BMKG soal Sungai Barito Mengering: Curah Hujan di Kalteng Rendah

detik.com
42 menit lalu
Cover Berita
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab Sungai Barito di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengering. BMKG menyebut wilayah Kalteng tengah memasuki puncak musim kemarau.

"Kalau dari curah hujan, pada Dasarian I Agustus 2026 di Kalimantan Tengah memang curah hujannya kategori rendah (0-10 mm/Dasarian)," kata Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab, kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).

Dia mengatakan wilayah Kalimantan Tengah secara umum mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori menengah (11 sampai 20 hari berturut-turut tanpa hujan) dan kategori sangat panjang (31 sampai 60 hari berutur-turut tanpa hujan).

"Saat ini di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng memang dalam periode puncak musim kemarau," ucapnya.

Baca juga: Sungai Barito Surut, Hamparan Pasir-Daratan Muncul di Tengah Aliran Air

Dihubungi terpisah, Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG Siswanto menyebut kondisi Sungai Barito yang mengering bak gurun pasir, terkonfirmasi dari analisis kekeringan meteorologis oleh BMKG. Menurutnya, sebagian besar wilayah yang dilintasi Sungai Barito mengalami HTH kategori panjang hingga sangat panjang.

"Pemantauan deret hari kering atau hari tanpa hujan (HTH) BMKG memperlihatkan sebagian besar wilayah sudah banyak yang mengalami HTH kategori panjang hingga sangat panjang (lebih dari 20 hari hingga 1 bulan)," ujar Siswanto.

Seperti diketahui, Sungai Barito di Kalteng mengering. Debit air yang terus menyusut menyebabkan sejumlah bagian sungai mengalami pendangkalan hingga hamparan pasir dan daratan muncul di tengah aliran.

Pemandangan tak biasa itu terlihat di sekitar Jembatan Kalahien di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Gosong pasir yang terbentuk di tengah sungai membuat aliran sungai terlihat terpecah dan sebagian kawasan menyerupai hamparan pantai.

Warga setempat, Rudi Hermansyah, mengatakan surutnya Sungai Barito terlihat cukup parah sejak awal Agustus. Menurutnya, munculnya daratan di tengah sungai menjadi salah satu tanda bahwa debit air mengalami penurunan signifikan.

"Kondisi tersebut tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air. Sejumlah kapal pengangkut barang dan tongkang dilaporkan kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal," kata Rudi, dilansir detikKalimantan, Jumat (21/8/2026).

Baca juga: Simak Daftar Wilayah yang Berpotensi Banjir Rob pada 23 Juli-4 Agustus




(fas/imk)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jempol Trans Bakal Hadir di Tangsel, Dishub Antisipasi Gesekan dengan Angkot
• 21 jam lalu
0
thumb
BRI Group Raih 6 Penghargaan Internasional dari Finance Asia, Perkuat Posisi Institusi Keuangan Berkelas Dunia
• 1 jam lalu
0
thumb
Zodiak yang Punya Standar Tinggi Soal Pasangan
• 1 jam lalu
0
thumb
Cegah Pelanggaran Internal, Siepropam Polresta Gowa Periksa HP Personel
• 8 jam lalu
0
thumb
2 Orang Tertemper KRL, KAI Segera Tutup Perlintasan Liar Tebet dan Kalideres
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.