Pantau - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mendorong transformasi konservasi alam nasional secara berkelanjutan untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Raja Juli menegaskan keberhasilan konservasi harus diukur berdasarkan indikator konkret, bukan sekadar pelaksanaan program.
“Keberhasilan konservasi harus dapat terlihat dari indikator nyata, mulai dari peningkatan populasi satwa, kondisi ekosistem, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, hingga manfaat yang kembali dirasakan masyarakat,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Indikator tersebut mencakup peningkatan populasi satwa yang menjadi sasaran perlindungan, kondisi dan kesehatan ekosistem, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, serta manfaat yang diterima masyarakat sekitar.
Perubahan Iklim dan Pembiayaan Jadi TantanganMenhut menilai upaya menjaga kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga penyusutan keanekaragaman hayati.
Pada saat yang sama, kebutuhan pembiayaan untuk menjaga dan memulihkan ekosistem juga semakin meningkat.
“Krisis iklim dan degradasi lingkungan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama agar kekayaan alam Indonesia dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Raja Juli mendorong pengembangan skema pembiayaan konservasi yang lebih inovatif karena perlindungan kawasan tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan konvensional.
Nilai ekonomi karbon dan investasi hijau menjadi sejumlah potensi pembiayaan yang dapat dikembangkan untuk mendukung perlindungan serta pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.
Pemerintah juga membutuhkan terobosan dan kolaborasi pendanaan agar berbagai program konservasi dapat terus berjalan.
Perlindungan Satwa dan Kolaborasi Lintas SektorMenhut turut menyoroti perkembangan positif konservasi sejumlah satwa liar yang ditandai kelahiran individu baru di berbagai kantong habitat.
Badak jawa, harimau sumatera, orangutan, dan gajah asia menjadi sejumlah spesies kunci yang mendapat perhatian dalam upaya perlindungan tersebut.
Perkembangan itu menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan perlindungan habitat dan populasi satwa liar.
Selain perlindungan spesies, pemerintah menghadapi konflik antara manusia dan satwa liar yang membutuhkan pendekatan lebih inovatif dan kolaboratif.
Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 pada bulan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama berbagai pihak dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.
Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat luas.
Keterlibatan masyarakat adat dinilai penting karena banyak komunitas hidup dan berinteraksi secara langsung dengan kawasan serta sumber daya alam.
Kerja sama lintas sektor juga diperlukan untuk memastikan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia tetap terlindungi dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Upaya konservasi tersebut sekaligus berkaitan dengan target Indonesia dalam mengurangi emisi karbon melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030.
Secara keseluruhan, transformasi konservasi yang didorong Menhut mencakup perlindungan keanekaragaman hayati, peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan, manfaat bagi masyarakat, pembiayaan inovatif melalui nilai ekonomi karbon dan investasi hijau, penanganan konflik manusia dan satwa, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.





Komentar (0)