JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Lodewyk Pusung membeberkan sejumlah hal terkait pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat menjalani sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).
Dalam persidangan, Lodewyk membantah terlibat dalam proses pengadaan barang dan jasa di BGN.
Di sisi lain, dia mengungkap pembangunan tiga dapur MBG oleh keluarganya, penugasan pejabat BGN untuk mencari mitra, hingga menyebut eks Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang juga memiliki dapur MBG.
Lodewyk juga membeberkan pembangunan 82 dapur MBG pada tahap awal yang menggunakan anggaran Rp 110,8 miliar serta persoalan keterbatasan anggaran dan minimnya jumlah dapur saat program tersebut mulai disiapkan.
Baca juga: Lodewyk Ungkap Nanik S Deyang Punya Dapur MBG dan Kerap Catut Prabowo
Lodewyk bantah intervensi pengadaanLodewyk menegaskan jabatannya sebagai wakil kepala BGN tidak memberikan kewenangan kepadanya untuk mencampuri proses pengadaan barang dan jasa.
Dia mengaku bahkan tidak pernah diundang dalam rapat yang membahas pengadaan.
"Saya paham betul bahwa saya ini hanya wakil. Sehingga saya tidak mungkin mengintervensi pengadaan-pengadaan itu. Terus terang saya rapat pengadaan itu tidak pernah diundang. Saya tidak pernah ikut dalam rapat pengadaan," kata Lodewyk.
Lodewyk mengatakan hanya pernah memimpin satu rapat yang berkaitan dengan teknologi informasi (IT). Rapat tersebut berlangsung di Gedung Kementerian Pertanian dan membahas perangkat IT yang akan diserahkan kepada Perum Gizi.
"Saya ingat saya hanya satu kali saya memimpin rapat itu. Itu di gedung Kementerian Pertanian. Saya pimpin untuk membahas IT ya. Di situ terus dirumuskan IT apa yang mau diserahkan kepada perum gizi, itu perum gizi atau apa. Dan saya katakan di situ bahwa ini saya tidak akan ikut campur di tempat ini," ujarnya.
Menurut Lodewyk, proses pengadaan merupakan kewenangan pejabat yang memiliki tugas dan fungsi terkait, termasuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).
Baca juga: Lodewyk Ungkap 82 Dapur MBG Dibangun dengan Anggaran Hamba Allah
"Ini kalau saya dikatakan bahwa saya mengintervensi di pengadaan itu, mohon maaf saya katakan saya sama sekali tidak ada," sambungnya.
Dia mengakui mungkin saja ada pihak yang datang untuk meminta arahan.
Namun, Lodewyk mengaku tidak ingat pernah memberikan arahan terkait proses pengadaan.
Keluarga bangun tiga dapur MBGDi tengah bantahannya soal pengadaan, Lodewyk mengungkap keluarganya justru membangun tiga dapur untuk program MBG.
Tiga dapur tersebut berada di Kaima, Paslaten, dan Lopana, Amurang.
Menurut Lodewyk, pembangunan dua dapur di Kaima dan Paslaten menggunakan pinjaman dari Bank Mandiri.
"Karena dapur yang saya bangun di Kaima dan di Paslaten itu saya bayar kepada ada pemborongnya Bapak Andi yang di Kaima itu Rp 1,2 M, yang di Paslaten Rp 1 M, itu pinjam dari Bank Mandiri, Yang Mulia. Uang itu," kata Lodewyk.
Baca juga: Lodewyk Pusung Ungkap Pejabat BGN Ditugaskan Cari Mitra Dapur MBG
Sementara dapur di Lopana, Amurang, disebut telah selesai dibangun tetapi belum beroperasi karena masih menyelesaikan sejumlah persyaratan administrasi.
"Yang di Amurang itu sudah selesai tapi belum beroperasional karena masih administrasi-administrasi yang harus diselesaikan," ujarnya.
Lodewyk membantah pembangunan tiga dapur tersebut berkaitan dengan posisinya sebagai pejabat BGN.
"Kalau soal saya mentang-mentang saya pernah punya jabatan di sini. Enggak ada, semua sesuai prosedur," kata dia.
Lodewyk menjelaskan pembangunan dapur oleh keluarganya tidak terlepas dari kondisi BGN saat itu yang kesulitan mencari mitra.






Komentar (0)