Sewa atau Tukar Baterai Motor Listrik? Ini Idealnya Menurut Peneliti ITB

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Perdebatan mengenai skema baterai yang paling tepat untuk motor listrik di Indonesia masih berlangsung. Pilihannya mengerucut pada dua model, yakni baterai yang dapat ditukar atau battery swap, serta baterai tanam dengan skema kepemilikan melalui sewa maupun pembelian langsung.

Sistem battery swap menawarkan kepraktisan karena pengguna tidak perlu menunggu baterai terisi. Namun, penerapannya secara luas masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya belum adanya standardisasi teknis antarprodusen.

Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi mengatakan, penerapan battery swap membutuhkan keseragaman ukuran, spesifikasi, hingga tegangan baterai yang digunakan berbagai merek.

"Kalau swap harus butuh standarisasi baterai kan? Kayak model misalnya AA, kalau di baterai yang biasa tuh kan ada AA, AAA dan itu kan size-nya sama. Terus voltage-nya juga relatif seragam. Nah kalau kita kan paling enggak ada 3 kelas ya, 48 Volt, 60 Volt, dan 72 Volt," jelas Agus kepada kumparan, Selasa (11/8/2026).

Selain persoalan teknis, model battery swap juga masih menghadapi tantangan dari sisi kepercayaan konsumen. Salah satunya terkait kondisi baterai yang diterima setelah proses penukaran.

"Orang juga masih seperti pengalaman yang dulu, betul nggak ini nanti yang ditukar, kan beli berarti jual beli energinya itu ya. Jadi yang di-swap tuh kadang-kadang belum 100 persen udah dilepas. Nah itu kan jadi orang agak ragu," ungkapnya.

Menurut Agus, berbagai kendala tersebut membuat battery swap belum ideal untuk diterapkan sebagai skema yang digunakan masyarakat secara luas. Model ini lebih sesuai untuk pengguna dengan intensitas pemakaian tinggi yang membutuhkan waktu pengisian secepat mungkin.

"Mekanisme swap itu memang biasanya hanya untuk yang sangat heavy user dan membutuhkan respons cepat. Jadi nggak umum. Tapi kalau yang bagusnya ya tetap di masing-masing di sepeda motornya," tambah Agus.

Di sisi lain, penggunaan baterai tanam juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kekhawatiran konsumen terhadap usia pakai baterai dan biaya penggantian ketika masa garansinya berakhir.

Agus menilai masa garansi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah konsumen akan memilih membeli atau menyewa baterai.

"Nah, kalau baterai mobil kan itu udah garansinya 8 tahun. Jadi makanya karena 2 tahun itulah orang jadi ah, nanti 2 tahun saya harus ganti, mending sewa. Tapi kalau baterai motor sudah berani kualitasnya digaransi sampai 5 tahun, itu pasti dihitung mending saya beli daripada sewa," tuturnya.

Dengan belum adanya standardisasi baterai dan masa garansi yang dinilai masih terbatas, Agus melihat skema sewa baterai sebagai pilihan yang paling masuk akal untuk kondisi pasar saat ini.

Melalui skema tersebut, risiko penurunan performa atau kerusakan baterai lebih banyak ditanggung produsen, sementara konsumen tidak perlu menyiapkan biaya besar apabila baterai mengalami masalah dan harus diganti.

"Jadi sebetulnya cara bisnis yang paling bagus menurut saya dalam situasi sekarang masih orang ragu ataupun garansinya masih rendah, ya sewa baterai," pungkas Agus.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Foto: Antisipasi Gempa Susulan, Warga Manggarai Barat Bertahan di Tenda Darurat
• 23 jam lalu
0
thumb
Ini Daftar Mobil PHEV Terlaris pada Juli 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Menanti Dinding-Lantai Diperbaiki, Siswa SDN Karangindah 01 Bekasi Tak Berhenti Belajar
• 6 jam lalu
0
thumb
KPK Turut Amankan Dua Warek dalam OTT Rektor Unsoed
• 15 menit lalu
0
thumb
Menkes: Ambulans Udara Sudah Digunakan di Papua
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.