Jauh dari Laut, Kegiatan Napi di Lapas Sukamiskin Justru Bikin Speedboat

detik.com
2 jam lalu
Cover Berita
Bandung -

Lapas Sukamiskin berada di tengah Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar) yang letak geografisnya jauh dari laut atau perairan dalam. Namun lapas ini justru membuka kegiatan bimbingan kerja (bimker) pembuatan kapal cepat atau speedboat untuk para warga binaan alias narapidana (napi).

Dua lokasi mirip hanggar difungsikan oleh pihak lapas menjadi galangan speedboat. Para napi dilatih mulai dari proses cetak, amplas, las, pembesian hingga finishing badan speedboat.

Konsep, desain, manajemen produksi hingga pekerjaan teknis dikerjakan napi. Speedboat ini diberi merek Sukaboat dan telah tembus pasar.

"Saya awalnya di sini kan di konveksi. Pindah ke bimker speedboat belajar dari nol. Yang membuat saya tertarik ini ilmu dan pengalaman baru," kata salah satu napi Lapas Sukamiskin Bandung, Wawan, saat ditemui detikcom di Hanggar Sukaboat, Kamis (20/8/2026).

Foto: Jauh dari laut, kegiatan napi di Lapas Sukamiskin justru membuat speedboat. (Audrey/detikcom).

Setahun terakhir, pria yang lahir dan besar di Subang itu menghabiskan waktunya di hanggar Sukaboat bersama napi lainnya. Wawan yang awalnya mengikuti bimker di bengkel konveksi mengaku bosan karena sebelum terjerat kasus narkoba, ia memang bekerja sebagai penjahit di perusahaan konveksi milik orang lain.

"Jobdesk kita random mengikuti tahapan pembuatan kapal. Pas cetak ya nyetak, pas cat ya ngecat, pas tahapnya ngelas ya kita ngelas. Karena pelatihannya itu kita diajarkan bisa mengerjakan semuanya, tidak per bagian," ujar Wawan.

Pria 26 tahun ini mengatakan membuat kapal memang baru baginya. Sebelum menjalani pidana, Wawan pernah juga bekerja di bengkel motor dan mobil serta pabrik.

Namun Wawan tak memungkiri, masing-masing napi memiliki keahlian tersendiri. Setelah melalui seluruh tahap pengerjaan speedboat, Wawan menuturkan kemampuan masing-masing pekerja biasanya mulai terlihat. Ada yang lebih mahir mengerjakan railing besi, ada yang hasil pengecatannya lebih halus.

"Seperti saya, lebih cenderung skill-nya di nyetak (mencetak badan speedboat)," ucap pria 26 tahun ini.
Setahun, Wawan Kerjakan 5 SB6

Selama setahun bergabung di bengkel Sukaboat, Wawan mengaku sudah terlibat mengerjakan lima unit speedboat tipe SB6.

Menurut Wawan, proses pencetakan badan kapal dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan. Pekerjaan justru membutuhkan waktu lebih panjang ketika masuk tahap finishing.

"Prosesnya nyetak sebulan juga sudah beres, tapi yang lama proses finishing," tutur Wawan.

Wawan mengatakan banyak pengetahuan baru yang diperolehnya. Tak hanya praktik, ia juga belajar teori dasar mengenai kapal.

"Banyak sekali pelajaran yang saya dapat di sini, pastinya bangga sudah bisa bikin kapal. Saya belajar teori-teori soal kapal, jadi makin bertambah wawasan. Saya sudah mengerjakan lima kapal SB6," ungkap dia.

Premi Rp 500 Ribu Per Pekan

Ketika ada pesanan speedboat, Wawan dan napi lainnya yang bekerja mendapatkan premi Rp500 ribu per minggu. Premi tersebut ia kumpulkan untuk bekal saat bebas.

"Di sini ilmu baru, ya susah-susah gampang. Preminya per minggu Rp 500 ribu," katanya.

Keterampilan tersebut kini mulai dipikirkan Wawan sebagai bekal ketika bebas. Ia dijadwalkan pulang pada 17 September.

"Ini bekal balik saya, berharap bisa kerja di galangan kapal. Impian, cita-cita saya kalau punya modal pengen buat galangan," ujarnya.

Wawan bahkan mempertimbangkan kembali ke Lapas Sukamiskin sebagai pekerja honorer setelah bebas. "Saya juga mau balik lagi ke sini, kerja di hanggar luar, jadi honorer Sukaboat," harap Wawan.

Kalapas Sukamiksin Nanank Syamsudin menjelaskan, memang terdapat dua hanggar Sukaboat. Hanggar dalam untuk napi yang menjalani masa pidana, sementara hanggar luar untuk menempatkan sementara speedboat yang sudah selesai dibuat, serta sebagai wadah kerja bagi eks napi yang ingin bergabung kembali ke Sukaboat.

"Bisa kerja di hanggar luar, itu letaknya bagian depan lapas," ucap Nanank.

Ia juga telah merencanakan pemberdayaan koperasi bagi napi maupun eks napi. Sukaboat rencananya menjadi salah satu unit usaha yang dimasukkan di koperasi.

Nanank menceritakan banyak eks napi yang telah merasakan manfaat dari bimbingan kerja di lapas, lalu menawarkan diri untuk kembali bekerja secara profesional di lapas.

"Kita mau memberdayakan lagi Koperasi Merah Putih warga binaan. Salah satu unit usahanya koperasi ya kapal ini. Banyak yang juga eks napi mau balik (kerja) ke (bengkel-bengkel kemandirian di) sini,"

"Contoh yang kegiatan di pastori, pas 17 Agustus dia (eks napi) mau pulang, dia minta izin 'Pak saya pulangnya besok-besok aja'. Saya bilang, 'Ya nggak bisa. Harus pulang hari ini'. Lalu yang di bimker Sukabread, 'Kamu pulang besok'. Dia jawab, 'Iya Pak tapi saya mau balik lagi'. Saya bingung mau ngapain, katanya 'Saya mau kerja di sini Pak'," cerita Nanank.

Pengembangan Sukaboat Digerakkan Emirsyah Sattar

Wawan menyebut nama mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar sebagai penggerak bengkel Sukaboat. Emir merupakan napi kasus korupsi pengadaan pesawat, yang menjalani masa pidana di lapas tersebut.

Wawan juga menyebut desain berbagai tipe speeeboat yang dibuat dirinya dan kawan-kawan merupakan karya dari seorang napi yang berlatar belakang ahli design, alumnus Institut Teknologi Bandung. Sehingga di level manajerial, Sukaboat diawaki napi-napi yang memiliki keahlian di bidang masing-masing

"Saya belajar jadi pribadi lebih baik dari bapak-bapak itu, saya lebih menghormati aturan-aturan yang ada di sini. Saya jadi lebih teratur," tutur Wawan.

Ditemui detikcom, Emir mengatakan latar belakang ekonom membuat dia tak bisa berhenti berpikir meski kini ruang geraknya terbatas jeruji besi. Pengalaman manajerialnya selama memimpin Garuda Indonesia, ia coba implementasikan di Sukaboat.

"Dulu main terbang, sekarang main laut. Kita kerahkan keahlian, kemampuan kita untuk ikut berkegiatan bimbingan kerja di Lapas Sukamiskin, yaitu project Sukaboat," kata Emir sambil tersenyum.

Pria 67 tahun ini lalu mengajak napi lainnya yang memiliki latar belakang keahlian desain produk, peraturan kapal, pengalaman di bidang kapal nelayan hingga pasar modal. Sehingga Sukaboat menjadi produk unggulan di pasar industri perkapalan.

"Ada Pak Rio yang desain kapal, lulusan ITB; Pak Irwan alumnus ITS jurusan Perkapalan; Pak Gapa ini ahli dalam peraturan-peraturan perundangan kapal; Pak Risyanto mantan Dirut Perum Perindo di Muara Baru; Pak William ini jago pasar modal," terang Emir.

Sejak dirintis 2024 hingga Agustus 2026, Emir mengatakan Sukaboat sudah menjual lebih dari 25 unit speedboat. Menurut Emirsyah, napi yang sama sekali belum memiliki kemampuan membuat kapal pun tetap bisa mengikuti kegiatan di bengkel.Sukaboat.

"From zero pun tetap bisa belajar, tetap bisa bekerja," pungkas Emir.




(aud/whn)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Saldo Simpeda Rp75 Triliun, Asbanda Ungkap Tantangan Baru BPD
• 1 jam lalu
0
thumb
KPK Ungkap Dugaan Pemerasan Maba Jalur Mandiri Unsoed Sudah Berlangsung Lama
• 3 jam lalu
0
thumb
Ronaldo Masih Tajam di Usia 41 Tahun, Gol ke-977 Bikin Target 1.000 Semakin Dekat
• 2 jam lalu
0
thumb
Carlos Baleba Selangkah Lagi Gabung Man United
• 51 menit lalu
0
thumb
Tiongkok Tegaskan Komitmen Perdalam Kerja Sama Energi dan Mineral dengan Indonesia
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.