-
-
-
-
-
Deddy Corbuzier membagikan cara kerjanya dalam membuat podcast yang telah ia jalani selama ini. Menurutnya, ia tidak pernah menyiapkan daftar pertanyaan sebelum merekam obrolan bersama bintang tamu, berbeda dengan format wawancara pada umumnya yang biasanya disusun secara terstruktur dari awal hingga akhir.
Deddy menjelaskan, alih-alih menyusun daftar pertanyaan, ia lebih memilih mempelajari terlebih dahulu sosok yang akan menjadi bintang tamunya. Proses riset ini, menurutnya, menjadi bekal utama sebelum sesi rekaman berlangsung. Setelah itu, ia membiarkan percakapan mengalir secara alami, tanpa terpaku pada urutan atau skrip tertentu.
Ia pun menegaskan bahwa hal ini menjadi salah satu pembeda utama antara podcast dan talkshow. Menurut Deddy, podcast tidak terpaku pada daftar pertanyaan seperti halnya format talkshow pada umumnya, yang cenderung mengikuti alur pertanyaan yang sudah dipersiapkan secara rapi oleh tim produksi.
Lebih lanjut, Deddy menilai seorang podcaster justru harus mengambil peran sebagai pendengar. Ia menyebut podcaster tidak perlu berusaha terlihat lebih pintar dibandingkan narasumber yang sedang diwawancarai. Baginya, esensi podcast terletak pada bagaimana pembawa acara mampu menciptakan suasana obrolan yang nyaman, bukan sekadar menampilkan wawasan pribadi.
Deddy mengungkapkan, semakin ia mendengarkan, semakin bintang tamu terdorong untuk bercerita lebih banyak. Ia meyakini bahwa pada dasarnya setiap orang senang bercerita, sehingga tugas podcaster adalah memberikan ruang seluas-luasnya bagi narasumber untuk berbicara secara terbuka dan tanpa tekanan.
Pendekatan semacam ini, menurut Deddy, membuat obrolan dalam podcast terasa lebih hidup dan spontan dibandingkan format wawancara konvensional. Ia menilai gaya mendengarkan aktif ini pula yang menjadi salah satu kunci mengapa podcast yang ia bawakan kerap mampu menggali cerita-cerita yang lebih personal dari para bintang tamunya.






Komentar (0)