Kaspersky memperingatkan munculnya pola baru serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk menjalankan serangan secara lebih otonom. Salah satu ancaman yang disoroti adalah JADEPUFFER yang disebut sebagai ransomware berbasis large language model (LLM) pertama di dunia.
Peneliti Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) Ye Jin mengatakan JADEPUFFER menjadi titik penting dalam perkembangan ancaman siber berbasis AI karena teknologi tersebut tidak lagi sekadar membantu operator manusia, tetapi dapat mengambil keputusan dan menjalankan tahapan serangan secara mandiri.
Menurut dia, JADEPUFFER menunjukkan bagaimana serangan berbasis AI dapat menganalisis kondisi, menyesuaikan strategi, hingga mengeksekusi serangan secara real-time. Kemampuan tersebut membuat serangan siber dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan pola serangan konvensional.
"Selain kecepatan, JADEPUFFER juga menunjukkan tingkat otonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa agen AI sekarang mampu membuat keputusan independen," ujar Ye Jin dalam keterangan Kaspersky, Jumat (21/8/2026).
Dalam salah satu kasus yang diungkap Sysdig, agen AI berbahaya bahkan mampu menyelesaikan siklus serangan mulai dari mendiagnosis upaya yang gagal, memperbaiki pendekatan, hingga melancarkan serangan baru hanya dalam waktu 31 detik.
Kaspersky menilai perkembangan AI juga membuat serangan siber semakin mudah dilakukan. Penyerang tidak lagi harus memiliki kemampuan teknis setinggi sebelumnya untuk menjalankan serangan kompleks.
Hal tersebut tercermin dari VoidLink, kerangka kerja malware berbasis AI dan cloud-native yang ditemukan pada Januari 2026. Menurut Kaspersky, VoidLink dilaporkan dikembangkan hampir sepenuhnya dengan bantuan AI.
Perkembangan tersebut menunjukkan AI generatif tidak hanya mempercepat pembuatan perangkat lunak, tetapi juga berpotensi memperluas akses terhadap pengembangan malware canggih.
Kaspersky juga menyoroti teknik ChatGPhish yang memanfaatkan injeksi prompt tidak langsung. Dalam skenario tersebut, instruksi berbahaya disisipkan ke halaman web sehingga dapat diproses oleh asisten AI ketika pengguna meminta layanan untuk merangkum konten.
AI kemudian dapat meneruskan instruksi atau tautan berbahaya tanpa disadari pengguna. Karena interaksi berlangsung melalui layanan AI yang dipercaya, korban berpotensi menganggap konten tersebut aman.
Ancaman berbasis AI lainnya terlihat dari aktivitas SilverFox, kelompok Advanced Persistent Threat (APT) yang aktif di kawasan Asia Pasifik.
Kaspersky mendeteksi kelompok tersebut menggunakan aplikasi Claude palsu untuk menyusup ke organisasi target. Aplikasi itu dibuat untuk Windows, macOS, dan Linux dengan memanfaatkan meningkatnya penggunaan AI di lingkungan perusahaan.
SilverFox menggunakan sejumlah jalur serangan, termasuk situs web palsu, email phishing, serta file berbahaya yang disebarkan melalui aplikasi pesan sosial.
Dalam kampanye terbaru, target mencakup perusahaan di India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia pada sektor industri, konsultasi, perdagangan, dan transportasi. Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya pada Januari–Februari 2026.
Di kawasan Asia Pasifik, China menjadi target utama dengan lebih dari 90% serangan SilverFox. Sektor manufaktur menjadi industri yang paling banyak menjadi sasaran, disusul sektor teknologi dan layanan.
Baca Juga: Kaspersky Ungkap AI Mulai Jadi Senjata Otonom Kejahatan Siber
Baca Juga: Alibaba Panen Cuan Sampai US$40 Miliar, AI Jadi Mesin Uang Baru!
Menghadapi perkembangan tersebut, Kaspersky mendorong perusahaan memperkuat sistem pertahanan agar mampu mengimbangi kecepatan serangan berbasis AI.
Kaspersky merekomendasikan empat pendekatan, yakni pertahanan proaktif melalui threat hunting berbasis AI, penerapan arsitektur Zero Trust, pembangunan pertahanan menyeluruh dari endpoint hingga data, serta pemanfaatan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan respons.
"Ketika penyerang dapat memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pengambilan keputusan dan mempercepat setiap tahap serangan, pihak pertahanan harus merespons dengan tingkat kecerdasan yang setara," kata Ye Jin.






Komentar (0)