Genap 1,5 tahun sudah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memperlihatkan kinerjanya sebagai lembaga pengelola investasi negara. Dalam kurun waktu yang belum terlalu lama itu, Danantara telah menyaring ribuan proposal proyek, menggarap investasi jumbo di sektor pangan global, hingga menyusun agenda jangka pendek untuk membenahi pasar modal Indonesia.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan sejak Oktober 2025, Danantara telah menerima lebih dari 1.000 tawaran proyek dari berbagai pihak. Namun dari jumlah sebanyak itu, hanya kurang dari 1 persen yang akhirnya diterima dan masuk ke tahap eksekusi.
Pandu menegaskan, ketatnya seleksi ini bukan tanpa alasan. Setiap proposal yang masuk harus melewati proses penilaian mendalam, salah satunya dari sisi potensi return atau tingkat pengembalian investasi. Jika proyek dinilai tidak memenuhi standar, Danantara terbuka menyampaikan penolakan.
“Kita juga harus berani dengan respect bilang kenapa kita enggak bisa atau kenapa kita bisa,” ujar Pandu saat wawancara eksklusif bersama kumparan dalam program Podcast Lab.
Ia menambahkan, kecilnya jumlah proyek yang lolos bukan tanpa sebab. “Sangat kecil karena harus lewat proses yang nge-lobi banyak, tapi tetap saja ada proses, ada return, itu bisa kita buka. Kalau di bawah itu, ya kita susah,” jelasnya.
Tantangan terbesar dalam proses ini, menurut Pandu, adalah menyeimbangkan antara proyek yang secara politis atau strategis populer namun kurang menarik dari sisi return, dengan proyek yang punya economic multiplier tinggi tetapi tingkat pengembaliannya belum optimal.
Pandu menyatakan dalam proses seleksi proposal tak jarang timbul tekanan dari pihak-pihak yang proposalnya tidak lolos. Namun, Pandu mengaku menghadapinya dengan sikap pasrah dan menyerahkan hasil akhir pada proses yang telah dijalankan secara profesional.
“Kalau saya sih pasrah saja, kalau kerja ya harus ikhlas, banyak berdoa. Doa, usaha, ikhlas, tawakal,” tuturnya.
Dari Sampah Jadi Energi hingga Kampung HajiDi tengah seleksi proposal yang ketat, Danantara tetap memberi porsi bagi proyek-proyek yang manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan masyarakat. Salah satu contohnya adalah proyek waste to energy (WTE), yang mengubah sampah menjadi sumber listrik.
Danantara mengeklaim telah mempercepat proses pengembangan proyek ini secara signifikan. Sejak diumumkan pada November tahun lalu, tiga proyek WTE sudah menandatangani power purchase agreement (PPA) dengan PLN, dan proyek lainnya menyusul dalam waktu dekat.
“Enggak pernah dalam sejarah PLN yang kita tahu bisa melakukan PPA di bawah 1,5 tahun. Ini semua dalam waktu enam bulan, dan sudah mulai kelihatan di Bali,” tutur Pandu.
Contoh lain adalah investasi di kawasan Kampung Haji di Arab Saudi. Proyek ini dipilih karena dampaknya bisa langsung dirasakan jemaah Indonesia yang tengah menjalankan ibadah umrah.
“Kalau orang pergi umrah pasti sudah lihat, sudah banyak yang ngelihat ke area kita itu. Itu jelas bisa dilihat gedungnya, bisa masuk, bisa dinikmati, ada cash flow juga,” jelas Pandu.
Arus kas yang dihasilkan nantinya akan dipakai untuk membangun sejumlah hotel di kawasan tersebut.
Investasi Jumbo di Raksasa Protein GlobalDari segala proyek itu, kata Pandu, yang sejauh ini paling menonjol dari sisi skala adalah rencana investasi di salah satu perusahaan protein terbesar di dunia yang dalam tahap finalisasi.
“Salah satunya memang yang sedang kita finalisasi itu investasi di mungkin salah satu perusahaan paling besar di dunia, bahasa kerennya global protein platform, karena menghasilkan protein itu penting,” jelas Pandu.
Perusahaan yang dibidik memiliki pendapatan lebih dari USD 10 miliar per tahun dan mempekerjakan sekitar 20.000–30.000 karyawan. Danantara nantinya menjadi mitra investasi bersama perusahaan tersebut, dengan Indonesia sebagai salah satu fokus utama penempatan dana.
“Insyaallah ini akan membuat salah satu platform terbesar bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia,” ujar Pandu.
Ada tiga alasan utama Danantara memilih masuk ke perusahaan ini: teknologi yang dimiliki tergolong salah satu yang terbaik di dunia; kinerja bisnisnya kuat; dan perusahaan tersebut punya keinginan besar untuk berinvestasi di Indonesia.
Danantara sebenarnya punya opsi untuk membangun fasilitas atau bisnis serupa secara mandiri di dalam negeri. Namun pilihan itu tidak diambil. Pandu beralasan, investasi langsung ke perusahaan induk memberi akses yang jauh lebih dalam. Bukan hanya operasional, tapi juga pengetahuan dan teknologi di baliknya.
“Karena saya langsung dapat hatinya, otaknya. Kalau invest di luar negeri biasanya tangan doang yang dapat. Ini saya bisa dapat langsung di dalam, dan ini sangat penting,” kata Pandu.
Langkah ini juga disebut sejalan dengan isu ketahanan pangan global yang akan semakin krusial seiring perubahan iklim. Perusahaan yang dibidik memiliki rantai bisnis dari hulu ke hilir dalam produksi protein, sehingga investasi ini sekaligus menjadi jalan bagi Indonesia untuk membangun pengetahuan dan ketahanan protein nasional. Bagi Danantara, kesempatan ini tergolong langka.
“Ini good investment on its own right. Kedua, it can be a great investment kalau kita bisa eksekusi semua,” tuturnya.
Benahi Pasar Modal, Kejar Demutualisasi BursaDi luar proyek-proyek investasi, Danantara juga menaruh perhatian besar pada kondisi pasar modal Indonesia yang belakangan tertekan. Kapitalisasi pasar yang sebelumnya sempat menyentuh USD 850–900 miliar kini merosot ke sekitar USD 580 miliar.
“Kalau lihat secara market cap, tahun lalu kita nomor satu, tahun ini mungkin kita nomor dua, sudah turun. Dulu hampir 900 miliar dolar, 850 miliar, sekarang sudah 580 miliar. Turunnya cukup dramatis,” ucap Pandu.
Volume perdagangan serta arus investasi asing juga ikut melemah, dengan dana asing yang keluar dari pasar modal RI diperkirakan mencapai USD 8–9 miliar. Menjawab tekanan ini, Pandu menyebut pemulihan kepercayaan investor sebagai pekerjaan rumah utama Danantara ke depan.
Sehingga ada tiga fokus utama yang akan didorong Danantara dalam 12 bulan mendatang. “Kalau pasar modalnya number one, kita harus ada peningkatan juga dari investasi ke teknologi. Teknologi kita harus kuat,” ujar Pandu soal fokus pertama.
Kedua, pengembangan produk-produk pasar modal, termasuk instrumen derivatif yang masih punya ruang besar untuk dikembangkan. Ketiga, memperkuat koneksi dengan bursa-bursa lain di kawasan maupun global. “Itu salah satu keinginan short term, 12 bulan ke depan,” ungkapnya.
Salah satu agenda besar yang paling ditekankan Pandu adalah dorongan demutualisasi pasar modal. Melalui demutualisasi, Danantara bisa menjadi pemegang saham BEI. Menurut Pandu, demutualisasi penting agar BEI mampu bersaing langsung dengan bursa-bursa besar dunia dan tidak berhenti pada perubahan struktur kepemilikan bursa semata.
“Tugas kita nanti dengan demutualisasi ini juga menimbulkan reformasi di dalam pasar modal, untuk kita bisa bersaing langsung dengan pasar modal-pasar modal terbesar yang ada,” tuturnya.






Komentar (0)