Gempa Flores Belum Reda: Seberapa Besar Ancaman Berikutnya?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.258 gempa susulan di Flores setelah gempa utama magnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu. Gempa susulan terbesar M 6,2, sedangkan yang terkecil M 1,1. Sebanyak 31 gempa memiliki magnitudo sedikitnya M 5,0 dan 118 gempa susulan dirasakan masyarakat.

Pola aktivitas gempa susulan ini belum menunjukkan penurunan sederhana. ”Gempa susulan meningkat lagi frekuensinya pada Kamis,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto.

Menurut Wijayanto, pada hari pertama setelah gempa utama, tercatat 704 kejadian. Jumlah itu meningkat menjadi 746 kejadian pada hari kedua. Setelah itu aktivitas menurun menjadi 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima. Namun, pada hari keenam, jumlahnya kembali melonjak menjadi 802 gempa.

Dalam rangkaian gempa susulan, aktivitas biasanya berangsur-angsur menurun seiring waktu. Di Flores, Nusa Tenggara Timur, pola itu belum terlihat jelas pada fase awal. BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar 3-4 minggu.

Artinya, setelah gempa M 7,7, bumi di kawasan Flores masih berada dalam fase penyesuaian yang aktif.

Aktivitas terkonsentrasi di barat

Ada perkembangan lain yang membuat rangkaian gempa Flores menarik untuk dicermati. Hasil relokasi hiposenter oleh BMKG menunjukkan gempa susulan tak tersebar secara homogen, tetapi membentuk beberapa kluster.

Kluster utama berada di sekitar sumber gempa M 7,7 di utara Kabupaten Nagekeo dan secara umum mengikuti arah Flores Back-arc Thrust segmen Nusa Tenggara Barat.

Namun, terdapat kluster lain di bagian barat sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai. Perkembangan aktivitas hariannya juga menunjukkan perubahan pola.

Baca JugaFlores dalam Cengkeraman Kerapuhan Geologi

Pada hari pertama hingga keempat, gempa relatif tersebar di seluruh kluster, dari timur hingga barat. Memasuki hari kelima dan keenam, aktivitas justru lebih banyak terkonsentrasi pada kluster bagian barat, sementara kluster di bagian timur mulai menurun.

Pergeseran konsentrasi inilah yang kini menjadi salah satu perhatian dalam pemantauan BMKG secara waktu nyata 24 jam sehari. Namun, perubahan tersebut tidak boleh buru-buru ditafsirkan sebagai tanda gempa besar sedang ”bergerak” ke barat. Data yang ada belum memungkinkan kesimpulan semacam itu.

Adapun BMKG masih perlu melihat perkembangan hiposenter, magnitudo, mekanisme sumber, dan distribusi aktivitas dari waktu ke waktu. Dalam dokumen analisis yang ditulis Pepen Supendi dan tim, BMKG menekankan bahwa keberadaan aktivitas di bagian lain sistem sesar tidak otomatis diartikan sebagai akibat perpindahan tegangan dari gempa M 7,7.

Untuk membuktikannya diperlukan analisis lebih lanjut, termasuk data GNSS atau InSAR dan pemodelan perubahan tegangan. Jadi, yang sedang dicari para peneliti BMKG bukan ramalan tentang gempa berikutnya, melainkan pola bagaimana bumi menyesuaikan diri setelah gempa besar.

Gempa susulan juga bisa merusak

Satu hal yang perlu diingat masyarakat adalah gempa susulan tidak selalu berarti gempa kecil. Dalam rangkaian Flores, gempa susulan terbesar sejauh ini mencapai M 6,2. Dalam dua hari terakhir juga terjadi beberapa gempa signifikan di kluster barat yang dirasakan kuat oleh masyarakat.

Pada 19 Agustus pukul 23.17 WIB terjadi gempa M 5,6. Sehari kemudian, pada 20 Agustus pukul 05.45 WIB dan 09.47 WIB, kembali terjadi gempa M 5,8. Gempa M 5,8 pada pukul 09.47 WIB bahkan menyebabkan kerusakan tambahan pada bangunan dan jembatan yang sebelumnya telah rusak, sekaligus memicu tanah longsor.

Situasi ini menunjukkan bahaya pascagempa bukan hanya kemungkinan munculnya gempa dengan magnitudo lebih besar. ”Gempa susulan yang magnitudonya lebih kecil pun dapat menjadi sangat berbahaya bagi bangunan yang telah kehilangan kekuatan,” demikian analisis BMKG.

Sebuah rumah yang masih berdiri setelah M 7,7 belum tentu aman. Struktur yang mengalami keretakan dapat semakin melemah ketika kembali diguncang M 5 atau M 6.

Gempa susulan yang magnitudonya lebih kecil pun dapat menjadi sangat berbahaya bagi bangunan yang telah kehilangan kekuatan.

Karena itu, imbauan BMKG agar masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak bukan sekadar tindakan kehati-hatian. Dalam situasi ketika ribuan gempa masih berlangsung, bangunan yang sudah rusak justru menjadi salah satu sumber risiko terbesar.

Serial Artikel

Bahaya Gempa Susulan Setelah Gempa Flores M 7,7

Pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, pada Sabtu (15/8/2026), masyarakat kini diminta mewaspadai sejumlah ancaman sekunder jika terjadi gempa susulan.

Baca Artikel
Apakah ada potensi gempa besar berikutnya?

Di tengah ribuan gempa susulan itu, pertanyaan yang paling sulit pun muncul, apakah Flores masih mungkin mengalami gempa besar berikutnya?

Jawabannya tidak mudah. Tidak ada data saat ini yang memungkinkan ilmuwan memastikan kapan gempa besar berikutnya akan terjadi, di mana lokasinya, atau berapa magnitudonya. Gempa bumi belum dapat diprediksi secara presisi.

Karena itu, aktivitas gempa yang meningkat di bagian barat tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gempa besar di sana. Namun, mengatakan bahwa gempa M 7,7 telah membuat seluruh kawasan Flores aman juga sama kelirunya.

Ahli gempa bumi dan Guru Besar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institute Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengingatkan, Flores Back-arc Thrust merupakan jalur sesar belakang amat panjang, bahkan terpanjang di dunia. ”Kami memperkirakan, sesar ini 2.000 kilometer, walaupun terbagi dalam beberapa segmen,” ujarnya.

Menurut Irwan, Flores Back-arc Thrust merupakan sistem sesar naik yang berada di utara Bali dan Nusa Tenggara. Sistem ini berkembang di belakang busur vulkanik Sunda-Banda dan terkait interaksi Lempeng Australia dengan Blok Sunda. Jalurnya memanjang dari utara Bali dan Lombok, melintasi utara Sumbawa dan Flores hingga ke arah Wetar.

Sistem sepanjang itu juga bukan satu bidang sesar yang seragam. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 membagi Flores Back-arc Thrust ke dalam sejumlah segmen dengan karakteristik berbeda.

Di wilayah NTB hingga Flores, misalnya, terdapat segmen Nusa Tenggara Barat sepanjang sekitar 219 kilometer, dengan kemiringan sekitar 45 derajat ke selatan, estimasi magnitudo maksimum Mw7,8 dan laju slip sekitar 11 milimeter per tahun. Di sebelah timurnya, sistem tersebut berlanjut ke segmen lain dengan parameter sumber yang berbeda.

Karakter tersegmentasi inilah yang membuat para ilmuwan harus berhati-hati dalam membaca dampak gempa M 7,7. Jika melihat kekuatan gempa minggu lalu, memang sudah mendekati kekuatan maksimum di jalur sesar ini. Namun, satu segmen pecah, bukan seluruh sistem.

Baca JugaDari Palue ke Maumere, Evakuasi Korban hingga Perawatan di Tenda Darurat

Gempa M 7,7 menunjukkan salah satu bagian Flores Back-arc Thrust mampu menghasilkan gempa besar. Akan tetapi, pecahnya satu bagian tidak otomatis berarti seluruh sistem telah melepaskan energi yang tersimpan di sepanjang jalur ini.

Hal ini penting ketika membicarakan kemungkinan gempa besar berikutnya. Apalagi, jalur sesar ini berada di laut, yang dalam sejarahnya beberapa kali memicu tsunami besar.

Jadi, panjang sesar tidak berarti gempa besar pasti akan terjadi di segmen sebelahnya. Sebaliknya, gempa M 7,7 juga tidak dapat dijadikan alasan untuk menganggap seluruh Flores Back-arc Thrust telah ”aman”.

Hal yang dapat dikatakan secara ilmiah, yakni sistem ini memang aktif dan mampu menghasilkan gempa besar, sementara bagian-bagian lainnya masih harus dipahami lebih baik.

Untuk mengetahui apakah gempa M 7,7 mengubah kondisi tegangan di segmen lain, diperlukan data dan analisis lebih lanjut. Para peneliti perlu melihat relokasi hiposenter yang lebih presisi, mekanisme sumber, distribusi slip, perkembangan gempa susulan, data GNSS atau InSAR serta pemodelan perubahan tegangan.

Dengan demikian, kluster di barat lebih tepat dipandang sebagai petunjuk ilmiah yang perlu diteliti, bukan sebagai pertanda pasti akan munculnya gempa besar. Tetapi, satu hal sudah jelas, gempa M 7,7 bukanlah akhir dari cerita Flores Back-arc Thrust.

Sistem sesar itu masih panjang. Bumi masih bergerak. Dan untuk sementara, yang paling penting bukan menebak guncangan berikutnya, melainkan memastikan bahwa ketika bumi kembali bergerak, manusia sudah lebih siap.

Melihat pola kerusakan yang sekarang terjadi, kekuatan bangunan menjadi titik lemah yang harus segera diperkuat sesuai standar bangunan tahan gempa. Berikutnya, harus selalu waspada dengan potensi tsunami besar, sekalipun gempa kali ini hanya memicu tsunami relatif kecil.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ledakan Data Center Bawa Petaka, Ini Daftar Pihak yang Diuntungkan
• 15 jam lalu
0
thumb
Lansia yang Tertabrak KRL di Tebet Terseret Sekitar 10 Meter
• 23 jam lalu
0
thumb
Akses Palue Hampir Pulih, Tenaga Kesehatan Mulai Kewalahan
• 19 jam lalu
0
thumb
Kapasitas Pusat Data Indonesia Bisa Tembus 1,7 GW Akhir 2026
• 13 jam lalu
0
thumb
Mahasiswi di Ngawi Tewas Terlindas Truk Boks di Sidoarjo, Jadi Korban Tabrak Lari
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.