Asap Kebakaran Hutan Kalsel Makin Parah, Perlu Penanganan Cepat

narasi.tv
4 jam lalu
Cover Berita

Kondisi kabut asap yang semakin parah akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan telah menyebabkan penurunan kualitas udara hingga masuk dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan pengukuran indeks standar pencemar udara (ISPU) yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beberapa wilayah seperti Kota Banjarmasin dan Banjarbaru menunjukkan angka ISPU yang sudah melewati ambang batas aman, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Saat ini, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Selatan telah bergerak memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Personel yang dikerahkan fokus pada wilayah utara ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru.

“Menindaklanjuti arahan dari Posko Induk, personel yang tergabung dalam posko diarahkan untuk fokus melakukan penanganan di wilayah utara bandara. Jadi meskipun belum ditemukan titik api di lokasi tertentu, personel tetap melakukan pemantauan dan penanganan sebagai langkah antisipasi,” ujar Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Dinsos Provinsi Kalsel Yoefi Fahromi  di Banjarbaru, dikutip Jumat (21/8/2026), seperti dilansir dari Antara.

Yoefi menyampaikan bahwa kondisi di lapangan saat ini cukup parah. Pasalnya, Kabut asap terlihat mengepung sejumlah ruas jalan, terutama di kawasan sekitar lahan gambut dan jalur menuju Banjarbaru.

“Untuk hari ini kondisinya cukup parah, terutama kabut asap. Karena itu kita tetap mengikuti arahan posko induk dan memfokuskan personel di wilayah yang menjadi prioritas penanganan,” sambungnya.

Paparan kabut asap meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dapat menyerang berbagai kelompok umur, khususnya anak-anak dan lansia. Gejala yang sering muncul di antaranya adalah batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan iritasi pada mata.

Warga melaporkan ketidaknyamanan akibat mata yang perih serta bau asap yang menyengat sampai masuk ke dalam rumah, terutama terjadi pada malam dan pagi hari saat kabut asap lebih pekat. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik tetapi juga menurunkan kualitas kehidupan sehari-hari masyarakat.

Penyebaran dan Intensitas Karhutla di Kalimantan Selatan

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan telah terjadi dengan frekuensi tinggi. Sampai bulan Agustus 2026, tercatat lebih dari 160 kejadian karhutla yang menghanguskan lahan seluas hampir seribu hektare.

Kecamatan Landasan Ulin menjadi wilayah paling terdampak dengan 66 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 417 hektare. Kecamatan Cempaka dan Liang Anggang juga menjadi kawasan terdampak besar dengan ratusan hektare lahan yang terbakar.

Penyebab utama dari karhutla ini antara lain pembakaran lahan secara tradisional untuk membuka lahan baru serta kondisi cuaca yang panas dan kering berkepanjangan yang memperparah risiko kebakaran. Selain itu, keberadaan lahan gambut yang mudah terbakar juga menjadi faktor penentu tingginya intensitas kebakaran. Kondisi lingkungan yang terus memburuk tanpa penanganan serius dapat memperpanjang durasi kebakaran dan memperbesar dampak kabut asap yang dihasilkan.

Kendala dan Risiko Aktivitas Sehari-hari Akibat Kabut Asap

Kabut asap yang tebal menyebabkan gangguan jarak pandang yang signifikan bagi pengendara di jalan raya. Keterbatasan jarak pandang ini meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas karena pengendara harus meningkatkan kewaspadaan secara ekstra dalam berkendara. Selain itu, gangguan kabut asap juga menjalar ke dalam rumah-rumah warga sehingga menurunkan kenyamanan dan kualitas udara di dalam ruangan.

Dampak kabut asap dirasakan juga oleh sektor pendidikan dan pekerjaan masyarakat. Anak-anak terpaksa absen dari sekolah karena mengalami gangguan kesehatan seperti batuk dan flu. Pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan juga mengalami risiko kesehatan yang lebih tinggi dan terganggu produktivitasnya.

Upaya Pemerintah dan Masyarakat dalam Penanganan Darurat

Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan telah mengambil langkah cepat dalam mengatasi dampak kesehatan akibat kabut asap. Salah satu bentuk mitigasi adalah pembagian masker secara masal kepada warga di beberapa kabupaten dan kota terdampak seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala. Masker yang dibagikan mencapai lebih dari seratus ribu lembar, dengan melibatkan seluruh satuan kerja perangkat daerah serta aparat terkait agar distribusi berjalan efektif.

Koordinasi antar instansi menjadi kunci utama dalam pengendalian karhutla. Pemerintah terus melakukan pemantauan intensif dan pergerakan tim pemadam kebakaran serta melaksanakan langkah-langkah strategis untuk menanggulangi kebakaran dan kekeringan. Kesadaran masyarakat juga ditingkatkan melalui edukasi penggunaan masker guna melindungi diri dari paparan asap. Penggunaan masker dianjurkan khususnya bagi mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah terjadinya penyakit pernapasan.

Secara kolektif, upaya ini diharapkan dapat mengurangi dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, sekaligus mempercepat pemulihan kualitas lingkungan di Kalimantan Selatan. Namun, penanganan yang cepat dan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mengatasi risiko yang terus meningkat agar kehidupan masyarakat kembali normal dan terlindungi dengan baik.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polisi Usut Kecelakaan Maut Mobil Tabrak Truk di Tol Jagorawi
• 1 jam lalu
0
thumb
Anak Sekolah di Tengah Kepungan Asap Kebakaran Hutan Kalimantan
• 5 jam lalu
0
thumb
Apresiasi Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas', Wali Kota Medan: Foto Jurnalistik Menggugah Empati dan Menciptakan Harapan
• 6 jam lalu
0
thumb
Dikta Wicaksono Menikah Diam-diam, Ariel NOAH Kaget hingga Mengaku Tak Tahu
• 18 jam lalu
0
thumb
Goldman Sachs Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga pada September 2026
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.