Kementerian Perindustrian menyambut wacana pemerintah meluncurkan program motor listrik nasional. Dua IKM binaan Kemenperin yakni PT Kannino Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri disebut menjadi bagian ekosistem pendukung motor listrik nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan langkah itu diarahkan agar transformasi menuju kendaraan listrik tak hanya memperluas pasar produk, tetapi juga menumbuhkan industri nasional hingga menumbuhkan lapangan pekerjaan.
Target ini termasuk juga untuk membuka kesempatan bagi IKM untuk menjadi bagian rantai pasok industri besar.
“Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri, karena IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Jumat (21/8).
Kedua IKM yang menjadi bagian pemasok ini tercatat memproduksi komponen box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva yang berada di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia.
Pelibatan IKM dalam produksi Molinas dilakukan melalui skema supplier development. Kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM) menjadi titik awal untuk memetakan kemampuan IKM yang berpotensi masuk ke rantai pasok.
IKM yang dinilai potensial kemudian menjalani asesmen kesiapan pemasok. Asesmen mencakup teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman.
Pola pembinaan berbasis kebutuhan industri ini dinilai penting agar pengembangan IKM memiliki orientasi pasar yang jelas. Dalam skema ini, OEM dan Tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar komponen yang harus dipenuhi, sementara pemerintah membantu IKM menutup kesenjangan kemampuan.
Komponen Lokal DibidikKemenperin juga mendorong IKM mengambil bagian secara bertahap dalam rantai pasok kendaraan listrik berdasarkan tingkat kesiapan teknologi dan kompleksitas komponen.
Pada tahap awal, peluang dapat dibuka melalui komponen yang teknologinya relatif sudah dikuasai IKM, seperti komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, hingga wiring harness.
Untuk IKM dengan kemampuan engineering dan manufaktur yang lebih tinggi, ruang pengembangan dapat diperluas ke komponen dengan nilai tambah lebih besar. Di antaranya battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, hingga komponen pendukung battery pack dan power electronics.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan penguatan kemitraan dengan industri besar, OEM, dan Tier-1 menjadi salah satu kunci untuk memperluas keterlibatan IKM.
Kemenperin juga menggelar business matching yang tidak sekadar mempertemukan IKM dengan industri besar. Forum tersebut turut mencakup penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.
“Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching, tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” kata Reni.
Gandeng APM Kendaraan ListrikSepanjang 2026, Ditjen IKMA melalui Direktorat IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA) menjalankan sejumlah program untuk mempercepat integrasi IKM ke dalam ekosistem KBLBB.
Program tersebut mencakup pemetaan kebutuhan komponen dari agen pemegang merek (APM), pemetaan kemampuan IKM dalam memproduksi komponen kendaraan listrik, business matching, hingga pelatihan perakitan dan servis kendaraan listrik roda dua serta kendaraan listrik multiguna roda tiga.
Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan mengatakan Kemenperin menggandeng salah satu APM motor listrik nasional roda dua dan dua APM mobil listrik dalam program tersebut.
Langkah itu diarahkan untuk mempercepat integrasi IKM komponen otomotif ke dalam ekosistem kendaraan listrik sekaligus memperluas basis pemasok lokal.





Komentar (0)