Karhutla Riau Meluas: Capai 16.264 Hektare, Kasus ISPA Meningkat

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau semakin mengkhawatirkan. Sejak awal 2026 hingga saat ini, total luasan lahan yang terdampak karhutla di Riau telah mencapai 16.264 hektare.

Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menjadi wilayah dengan luasan karhutla paling besar. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya puluhan titik api di sejumlah wilayah Riau serta asap kiriman dari provinsi tetangga.

Data dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, sejumlah titik karhutla masih ditangani petugas. Di antaranya berada Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru.

Menurut Edy, titik karhutla yang cukup besar saat ini berada di Kerumutan, Pelalawan. Sementara titik lainnya sudah mulai mengecil dan sebagian besar hanya menyisakan asap tipis.

"Yang agak besar di Kerumutan," kata Edy kepada kumparan, Sabtu (22/8).

Kasus ISPA Meningkat

Sementara itu, dokter paru Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan masyarakat dan pemerintah agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum mengambil langkah antisipasi. Menurutnya, titik api di Pulau Sumatera pagi ini masih didominasi wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.

Sementara di Riau, titik api masih berkisar puluhan dan terkonsentrasi di wilayah Pelalawan serta Indragiri Hilir (Inhil).

"Angin yang bertiup dari selatan ke utara mengakibatkan wilayah Riau mendapatkan juga asap kebakaran hutan yang berasal dari Sumsel dan Jambi," kata Yovi saat dihubungi.

Dampak asap mulai dirasakan masyarakat. Yovi menyebut indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Pelalawan dan Pekanbaru telah berada di zona merah atau kategori tidak sehat.

"Kondisi tersebut terutama terasa pada pagi hari. Jarak pandang mulai terbatas, bau asap semakin tercium, dan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai menunjukkan peningkatan," ujarnya.

Menurut Yovi, Riau masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak kembali terlambat melakukan langkah antisipasi seperti ketika menghadapi bencana asap besar pada 2015 dan 2019.

"Negara harus mempersiapkan kehadirannya pada kondisi sekarang, jangan sampai begitu ISPU sudah menunjukkan warna cokelat dan hitam, kondisi berbahaya untuk kesehatan, baru ketar-ketir memulai persiapan," ungkapnya.

Ia meminta Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah kabupaten kota, TNI dan Polri memperkuat sinergi dalam menghadapi ancaman karhutla dan kabut asap.

"Salah satu langkah yang dinilai perlu segera dipersiapkan adalah penyediaan rumah oksigen atau tenda oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk memastikan ketersediaan obat-obatan serta layanan kesehatan yang dapat langsung menjangkau masyarakat terdampak," jelasnya.

"Kondisi El Nino yang luar biasa ini akan sulit dikendalikan. Kita memahami pemerintah sudah bekerja keras mencegahnya, tetapi kita harus menyampaikan kepada Pemprov Riau agar cepat tanggap mempersiapkan hal terburuk yang bisa terjadi seperti di Kalimantan sekarang," pungkasnya.

Selain itu, Rahmat salah satu warga Pekanbaru juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi udara saat ini.

"Saya memiliki bayi, jadi khawatir kalau misalnya Pekanbaru kembali berasap, semoga pemerintah cepat menanggapi hal seperti ini," kata Rahmat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tol Bayung Lencir-Simpang Ness Tak Lagi Gratis, Cek Rincian Tarifnya
• 15 jam lalu
0
thumb
Polda Bengkulu Kirim 5,8 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT
• 8 jam lalu
0
thumb
Bobby Nasution Pastikan Rumah Korban Puting Beliung di Medan Johor Dibangun Kembali
• 1 jam lalu
0
thumb
PLN Manfaatkan Residu Pertanian di Desa Jadi Biomassa untuk Pembangkit
• 1 jam lalu
0
thumb
KPK Amankan 14 Orang dalam Rangkaian OTT di Purwokerto, Termasuk Rektor Unsoed
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.