Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyoroti wacana pengelolaan perekonomian negara melalui badan investasi berskala besar, termasuk gagasan super holding seperti Danantara. Menurut Anies, upaya mengadopsi model state-driven economy ala Temasek di Singapura dapat menjadi bumerang jika tidak dibarengi tata kelola yang kuat.
Anies menilai setidaknya ada tiga pilar yang harus menjadi fondasi, yakni teknokrasi, meritokrasi, dan transparansi. Ketiganya, menurut dia, jauh lebih menentukan kemajuan suatu negara dibandingkan sekadar mengandalkan gaya kepemimpinan strongman atau pendekatan semi-otoriter.
Pernyataan itu disampaikan Anies dalam wawancara di kanal YouTube NOTASLIMBOY TV pada 12 Agustus 2026. Ia merespons pandangan yang menyebut Indonesia membutuhkan pemimpin bergaya strongman agar dapat melaju pesat seperti Singapura, Tiongkok, maupun Korea Selatan pada periode tertentu.
Anies menilai kemajuan negara-negara tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh karakter kepemimpinan yang kuat atau otoriter. Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah sistem institusi dan tata kelola yang ketat.
"Yang membuat maju itu bukan otoriternya, yang buat mundur itu bukan demokrasinya. Yang buat maju itu minimal satu: teknokrasi. Tidak ada keputusan yang dibuat tanpa ada perencanaan yang benar. Kedua, meritokrasi. Tidak ada menteri, wali kota, CEO perusahaan-perusahaan negara yang tidak kompeten. Ketiga, transparansi," tegas Anies.
Ia menilai teknokrasi diperlukan agar setiap kebijakan didasarkan pada perencanaan yang benar. Sementara meritokrasi memastikan posisi-posisi strategis diisi oleh orang yang memiliki kompetensi, sedangkan transparansi diperlukan untuk menjaga akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.
Anies kemudian memperingatkan risiko jika Indonesia hanya mengadopsi gaya kepemimpinan strongman tanpa membangun tiga pilar tersebut.
Menurut dia, persoalan akan muncul apabila jabatan strategis justru diberikan berdasarkan kedekatan politik atau status sebagai bagian dari "tim sukses", bukan berdasarkan kompetensi dan rekam jejak.
"Jadi kalau kita sekarang mau kombinasi strongman tanpa tiga (pilar) itu, ini namanya menuju Korea Utara. Ini namanya menuju Myanmar," sentil Anies.
Ia menggunakan Korea Utara dan Myanmar sebagai contoh untuk menegaskan bahwa kekuasaan yang kuat tanpa ditopang tata kelola institusi tidak otomatis menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Anies juga mengaitkan prinsip tersebut dengan pengelolaan investasi dan badan usaha milik negara. Menurut dia, transparansi harus menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pada tahun-tahun awal pengelolaan institusi investasi negara.
Hal itu karena institusi tersebut mengelola uang rakyat dan bukan merupakan entitas swasta murni. Karena itu, Anies menilai publik berhak mengetahui proses rekrutmen maupun proses pengambilan keputusan di dalamnya.
Transparansi, menurut Anies, menjadi penting untuk memastikan pengelolaan dana dan aset negara dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Anies juga memperingatkan konsekuensi jangka panjang apabila prinsip meritokrasi tidak diterapkan. Ia menilai budaya koneksi yang mengalahkan kompetensi dapat membuat talenta-talenta terbaik Indonesia kehilangan kesempatan untuk berkontribusi.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada birokrasi atau perusahaan negara, tetapi juga dapat memengaruhi daya tarik Indonesia bagi sumber daya manusia unggulan, termasuk diaspora.
Baca Juga: Anies Baswedan Kasih Tips Hadapi Ekonomi Berat Jika Solusi Pemerintah 'Tak Jalan'
"Kalau tidak ada tiga ini, orang-orang terbaik di bangsa kita tidak merasa punya kesempatan untuk maju. Kenapa? Karena prestasi dikalahkan koneksi. Orang-orang terbaik itu enggak pernah mengandalkan koneksi, mereka mengandalkan prestasi," pungkasnya.
Bagi Anies, besarnya kewenangan atau skala badan investasi negara bukan jaminan keberhasilan. Penguatan teknokrasi, meritokrasi, dan transparansi justru menjadi faktor penting agar pengelolaan institusi ekonomi negara tidak bergeser menjadi sekadar konsentrasi kekuasaan tanpa tata kelola yang memadai.






Komentar (0)