Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta sebuah aturan berpakaian yang ditetapkan seorang kaisar—untuk mengubahnya menjadi simbol kekuasaan politik yang hingga kini masih membentuk bahasa Tionghoa.

Dalam bahasa Tionghoa, memperoleh jabatan pemerintahan hingga kini masih disebut sebagai “mengenakan topi kasa hitam”, sedangkan diberhentikan dari jabatan disebut “topi kasa hitamnya dilepas.” Seorang pejabat yang mengkhawatirkan kariernya dikatakan sedang berusaha “mempertahankan topi kasa hitamnya.”

Gambaran tersebut begitu umum dalam drama sejarah maupun percakapan sehari-hari sehingga seolah-olah berasal dari masa awal kemunculan birokrasi Tiongkok. 

Padahal, topi kasa hitam, atau wushamao, pada awalnya merupakan penutup kepala biasa yang dapat dikenakan siapa saja. Baru setelah berabad-abad terjadi perubahan bertahap dalam cara para penguasa Tiongkok mengatur pakaian birokrat, topi tersebut berubah menjadi lambang jabatan.

Sebelum Ada “Topi”, Ada Penutup Kepala Upacara

Kata mao, yang berarti “topi”, sebenarnya bukan istilah kuno. Pada era sebelum Dinasti Qin, sebelum abad ke-3 SM, teks-teks Tiongkok menggunakan berbagai istilah lain untuk menyebut penutup kepala, seperti guan, bian, ze, atau istilah umum touyi, yang berarti “pakaian kepala”.

Yang paling penting di antaranya adalah guan, yakni penutup kepala resmi yang dikenakan seorang pemuda dalam upacara kedewasaan untuk menandai peralihannya menjadi orang dewasa sekaligus pengakuan atas kedudukan sosialnya.

Kitab tata upacara klasik yang dikenal sebagai Yili menyebut seperangkat pakaian dewasa pertama tersebut sebagai yuanfu, yaitu pakaian resmi yang dikenakan seorang pria setelah mencapai usia dewasa.

Kata sehari-hari mao baru menyebar kemudian, setelah periode Han dan Wei, kira-kira mulai abad ke-3 Masehi.

Mode Dinasti Jin Timur yang Bisa Dipakai Siapa Saja

Asal-usul topi kasa hitam dapat ditelusuri hingga Dinasti Jin Timur pada abad ke-4 Masehi. Pada masa itu, para pelayan dan pejabat di istana kekaisaran mulai mengenakan topi yang terbuat dari kain kasa sutra hitam.

Bahan tersebut kemudian memberikan nama pada topi itu: wu berarti “hitam”, sedangkan sha berarti “kasa sutra halus”.

Catatan sejarah menempatkan penggunaan topi semacam itu di lingkungan istana pada masa pemerintahan Kaisar Cheng dari Jin, dan berbagai bentuk baru kemudian muncul pada masa Dinasti Liu Song di wilayah selatan.

Pada tahap ini, topi tersebut belum menunjukkan pangkat ataupun kewenangan. Ia masih merupakan penutup kepala kasual yang umum. Para pejabat memakainya, tetapi para sarjana dan rakyat biasa juga mengenakannya. Topi itu sama sekali belum menunjukkan posisi seseorang.

Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming, yang melalui aturan berpakaian pada 1370 menetapkan topi kasa hitam sebagai bagian wajib dari pakaian resmi setiap pejabat. (Gambar: National Palace Museum, Taipei) Dinasti Sui Memasukkan Topi ke Dalam Aturan Resmi

Pada masa Dinasti Sui, yang menyatukan kembali Tiongkok pada akhir abad ke-6, topi kasa hitam untuk pertama kalinya masuk ke dalam aturan resmi mengenai pakaian pejabat.

Sejarah kelembagaan era Tang yang dikenal sebagai Tongdian mencatat bahwa pada tahun-tahun awal pemerintahan Kaihuang, pendiri Dinasti Sui, Kaisar Wen, mengizinkan semua orang, mulai dari menteri senior istana hingga juru tulis junior, mengenakan topi kasa hitam ketika menghadap ke istana.

Topi tersebut telah berubah menjadi bagian yang diakui dari pakaian resmi, bukan lagi sekadar penutup kepala yang dikenakan di jalan.

Namun, pangkat masih ditentukan oleh keseluruhan pakaian, termasuk warna jubah, ikat pinggang, dan hiasannya, bukan oleh topi semata.

Sebuah ungkapan populer yang muncul kemudian menyebutkan bahwa topi pejabat tingkat pertama memiliki sembilan keping batu giok, pejabat tingkat kedua memiliki delapan, dan seterusnya. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari tradisi rakyat. Kedudukan resmi seorang pejabat tidak pernah ditentukan hanya dengan menghitung jumlah batu giok pada topinya.

Pada Masa Tang, Topi Tetap Dipakai Berbagai Pangkat

Dinasti Tang, yang menggantikan Sui pada abad ke-7, mempertahankan sistem tersebut. Topi kasa hitam tetap menjadi pakaian standar bagi pejabat sipil maupun militer dan semakin kuat diasosiasikan dengan citra publik seorang pejabat.

Meski demikian, topi tersebut belum menjadi tanda eksklusif jabatan.

Orang-orang dari berbagai pangkat dan status sosial masih mengenakan topi kasa hitam dalam berbagai bentuk. Belum ada hubungan yang benar-benar ketat dan baku antara topi tersebut dengan tingkat tertentu dalam birokrasi.

Kaisar Taizu dari Dinasti Song, pendiri Dinasti Song, mengenakan topi bersayap yang dikenal sebagai futou. (Gambar: National Palace Museum, Taipei) Pejabat Song dan Topi dengan “Sayap” Panjang

Pada masa Dinasti Song, mulai abad ke-10, bentuk topi pejabat mengalami perubahan besar.

Ciri yang paling menonjol adalah sepasang “sayap” datar dan panjang yang memanjang ke kedua sisi kepala. Generasi berikutnya menyebutnya sebagai futou bersayap terbuka (spread-wing futou), sementara futou merupakan istilah untuk model penutup kepala lunak tersebut.

Selama berabad-abad, beredar sebuah kisah mengenai asal-usul sayap panjang itu.

Menurut kisah tersebut, pendiri Dinasti Song, Zhao Kuangyin, memerintahkan agar sayap topi dibuat lebih panjang untuk mencegah para menterinya saling berdekatan dan berbisik ketika berada dalam sidang.

Dengan topi yang begitu lebar, para pejabat tidak bisa berdiri terlalu dekat satu sama lain. Jika mereka menoleh untuk membisikkan sesuatu kepada rekannya, gerakan tersebut akan segera terlihat oleh kaisar.

Kisah itu berulang kali muncul dalam sejarah populer, film, dan serial televisi.

Namun, sejarah resmi Dinasti Song, termasuk Songshi, tidak mencatat adanya perintah semacam itu. Karena itu, sebagian besar peneliti menganggap sayap panjang tersebut lebih mungkin merupakan hasil dari tradisi ritual, perubahan selera mode, dan perkembangan alami pakaian istana, bukan alat pengawasan yang sengaja dirancang untuk mencegah para pejabat mengobrol.

Kisah tentang kaisar yang ingin menghentikan para menterinya berbisik memang menarik, tetapi kemungkinan besar hanya sebuah cerita populer.

Dinasti Ming Menjadikan Topi sebagai Simbol “Pejabat”

Topi kasa hitam benar-benar menjadi simbol jabatan pada masa Dinasti Ming.

Setelah mendirikan Dinasti Ming pada 1368, kaisar pertamanya, Zhu Yuanzhang, menetapkan aturan baru yang menyeluruh mengenai pakaian pejabat.

Sejarah resmi Dinasti Ming, dalam bagian yang membahas aturan kendaraan dan pakaian, mencatat bahwa pada tahun ketiga pemerintahan Hongwu, yakni 1370, ditetapkan bahwa untuk urusan pemerintahan sehari-hari di istana, para pejabat harus mengenakan topi kasa hitam, jubah berkerah bulat, dan ikat pinggang sebagai pakaian resmi.

Sejak saat itu, topi tersebut menjadi bagian wajib dari pakaian resmi setiap pejabat ketika menjalankan tugas di istana.

Hukum Dinasti Ming melarang rakyat biasa mengenakan pakaian resmi pejabat. Akibatnya, topi kasa hitam menjadi terikat erat dan permanen dengan status sebagai pejabat.

Ungkapan “mengenakan topi kasa hitam” kemudian berkembang menjadi cara umum untuk mengatakan bahwa seseorang memegang jabatan pemerintahan. Sebaliknya, “kehilangan topi kasa hitam” berarti seseorang telah kehilangan atau dicopot dari jabatannya.

Kedua ungkapan tersebut masih digunakan dalam bahasa Tionghoa hingga sekarang.

Dinasti Qing Menghapus Topinya, tetapi Mempertahankan Istilahnya

Ketika Dinasti Qing berkuasa pada 1644, sistem pakaian pejabat dirombak secara menyeluruh.

Para pejabat beralih menggunakan topi bergaya Manchu. Pangkat kini ditunjukkan melalui sistem baru berupa manik-manik berwarna dan bulu merak yang dipasang pada topi.

Topi kasa hitam peninggalan Dinasti Ming pun menghilang dari panggung sejarah.

Pada masa awal peralihan antar-dinasti, sejumlah daerah masih mempertahankan pakaian model Ming untuk sementara waktu. Namun, setelah pemerintahan Qing semakin mapan, aturan berpakaian baru sepenuhnya menggantikan topi Ming.

Topi itu memang sudah tidak lagi berada di kepala para pejabat, tetapi kata-kata yang berkaitan dengannya tetap hidup.

Karena topi kasa hitam telah menjadi simbol pangkat dan jabatan selama Dinasti Ming, istilah tersebut terus bertahan dalam bahasa Tionghoa sebagai lambang jabatan, karier, dan kekuasaan.

Sepotong kain kasa hitam yang pada abad ke-4 pernah dikenakan secara setara oleh pejabat istana maupun rakyat biasa, sekitar seribu tahun kemudian berubah menjadi simbol kekuasaan politik itu sendiri.

Dinasti Qing mengirim topi tersebut ke museum sejarah, tetapi kata-katanya justru bertahan jauh lebih lama. Hingga sekarang, dalam bahasa Tionghoa, naik-turunnya nasib seorang pejabat masih digambarkan melalui sebuah topi yang hampir tidak pernah dikenakan orang selama tiga abad terakhir.

Oleh Xiao Guang, Vision Times


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Jayapura Deportasi Dua WN Tiongkok yang Berburu Kasuari dan Kuskus
• 5 jam lalu
0
thumb
BNI wondrX 2026 Hadirkan Solusi Traveling Lengkap dalam Satu Zona
• 5 jam lalu
0
thumb
Rajiv Minta Kemenkeu Cairkan Anggaran Rp 290,0 M untuk Cegah Karhutla
• 17 jam lalu
0
thumb
BSN Gandeng BAZNAS Optimalkan Digitalisasi Layanan Zakat hingga Sedekah Pakai Bale Syariah
• 16 jam lalu
0
thumb
Prabowo Bertolak ke Kalimantan, Pimpin Langsung Penanganan Kebakaran Hutan
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.