarbaru menetapkan sejumlah langkah menyikapi bencana Karhutla. Melalui surat tersebut, seluruh satuan pendidikan memberlakukan PJJ mulai tanggal 24 -.28 Agustus 2026.
Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan tetap melaksanakan tugas di sekolah sesuai ketentuan waktu bekerja dengan toleransi keterlambatan yang telah disesuaikan. Waktu pelaksanaan PJJ tetap menyesuaikan jam normal pembelajaran yang dimulai pukul 07.30 WITA.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mengupayakan pembelajaran berlangsung dengan aman, adaptif, dan tetap menjamin hak belajar murid. “Kami akan memperbarui Surat Edaran Menteri sebagai penegasan terkait protokol pembelajaran darurat asap,” kata Mendikasmen Abdul Mu’ti melalui siaran pers, Sabtu (22/8/2026).
Utamakan keselamatan
Mu’ti menegaskan, Kemendikdasmen tetap mengedepankan tiga prinsip, yakni keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. Lalu, hak belajar murid tidak berhenti, serta pemulihan pascabencana harus terencana sejak awal.
Untuk itu, kepala sekolah, pengawas, pembina, dan penilik diminta untuk menjaga proses PJJ berjalan dengan baik.
Kemendikdasmen, lanjut Mu’ti, siap bergerak cepat bersama seluruh kementerian/lembaga terkait guna memastikan seluruh murid terdampak Karhutla tidak kehilangan hak belajar dan terus melakukan proses pembelajaran yang efektif, adaptif, dan efisien. Untuk itu, kepala sekolah, pengawas, pembina, dan penilik diminta untuk menjaga proses PJJ berjalan dengan baik.
“Kepala sekolah adalah pihak yang memegang kendali penuh atas pelaksanaan dan pengawasan PJJ. Pengawas, pembina, dan penilik di masing-masing satuan pendidikan bertugas membantu memantau dan melakukan pembinaan guna mendukung antisipasi penanggulangan kabut asap dan kelancaran proses pembelajaran,” jelas Mu’ti.
Selain akan memperbarui Surat Edaran Menteri sebagai penegasan terkait protokol pembelajaran darurat asap, Kemendikdasmen juga akan mengaktifkan Posko Pendidikan Darurat Karhutla di lima provinsi prioritas. Hal lainnya yakni memberlakukan pelaporan status pembelajaran harian melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan mendistribusikan bantuan berupa masker medis dan paket kesehatan kepada satuan pendidikan terdampak.
Hingga akhir September mendatang, Kemendikdasmen akan terus memantau perkembangan situasi mengacu pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian. Agar proses pembelajaran tetap berjalan, Kemendikdasmen menyediakan modul pembelajaran, menyiapkan ruang kelas aman asap di sekolah rujukan tiap kecamatan terdampak, menyiapkan pelayanan psikososial, serta melakukan fleksibilitas penggunaan dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dan BAntuan Operasional Sekolah (BOS) untuk kebutuhan darurat asap.
Terkait bencana gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timut (NTT), Mu’ti mengatakan di tengah kondisi darurat, Kemendikdasmen hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perhatian, dukungan, dan kebutuhan belajar. Selain menyalurkan bantuan di lokasi pengungsian, Kemendikdasmen melalui Direktorat Sekolah Dasar juga memberikan santunan kepada guru dan murid yang terdampak gempa bumi.
Di Kabupaten Manggarai, Tim Kemdikdasmen memberikan bingkisan makanan berupa susu, air minum kemasan, dan makanan ringan. Selain itu, menyerahkan school kit secara simbolis kepada perwakilan murid jenjang PAUD, SD, dan SMP. Family kit turut diberikan kepada para guru yang berada di lokasi pengungsian.
Santunan senilai Rp2 juta dan family kit diberikan kepada salah satu guru di SDK Ri’i, Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT, yang tertimpa reruntuhan bangunan rumah akibat dampak gempa bumi.
Kemendikdasmen juga menyalurkan santunan sebesar Rp 1 juta dan school kit kepada salah satu murid kelas V SDK Ri’i yang terkena reruntuhan puing bangunan sekolah.
Sementara itu, santunan juga diberikan kepada keluarga murid yang meninggal dunia, yakni Febriani Evika Jas, murid kelas V SDK Ri’i. Kemendikdasmen menyerahkan santunan sebesar Rp 5 juta serta bantuan sembako kepada orang tua almarhumah.






Komentar (0)