Hari masih pagi, jarum jam baru menunjukkan sekitar pukul 09.00, pada Rabu (19/8/2026) Namun di sebuah rumah, di salah satu gang di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, aroma berbagai makanan dari dapur tercium saat memasuki rumah tersebut.
Di dalam rumah, Chen Fie (51), perempuan keturunan Tionghoa sibuk menyiapkan makanan untuk disajikan bagi arwah suami dan kedua mertuanya. Hari itu adalah Cit Gwee bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek, yang merupakan bulan di mana masyarakat Tionghoa menggelar tradisi mendoakan keluarga atau leluhur.
Cit Gwee, bagi Chen Fie dan perempuan-perempuan lain yang tinggal di wilayah yang dikenal sebagai ’Cina Benteng’ Cit Gwee adalah momen sakral dalam kehidupan mereka. Sebab, di bulan inilah mereka menggelar sembahyangan kepada arwah keluarga telah meninggal.
Bagi keluarga ’Cina Benteng’ Cit Gwee bukan sekadar ritual, melainkan momen untuk menata kembali hubungan mereka dengan leluhur melalui doa, makanan, dan ingatan. Bahkan, Chen Fie memaknai Cit Gwee sebagai bagian dari merawat ingatan kepada suami, belajar menegosiasikan tradisi, dan memastikan kewajiban keluarga tidak berhenti pada dirinya.
Karena itu, pagi itu Chen Fie rela tiga kali berkeliling pasar demi mencari ikan bandeng besar yang beratnya sekitar 1,5 kilogram. Ikan itu khusus dipersembahkan untuk arwah almarhum suaminya, Cuan Coy, yang meninggal enam bulan lalu.
Tak hanya ikan bandeng besar, khusus untuk arwah suaminya dia pun memasak sendiri kue wajik dan dibentuk seperti tumpeng sesuai ukuran yang disukai suaminya semasa hidup. Sajian makanan tidak hanya disediahkan untuk arwah suaminya, tapi juga untuk arwah kedua mertuanya.
”Sengaja buat sendiri karena kalau beli dapatnya yang ukuran kecil. Karena suami saya lagi (saat) hidupnya, dia nggak suka kalau wajiknya kecil,” kenang Chen dengan mata menerawang.
Maka, hari itu, Chen Fie bersama salah satu putrinya menyiapkan secara terpisah, dua meja untuk sembahyang arwah. Satu untuk suami, satu lagi untuk kedua mertuanya.
Chen Fie harus menyediakan dua meja makanan, karena suaminya belum tiga tahun meninggal. Selama tiga tahun dia juga harus menggunakan warna pakaian gelap sebagai tanda bahwa kedukaan belum selesai.
Masing-masing meja berisi berbagai makanan inti mulai dari seekor ayam utuh, seekor bandeng besar, dan daging babi, serta masakan-masakan lainnya. Ada juga buah jeruk, apel, pir, anggur, nanas, pisang raja, jeruk bali, dan durian, serta berbagai kue seperti kue pisang, kue pepe, kue mangkok, bakpao, roti, wajik, ladu, dan lain-lain.
”Kalau aku sudah sembahyang begini, sepertinya ganjelan di hati itu hilang. Rasanya plong. Sudah senang, kita sudah sembahyang, sudah kasih makan sama suami. Tugas saya sudah selesai,” ungkap Chen Fie.
Chen Fie bukan perempuan yang sejak kecil tumbuh di tengah tradisi sembahyang keluarga seperti yang kini dijalaninya. Pendidikan hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), itu pun tak sampai lulus. Ia berasal dari Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, sedangkan suaminya, warga asli lingkungan Cina Benteng.
Ia menikah ketika usianya sekitar 17 tahun. Semenjak menikah dia belajar dari mertuanya, bukan hanya bagaimana menyiapkan makanan, tetapi juga bagaimana mengikat ayam, mengolah ikan bandeng, membuat bacang dan ketupat, serta menata hidangan untuk leluhur.
Pada usia yang masih sangat muda, dapur menjadi ruang belajarnya. Mertua menjadi gurunya. Di rumah peninggalan keluarga suaminya, dia melanjutkan hidup bersama keempat anaknya, dan merawat tradisi yang diwariskan mertuanya.
Sesungguhnya tidak mudah bagi Chen Fie, ketika menjalankan tradisi sembahyang untuk arwah keluarga. Sebab dalam tradisi keluarga abu leluhur biasanya dipegang oleh anak laki-laki. Anak perempuan dianggap tidak memiliki ’kekuatan’ yang sama untuk meneruskan kewajiban itu.
Masalahnya, keempat anak Chen Fie adalah perempuan. Sebelum suaminya meninggal, Chen Fie sempat mengajukan pertanyaan jika tidak ada anak laki-laki, siapa yang kelak akan menyiapkan sembahyang dan merawat abu leluhur?
Jawaban suaminya sederhana, yakni anak-anak perempuan mereka kuat-kuat saja. Jawaban suaminya itulah yang kemudian meneguhkan Chen Fie meneruskan tradisi sembahyang untuk leluhur. ”Tidak ada anak cewek, tidak ada anak cowok. Sama semuanya,” tegas Chen Fie.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi lahir dari pertemuan dua jenis pengetahuan. Di satu sisi, Chen memegang tradisi yang diwariskan keluarga suaminya. Di sisi lain, ia memperoleh bahasa baru tentang kesetaraan dari ruang koperasi.
Tradisi dan kesadaran jender tidak berdiri sebagai dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Keduanya bertemu di meja abu, di hadapan pertanyaan tentang siapa yang boleh memegang ingatan keluarga.
Chen Fie (51), perempuan keturunan Tionghoa sibuk menyiapkan makanan untuk disajikan bagi arwah suami dan kedua mertuanya. Hari itu adalah Cit Gwee bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek, yang merupakan bulan di mana masyarakat Tionghoa menggelar tradisi mendoakan keluarga atau leluhur.
Tak jauh dari kediaman Chen Fie, ritual sembahyangan untuk arwah keluarga juga dilakukan Tan Heni (60) perempuan keturunan Tionghoa lainnya - yang juga bersandar pada kesetiaan yang sama di rumah masa kecilnya. Pada perayaan Cit Gwee, di rumah peninggalan ayahnya, Heni mendirikan mezbah sembahyang untuk ayah ibunya serta kelima saudaranya yang sudah meninggal.
Ayah Heni dahulu adalah seorang mandor dan ketua RT di Desa Blimbing. Seperti Chen Fie, Heni juga tidak sempat menamatkan sekolah dasar karena dilarang oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas, meski sempat ada tawaran beasiswa dari lembaga sosial.
Pada ritual Cit Gwee kali ini, Heni menyajikan berbagai makanan di atas meja sembahyangnya, mulai dari bandeng, udang goreng, ayam keluak, hingga petai. Ada 11 mangkok nasi, mewakili jumlah anggota keluarganya yang telah berpulang, termasuk mendiang orang tuanya dan lima saudara laki-lakinya yang telah tiada.
”Dari mama saya kan punya papa. Mama saya punya mama. Jadi biar pun mereka masing-masing disembahyangkan, tetap saya panggil,” jelas Heni yang kini hanya tinggal berdua dengan satu adiknya yang masih hidup.
Meskipun Heni adalah anak sulung perempuan yang paling setia merawat tradisi ini sejak ibunya meninggal 27 tahun lalu, sang ayah sebelum wafat sempat melarangnya menyimpan abu leluhur di rumahnya karena statusnya sebagai perempuan. ”Jangan dipelihara, abu gue. Lu anak perempuan. Enggak kuat,” kenang Heni menirukan pesan ayahnya.
Alhasil, abu sang ayah tidak disimpan di rumah maupun vihara, melainkan dilarung bebas. Meski demikian, Heni tetap memegang janji kepada mendiang ayahnya untuk terus memanggil dan menyembahyanginya tiga kali setahun.
Komunitas Cina Benteng sendiri merupakan bagian dari sejarah panjang Tangerang. Sejumlah sumber menjelaskan bahwa identitas Cina Benteng terbentuk dari pertemuan keturunan pedagang Tionghoa dengan masyarakat lokal, termasuk melalui perkawinan dan percampuran bahasa, makanan, serta kebiasaan.
Nama ’Benteng’ konon merujuk pada jejak benteng VOC di kawasan Tangerang, sementara Klenteng Boen Tek Bio yang didirikan pada 1684 menjadi salah satu penanda penting keberadaan komunitas Tionghoa di kota itu.
Mereka menjaga tradisi yang ada, dan tidak hanya itu tradisi yang mereka jalankan menjadi bagian dari ritual keagamaan yang mereka percayai.
Tiyas Widya Anggraini, Peneliti dan Wakil Direktur Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) mengungkapkan perempuan-perempuan Cina Benteng yang tetap menjalankan tradisi sembahyang Cit Gwee, memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya.
”Mereka menjaga tradisi yang ada, dan tidak hanya itu tradisi yang mereka jalankan menjadi bagian dari ritual keagamaan yang mereka percayai,” papar Tiyas.
Mereka bukan hanya sekadar menjaga tradisi budaya, tetapi juga berperan penting dalam keluarga, mengurus dan meneruskan nilai-nilai tradisi dan budaya kepada generasi berikutnya,” kata Tiyas.
Asap dupa terus membumbung tinggi di langit Tangerang, membawa doa-doa sunyi ke haribaan mereka yang telah tiada. Di balik kepulan asap itu, terselip kisah Chen Fie dan Heni dan para perempuan-perempuan tangguh Cina Benteng. Ditangan mereka denyut nadi tradisi leluhur tetap berdegup kencang, menembus batas waktu dan belenggu patriarki.
Pada akhirnya, Cit Gwee bukan hanya sekadar upacara untuk mereka yang mendahului kita. Sebaliknya, sebuah cara orang-orang yang masih hidup memastikan bahwa hubungan tidak putus hanya karena kematian.
Lebih dari itu, Cit Gwee, menjadi ruang tempat seorang perempuan berduka, bekerja, mengingat, belajar, dan perlahan mengubah aturan lama. Perempuan-perempuan Cina Benteng tak hanya menghidangkan makanan untuk leluhur, tapi menyiapkan jalan agar ingatan pada mereka yang telah pergi, dapat diteruskan siapa pun yang bersedia merawatnya.






Komentar (0)